"Tuan Aldhof meminta Nyonya untuk ke ruang kerjanya" ujar Ana, penasihat pribadiku
Ah, Dia bahkan bukan seperti seorang penasihat kini. Namun seperti orang yang ditugaskan merawat orang gila
"Apa Edgar sudah berbicara mengenai kepulangan Kami kepada Kakek?"
"Sudah Nyonya"
"Lalu dimana Dia sekarang?"
"Tuan Edgar tengah mengemasi barang-barangnya, Nyonya"
"Baiklah. Bawa Aku menuju ruangan Kakek"
.
.
"Masuklah" sahut Kakek dari dalam setelah seorang penjaga melantunkan namaku
Aku menatap Pria tua yang masih bugar itu, namun umur memang tak dapat disembunyikan perlahan fisiknya mulai melemah, "Aku akan segera pergi, Kakek" ucapku tenang menatap Kakek yang tengah gusar
"Kenapa Kau memutuskan keputusan bodoh ini?! Bahkan Kau tak repot untuk menanyakan pendapat Kakek?! Apa Kau begitu mencintai Pria yang selalu memperlakumanmu dengan buruk itu?! Matamu sudah tertutup ya?"
Kakek bahkan tidak repot-repot menyembunyikan kemarahannya.
"Kakek, Aku memutuskan ini bukan karna Aku mencintainya. Namun, Aku tak tau kapan penyakit ini mengambil alih diriku. Aku bahkan sering hilang kesadaran secara tiba-tiba, sekejap Aku linglung dan sekejap Aku tak tau apa yang terjadi. Terkadang degup jantungku berpacu cepat dengan kecemasan yang membuat kepalaku ingin pecah rasanya. Aku bahkan tak dapat mengendalikan diriku lagi, Kakek." Aku berjalan mendekat pada Kakek dan duduk di hadapannya
"Kakek, Aku tidak ingin menjadi aib bagi nama besar yang sudah lama Kau harumkan itu, sungguh hina jika nama Caviar tersemat dibelakang nama orang tak waras sepertiku. Kakek bahkan begitu susah payah untuk sampai di titik ini. untuk segala darah yang telah tumpah, dan untuk semua luka yang berbekas seumur hidup padamu, dan untuk semua tekanan perang yang membuat Kakek frustasi, Aku tak ingin mengotori nama Keluarga yang dijaga dengan darah ini. Aku tak ingin memberikan kesempatan pada musuh Kakek untuk memanfaatkan kelemahanku ini untuk mengancam Kakek. Jangan buat segala upaya Kakek menjadi sia-sia dengan tetap mempertahankan Aku disini. Memang kini Kita berhasil menyembunyikannya. Namun semua musuh Kakek di luar sana akan dapat mengendusnya sewaktu-waktu"
Kakek menatapku dalam, matanya berkaca-kaca, "Aku seperti melihat Ibumu saat Kau seperti ini, bagaimana Dia juga begitu meyakinkanku untuk merestui hubungannya yang sangat ku tentang itu. Dan kini Kau juga akan menjadi sepertinya?"
"Aku pergi bukan untuk meninggalkan, Kakek. Namun Aku pergi karna tak ingin semua hal yang terjadi ini membuat Kakek menjadi kesulitan. Hal ini juga bukan karna Aku sangat mencintai Edgar, sejujurnya Aku sering tidak sadar dengan apa yang terjadi. Aku bahkan sering lupa dengan apa yang baru saja terjadi, bagaimana Aku akan selalu memujanya? Bahkan Aku sering melupakan hal yang baru saja kulakukan. Bagaimana Aku masih begitu memuja perasaanku padanya? Biarkan semua ini menjadi tanggung jawabnya Kakek, karna semua ini dimulai olehnya, Dia yang membuatku menjadi seperti ini. Biar ini menjadi penderitaannya sepanjang sisa hidupnya" Aku menatap kosong pada Kakek yang melihatku dengan sendu. Dia tampak putus asa mungkin karena Dia datang sangat terlambat untuk membawaku keluar dari neraka hingga Aku menjadi seperti ini
"Percayalah Kakek, Aku akan menjadi aib memalukan yang akan selalu membayang-bayangi langkah Edgar Vaske"
Kakek memalingkan wajahnya dariku, dapatku lihat Ia dengan kasar menyeka matanya. Apakah Dia baru saja menangis?
"Kau boleh pergi, Namun! Bawa Ana dan pengawal bayangan yang Kau minta pada Kakek itu!" Dia berucap tegas dengan pandangan tajam "Kakek hanya meminta itu padamu selama ini kan? tentu tak sulit bagimu"
KAMU SEDANG MEMBACA
Edgar Vaske
Fantasy{FOLLOW SEBELUM MEMBACA!!} **** "Kau sentuh sedikit saja rambutku maka Aku akan melakukan hal yang sama atau mungkin lebih parah pada wanitamu!" "Beraninya Kau?!" "Kenapa?! Kenapa Aku tidak berani hah?! Apa karna Dia Calon Putri Mahkota?! Apa karna...
