52

869 64 29
                                        

"Luffy! Luffy!!!"

Teriakan Zoro semakin kencang, namun teriakan itu ditelan kegelapan yang lebih gelap daripada malam tanpa bintang dan bulan.

"Tuanku."

Zoro, tidak, Draken terengah, meraba dalam gelap yang kosong. Di mana semua orang? Kenapa tiba-tiba saja kapal mereka terombang-ambing lalu semuanya menjadi hitam? Mata vertikal itu mencoba mencari satu sosok, menoleh ke sana ke mari. Akan tetapi tidak ada apa pun yang dia temukan. Jangankan sosok Luffy, seolah dia berada di ruang hampa; udara bahkan tidak berhembus.

Sementara itu, Nami, Sanji, Robin, Sabo, dan yang lain terbaring di atas rumput hijau. Tidak ada satupun dari mereka yang sadarkan diri. Padang rumput itu cukup luas, rumputnya tidak panjang dan tidak kasar. Jika berbaring di atasnya, rasanya seperti diselimuti beludru yang halus. Aroma bunga yang tumbuh di sela-sela rumput beterbangan dibawa angin, membelai kru mugiwara dan Sabo seolah menyuruh mereka untuk tetap terlelap.

Apa yang sebenarnya terjadi setelah mereka meninggalkan pulau terakhir tempat mereka berlabuh? Setelah kapal berlayar selama sehari, angin laut begitu tenang. Tidak ada yang mengira kapal yang membawa mereka akan menghilang di dalam tabir, yang mungkin di dunia hal seperti itu tidak pernah nyata.

Sebenarnya berapa banyak misteri yang mereka temui? Apakah itu berkaitan dengan Luffy dan Zoro? Pertanyaan itu pasti membayangi siapa pun yang sadar, namun sayangnya, tidak ada yang terbangun untuk mencari jawabannya. Mereka yang tertidur tidak akan sadar siapa Luffy dan Zoro di tengah semua ini.

Sementara yang lain tertidur, Zoro terdampar dalam gelapan. Luffy, apa yang sebenarnya dia lakukan? Angin menyentuh wajahnya, tapi menyebutnya menyapu terasa kurang tepat. Angin itu seolah membelai wajahnya yang diliputi kebingungan.

"I...ini.... Tidak mungkin. Ini nyata?"

Luffy memegangi kepalanya, jari-jarinya mencengkeram rambutnya dengan putus asa. Bahkan angin sejuk yang menyentuh wajahnya diabakan begitu saja. Dalam ingatannya, sosok JoyBoy dalam dirinya tertawa lepas bersama seseorang. Latar waktu di ingatannya bergeser. Ia mengingat perdebatan dengan sosok yang sama, di bukit ini, tempat ia berdiri sekarang. Seolah tidak ada yang berubah, Luffy merasa seperti dia kembali ke masa lalu.

"S-sakit. Sialan! Apa ini?"

Luffy memandang ke sekeliling, tapi tak ada siapa pun di sana. Teman-temannya... semuanya menghilang.

Luffy memejamkan mata erat-erat, kedua tangannya masih mencengkeram rambutnya seakan itu bisa meredakan rasa sakit yang mencengkeram kepalanya. Pandangan di depannya kabur, bercampur dengan kilatan ingatan yang menghantam tanpa ampun. Sesuatu yang jauh di masa lalu menyeruak di benaknya, membuat dadanya sesak.

Apa ini? Perang? 800 tahun yang lalu?. JoyBoy, ancaman bagi dunia, orang-orang yang menghilang, semuanya berkelibat seperti bayangan kabur dari pikirannya. Seolah ada sesuatu yang ingin dia pahami, tapi tertahan di balik kabut tebal yang tak bisa ia tembus.

"Apa ini... mengapa rasanya aku pernah berada di sini sebelumnya?" gumam Luffy, hampir tanpa suara.

Dia tidak pernah terlalu memikirkan masa lalu. Baginya, hidup adalah arus yang terus mengalir ke depan. Berbeda dengan Robin, yang setiap detail masa lalu ia simpan dengan rapi seperti lembaran buku. Tapi sekarang, ingatan-ingatan kecil itu datang tanpa permisi, dan untuk pertama kalinya, Luffy ingin mengingatnya.

Sosok samar melintas di pikirannya—seseorang yang berdiri di tempat ini bersamanya. Dadanya terasa mual, kepalanya berdenyut, dan tubuhnya seolah-olah menolak mengingat lebih jauh.

"Siapa pria itu? Dia... temanku?" bisiknya, suaranya gemetar.

"Kau mengingatnya?"

Sebuah suara menggema, tenang tapi mengintimidasi. Luffy menoleh dengan tergesa-gesa, tapi tak ada siapa pun di sana. hanya angin yang dingin, bukit kosong, dan dirinya yang kini terjebak di antara masa lalu dan kenyataan.

UntitledTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang