- PART 34 -
...
Bersiap sudah, beli cemilan juga sudah, akan tetapi Jessi yang berkendara bersama Freya memilih berhenti di dekat pintu masuk. Beberapa menit Jessi memperhatikan, kini ia merasa suasana semakin ramai ketika melihat beberapa kendaraan mulai memasuki arena. Musik bass yang menghentak sayup-sayup mengudara, sementara lampu-lampu neon berkelap-kelip seakan berpacu dengan irama musik.
Mellirik sang kekasih disebelahnya, Jessi akhirnya mengendarai mobilnya untuk memasuki arena setelah sang kekasih mengangguk. Sang kekasih, Freya, sesekali melirik ke arah Jessi, yang tampaknya sedikit canggung berada di tempat yang penuh hiruk-pikuk seperti ini.
"Cici oke?" tanya Freya, membuat Jessi menoleh sebentar masih sambil berkendara untuk memberi sinyal kalau ia mendengarkan.
Jessi mengangguk, "Aman, Fe. Di sebelah mana paddock abang-abang kamu?"
Freya tersenyum lembut. "Pintu masuk, ke kanan." Masih sambil tersenyum dan kini menatap Jessi terang-terangan, Freya kembali berujar. "Kalau cici nggak nyaman, kita bisa pergi kok. Ini cuma arena, bukan tempat yang harus cici suka."
Jessi menatapnya dengan mata penuh kehangatan. "Maksud kamu, kita bisa pergi kapan aja kalau aku nggak nyaman?" Dia agak menggoda.
"Bener," jawab Freya, tersenyum nakal. "Tapi cuma kalau cici minta."
Jessi tertawa pelan, lalu menepuk pundak Freya. "Aduh, gemes banget anak kecil!"
Mereka berjalan lebih jauh mengarah ke paddock, jauh dari hiruk-pikuk kerumunan, khususnya orang-orang yang akan menonton pertandingan balap. Di sana, Jesslyn, Olla, Lulu, dan yang lainnya sudah menunggu di meja yang cukup besar. Tumpukan makanan ringan seperti popcorn, keripik, dan beberapa minuman sudah tersedia di atas meja. Beberapa orang tampak sibuk memilih makanan yang akan mereka nikmati.
"Eh, Freya, Jessi, sini!" seru Olla, menarik kursi di sampingnya. "Lo berdua mampir kemana? Perasaan tadi kita semua bareng."
Jessi tidak menjawab, dia menarik sebuah kursi untuk ditempati oleh Freya.
Lulu yang duduk di sebelah Olla langsung melirik Jessi dan Freya dengan tatapan tajam, sebelum berkata, "Kalian gak melakukan hal aneh, kan? Awas aja ya Jes!"
Freya hanya mengangkat bahu, melirik ke arah Jessi yang tampak sedikit gugup. "Kenapa kalian posesifin aku sekarang? Aneh"
Jessi tertawa kecil, menyembunyikan sedikit rasa canggung. "Itu berarti, semua sayang sama kamu"
Olla mengangguk, sambil berbisik pada Lulu. "Dulu Jesslyn gini juga gak sih pas sama Amir?"
"Kagak lah, kan mereka mah backstreet, kita aja tau belakangan kan?"
"Oh iye juga!"
Sementara suasana semakin hidup dengan tawa dan obrolan ringan para perempuan. Namun, di sudut lain, para lelaki tampak lebih serius. Amiral, Fadel, Floren, dan Cornelio sudah mulai merencanakan strategi untuk balapan malam ini. Mereka duduk berdiskusi dengan suara yang sedikit lebih rendah, saling berdebat tentang bagaimana cara memaksimalkan performa mobil mereka.
"Lo udah ngetes setting-an mobil lo belum, Flo?" tanya Amiral, menatap sahabatnya dengan serius. "Kalo belum, mendingan lo cek dulu sebelum balapan dimulai."
Floren mengangguk sambil memeriksa ponselnya. "Udah, tadi pagi sempet ke sirkuit kecil buat uji coba. Cuma masih ragu sama transmisi. Mungkin perlu adjust di lap pertama."
Fadel yang duduk di sebelahnya menyela, "Gue sih udah siap, cuma yang gue khawatirkan bannya. Gimana kalo tekanan bannya nggak stabil di tikungan-tikungan tajam?"

KAMU SEDANG MEMBACA
DOUBLE J
FanfictionApa jadinya kalau kamu punya saudara kembar, tapi terpaut dua tahun pendidikan? Yaa gitu dah.. (Note : Buat para pembaca versi pertama cerita ini, mohon maaf Daee gak mau lanjutin alurnya. Semoga versi ini tetap bisa menghibur yaa..)