32

3.1K 235 58
                                        

"Kenapa akhir-akhir ini Nyonya sering sekali duduk di dekat jendela ini dan menatap serius pada gerbang pintu masuk kastil?" Ana penasihat pribadi Lauren tak sanggup menyembunyikan keingintahuannya

"Tidakkah Kau merasa aneh untuk pria tua itu?" Lauren mengisyaratkan dengan dagunya untuk melihat keluar jendela

"Apakah yang Nyonya maksud bawahan kepercayaan Grand Duke?"

"Benar, siapa lagi selain Dia yang merasa sudah menggenggam segala-galanya hanya karna ditempatkan sebentar di posisi yang bagus"

"Aku tidak mengerti, apa yang hendak Nyonya katakan?"

"Matanya, begitu haus akan kekuasaan. Dia berlagak diatas langit dengan jabatan yang sangat sepele itu. Tak dapat ku bayangkan jika posisi yang diberikan kepadanya lebih tinggi sedikit dari ini. Apa Ia akan merangkak menjilat kaki Kaisar?"

"Menurut Nyonya apakah dia merencanakan sesuatu?"

"Kau tau, tabib wanita yang sempat ku ceritakan padamu itu adalah keponakannya. Tabib wanita yang membuat Edgar terpaku dan tidak fokus sejenak,, tabib wanita yang membuat Ia sekejap lupa akan kehadiran Maddyia Fello. Wanita itu adalah keponakan pria tua itu"

"Aku ingat!! Setauku kini dia menjadi tabib pribadi Ibu suri" Ana menutup mulutnya terkejut, "Apakah mungkin Dia berencana menyatukan Tuan Edgar dan keponakannya?"

"Ya. Aku begitu penasaran sejauh mana Ia berani mengujiku. Kupikir gosip itu telah sampai ke telinga para petinggi wilayah kekuasaan Aaron Vaske ini. Menurutku Dia juga sudah berhasil menghasut para petinggi untuk mendesak Grand Duke"

"Nyonya... apakah Dia akan menjadikan sakit yang anda derita untuk menjatuhkan anda?"

"Apa lagi kelemahanku selain itu, namun Dia berani mencoba mencari celah disela-sela besarnya nama keluargaku? Beraninya Dia menyandingkan keponakannya denganku? Siapa mereka?! Kekaisaran mana yang telah menjadi milik mereka? Memang, bangsawan kelas bawah itu jika menempati posisi yang sedikit lebih tinggi mereka menjadi lupa diri"

Ana masih mencerna semua yang sedang terjadi, Ia mencoba berfikir tenang dan mencari jalan keluarnya agar hal sepele ini tak menganggangu tuannya.

******
Edgar telah sampai di kediaman keluarga Vaske. Ia begitu lelah karna telah bertarung dengan pemberontak diperbatasan selama dua minggu penuh.

Tak dapat menemukan Lauren di sela-sela orang-orang yang menyambutnya, Edgar sedikit kecewa. Namun panggilan dari Ayahnya untuk menuju ruang kerjanya membuat keningnya mengkerut, pasti ada hal yang serius pikirnya.

"Kau pasti sangat lelah" ucapan pembuka Aaron setelah mereka berdua duduk dengan santai di ruang kerja Aaron

"Ada apa Ayah? Apakah ada hal yang begitu mendesak?"

"Para bawahan kepercayaanku mulai banyak berbicara terkait masa depan takhta yang akan Aku wariskan untukmu Edgar" Aaron berucap tenang dengan nada yang sedikit menajam

Kening Edgar mengkerut "Apa yang mereka bicarakan?"

"Mereka mencemaskan penerusmu nantinya"

Edgar tersentak, Ia tak percaya pertanyaan yang selalu Ia pikirkan dalam kepalanya itu akan secepat ini ditanyakan oleh ayahnya.

"Belum saatnya Ayah, tapi tentu Aku akan memiliki penerus"

"Namun mereka begitu khawatir dengan anak yang dilahirkan oleh Lauren. Mereka berpikir Anak kalian akan cacat dan tidak sehat"

Edgar spontan menyentak meja dengan keras, nafasnya menggebu otaknya serasa mendidih, "Dimana mereka mendapatkan keberanian mengucapkan hal itu, Ayah??! Dimana mereka mengais rasa berani itu?! Beraninya mereka berfikir untuk mengendalikanku?"

Edgar VaskeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang