Tiga puluh delapan

3.2K 141 20
                                        

"Clair.... "

Si empu yang namanya di sebut itu menoleh, menatap bertanya pada sang kekasih.

"...... Aku tunggu di sini aja yaa" Lanjut Senja.

"Kenapa?" Tanya Claira.

Hening tak ada balasan. Membuat Claira tersenyum tipis menatap wajah kekasihnya. Dirinya amat sadar akan masalah yang saat ini tengah menganggu pikiran Senja-nya itu.

"Ini cuma acara makan malam biasa, dan kalo kamu gak ikut itu sama aja kamu nolak ajakan mommy." Ucap Claira. "Dan... Secara gak langsung kamu ngebuat aku harus bilang ke mommy kalo aku gak bisa hadir ke acara makan malamnya."

"Hah?"

Claira tersenyum. "Yaa kalo mommy gak nyuruh aku buat ajak kamu juga aku gak bakal mau ikut makan malam itu."

Senja terdiam sejenak. "Jadi?..... Maksudnya?...."

"Heum berarti kamu yang harus di salahin atas gak ikut dan hadirnya aku ke acara makan malam itu."

"Tunggu!! Jadi maksudnya secara gak langsung kamu jadiin aku kambing hitam?!"

"Eum mungkin secara gak langsung sih iyaa.." Balas Claira menampilkan cengiran khasnya seraya kedua tangannya menangkup gemas wajah Senja yang tengah menatap kearahnya tak percaya.

Senja berdecak pelan, menggigit pelan bagian dalam tangan Claira yang masih berada di wajahnya sebelum memutar tubuhnya. Membuka pintu mobil dan beranjak keluar. Meninggalkan Claira yang masih terdiam kaget di dalam mobil.

Claira masih terdiam, sebelum suara ketukan pada kaca mobilnya menyadarkannya. Matanya mengerjap pelan, menatap Senja yang berdiri di luar di samping mobilnya. Segera ia beranjak menghampiri Senja-nya, menyimpan kedua tangannya di pinggang Senja, sedetik kemudian bibirnya mencium cepat lipatan bibir Senja.

Claira tersenyum senang. Beda halnya dengan Senja yang langsung melebarkan matanya dan memandang ke arah sekelilingnya takut-takut akan ada manusia lain yang melihat kejadian beberapa detik lalu itu.

"Gak ada yang liat juga." Ucap Claira. Sadar akan arti ekspresi yang diperlihatkan kekasihnya itu.

"Ada."

Mata Claira melotot. Sedetik sebelum matanya ia arahkan ke sekitarnya. Tapi, nihil dirinya tak menemukan siapapun. Kecuali mobil yang terparkir rapi. "Mana? Gak ada ju--"

"Tuhan."

Bibir Claira seketika tertutup rapat. Menatap tanpa ekspresi kekasihnya yang tengah menampilkan senyumannya. Selalu, senyuman itu selalu terlihat manis dan indah, tapi tidak untuk kali ini. Ia mengangkat tangannya, sebelum mengacungkan jari tengahnya ke arah Senja. Membuat Senja yang melihat kelakuannya itu kontan tertawa.

"Aku mau pulang ajalah!!"

Senja menghentikan tawanya. Oke, kekasihnya marah dan kesal sekarang. Segera ia meraih tangan Claira. "Terus makan malamnya?"

"Gak mood." Ucap Claira cuek tanpa menatap lawan bicaranya.

Kembali, Senja hanya bisa tersenyum tipis melihat kelakuan kekasihnya itu. Sebelum tangannya bergerak membawa tubuh yang hampir sama tingginya dengan dirinya itu masuk kedalam pelukannya. Memeluk tubuh itu erat untuk beberapa detik, sebelum sedikit meleraikannya, untuk mencium bibir Claira-nya. Tapi itu hanya untuk beberapa detik karena Senja langsung menjauhkan bibirnya tatkala merasakan pergerakan bibir Claira pada bibirnya. Karena, jika dibiarkan dirinya tak yakin akan butuh berapa menit ciuman itu benar-benar berakhir. Terlebih ini masih di luar publik.

"Ale aku belum lumat bibir kamu."

"Mulutnya nakal banget astaga."

"Salah kah? Perasaan... kamu suka makan mulut aku juga."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 08, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Why?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang