53

320 31 20
                                        

"Perang?"

Salah satu pejabat kerajaan, menteri keuangan, berdiri dari kursi dan berbicara dengan nada tinggi. Dia terlalu terkejut untuk menunjukkan sikap tenang.

"Ah, maaf." Dia kembali duduk di kursinya, dan menghela nafas pelan. Perang, katanya? Aetherion tidak pernah mengusik kerajaan lain. Kerajaan yang mengembangkan berbagai teknologi dan ilmu pengetahuan, membuat tanah tandus yang tidak memiliki harapan bahkan untuk rumput yang tumbuh menjadi tempat yang subur. Tanah terbengkalai yang bahkan kerajaan lain enggan untuk mengambil atau mengolahnya kini menjadi tanah hijau dengan hasil panen berlimpah. Aetherion menjadi negara yang lebih maju dari negara lain, hanya itu. Dan negara-negara tetangga ingin perang mengepung Aetherion? Omong kosong apa ini? 

Hari itu, angin musim dingin lebih dingin dari  biasanya. Gerbang kerajaan yang selalu terbuka lebar, hari itu dengan kesadaran penuh, tertutup sepenuhnya. Namun petinggi yang selama ini selalu bekerja keras, bersembunyi di balik bayang hitam. Dikendalikan entitas yang sebenarnya menjadi bencana hilangnya Aethereon. Tidak menunggu waktu lama, api perang pun menyala. Aetherion musnah.

***** 


"Kita di mana?" Wajah Nami diterpa sinar mentari. Rambut oranyenya acak-acakan, seolah baru saja berkelahi dengan tetangga.

Padang rumput itu terasa aneh—rumputnya lembut, pendek, dan di sela-selanya tumbuh bunga-bunga kecil warna pastel. Robin berdiri, dress-nya bergoyang tertiup angin. Pandangannya menyapu seluruh pemandangan: bukit kecil, sungai jernih, padang bunga cosmos yang merekah, kupu-kupu beterbangan, burung bernyanyi, dan pohon buah yang tingginya hanya dua meter. Robin mulai berpikir dan berkata, "Apakah kita di surga?" Alih-alih di dalam perut ikan raksasa Grand Line yang mungkin telah menelan kapal mereka.

Di sisi lain, Siryu terbangun. Ia duduk di atas rumput dengan wajah bingung, dan—anehnya—di kepalanya melingkar mahkota bunga. Ia tampak seperti raja peri di padang bunga... kalau saja wajahnya tidak sechaos itu.

"Aku kira aku bermimpi," ucapnya datar. Semua orang menoleh.
"Aku dinobatkan jadi raja peri."

Semua orang: "....."

Tak jauh dari situ, Usopp baru membuka mata, sementara Chopper masih tidur pulas di samping "raja peri" barunya. Siryu menatap Chopper yang entah terlihat lebih kecil seperti bayi, jari di mulut, pipi menggemaskan. Pipi Siryu memerah. "Aduh, bayiku..."

"....."

Siryu menunduk, mencoba menggendong Chopper. Mahkotanya jatuh, dan ia panik.
"Mahkotaku yang suci!"

"...."

Chopper menggeliat dalam gendongan Siryu, sementara semua masih terdiam.
Hening aneh menyelimuti.

"Yohohoho! Kapten kita di mana?" suara Brook memecah keheningan.
Sabo langsung menoleh panik.
Sanji ikut menatap sekitar. "Marimo juga gak ada."

"Jangan-jangan Luffy ditelan ikan besar," kata Robin santai sambil menopang dagu.
"Dan Zoro tersesat ke neraka, sedangkan kita di surga."

"Hentikan, Robin!" protes Nami dan Usopp bersamaan.

Sementara itu Siryu masih menimang Chopper seperti ibu muda, sebelum mahkotanya terbang tertiup angin. "Mahkota kuuuuuu!" teriaknya, berlari sambil tetap menggendong Chopper.
Franky baru bangun dan melihat adegan itu, "Superrrrrr! Di mana ini?"
Ia melongo melihat Siryu mengejar mahkota bunga. "...Mungkin ini mimpi orang demam," gumamnya, lalu tidur lagi.

Padang itu terlalu indah, terlalu asing.
Sabo memanggil-manggil adiknya, Robin dan Nami berjalan santai ke sungai, ikan-ikan kecil berwarna-warni berenang melawan arus—arus kehidupan. Sanji dan Usopp sibuk memetik buah—sementara Siryu masih mengejar mahkota yang tak berhenti terbang ditiup angin, Chopper tetap di gendongannya seperti boneka hidup.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Nov 06, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

UntitledTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang