Ruangan kamar itu diselimuti Keheningan.
Bukan. Pemiliknya bukan tak ada, hanya saja keduanya tengah sibuk dengan dunianya masing-masing.
Duduk di atas ranjang.
Senja sibuk dengan laptop miliknya. Lain halnya dengan Claira yang dari tadi duduk diam di pangkuannya, memeluk tubuhnya.
Tak ada suara obrolan satu kata pun keluar dari mulut keduanya. Membuat kamar itu senyap akan suasana damai. Tapi, tidak dengan pikiran keduanya yang mungkin malah sebaliknya. Terlebih saat pengakuan Claira kemarin membuat keduanya lebih banyak diam? Tak banyak berbicara dari biasanya.
Sedari tadi, Claira tak merubah sedikitpun posisinya. Gadis itu masih memeluk tubuh Senja dengan kepalanya yang ia tumpukan pada bahu Senja. Menyembunyikan wajahnya membuat senja kesulitan mencuri pandang kearahnya.
"Clair...." panggil senja pelan.
"Apaa?" Ucap Claira tanpa merubah posisinya.
"Gakk" Ucap senja. Dan langsung dibalas decakan kesal dari Claira membuat Senja kontan terkekeh pelan.
Tak ada obrolan kembali. Keduanya kembali memilih diam.
Sesekali senja mendaratkan kecupan-kecupan ringan pada bahu terbuka milik Claira. Mengecupnya lembut dan hangat ditengah-tengah tangannya sibuk berselancar pada keyboard laptop. Sementara si empu yang merasakan kecupan-kecupan ringan pada bahunya itu hanya diam membiarkan. Karena apa yang dilakukannya sekarang tak jauh berbeda seperti yang saat ini kekasihnya lakukan.
Mesum. Mungkin itu sifat tersembunyi Claira yang hanya ditunjukkan pada Senja. Karena, setiap aksi yang menjurus ke dua puluh coretan plus Claira lah yang selalu mulai lebih dulu. Seperti yang saat ini dilakukannya sekarang. Hidungnya terus menerus menghirup aroma wangi tubuh Senja dan tangannya yang tak berhenti bergerak di dalam kaos milik senja. Mengelus punggung itu lembut nan sensual.
"Eh itu tangannya mau ngapain?" Ucap senja dengan kerutan di dahinya tatkala merasakan tangan Claira yang menyentuh kaitan bra nya. "Clair?!" Serunya kembali ketika dirinya benar-benar merasakan kaitan bra miliknya itu mengendor, terlepas.
Claira sedikit memundurkan kepalanya guna menatap wajah Senja. Setelahnya menampilkan senyuman khasnya. "Ngalangin sih." Ucapnya dengan tangannya yang tak berhenti mengusap punggung Senja yang sekarang sudah polos tanpa terhalang tali bra seperti tadi.
"Kaitin lagi."
"Iyaa nanti."
"Claira...!"
"Iya nanti ale.... Kamu yang anteng aja ciumin bahu aku." Balas Claira kembali menyembunyikan wajahnya di bahu Senja. "Atau mau aku buka tanktop sama bra nya? Biar kamu makin leluasa cium bahunya."
Kesal sekaligus gemas mendengar penuturan Claira. Senja langsung memegang wajah Claira. Membawa wajah itu berhadapan dengan wajahnya dan sedetik kemudian bibirnya mencium cukup dalam dan lama dahi milik Claira.
Claira tertawa. Sama halnya dengan senja yang juga ikut tersenyum setelah melepaskan ciumannya dari dahi Claira.
"Bibirnya gak di cium?" Tanya Claira.
"Kaitin dulu tali bra nya."
"Oke tapi tebak dulu. Bra aku warnanya apa?"
Seketika Senja menatap Claira malas. Warna bra milik kekasihnya itu nampak amat jelas terlihat. "Warna item."
"Kok tahu sih..."
Senja berdecak pelan. Tanpa ba-bi-bu tangannya langsung menarik tali bra milik Claira. "Ini... keliatan jelas sayang...!" Serunya seraya sedikit menarik tali bra tersebut ke arah wajah Claira, bermaksud memperlihatkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Why?
Novela Juvenil"Ale" "Apa?" Tanya senja singkat. "Darrell---" "Kamu suka sama Darrell?" Claira menggeleng cepat "Lebih tepatnya aku gak suka sama dia" "Kenapa?" "Karena dia mau ngambil kamu dari aku" Ucap Claira "Aku gak mau waktu kamu lebih banyak sama dia" Sen...
