34

861 82 4
                                        

Aku mengundang wanita itu -wanita yang digadang-gadang akan menggantikan posisiku, ia terduduk kaku dihadapanku, kami tengah minum teh di paviliun di sekitar kediamanku dan edgar.

Ku tatap tajam ke arahnya yang sialnya masih berani duduk dihadapanku dengan dagu terangkat.

"Apa yang kau miliki hingga kau begitu berani mendambakan kursi kebesaranku? Kau bahkan berangan-angan menjadi Grand Duchess di kekaisaran ini?"

"Aku adalah tabib untuk keluarga kaisar, masa mudaku disibukkan dengan mempelajari banyak hal" ia dengan berani menyombongkan diri dihadapanku

"Lalu kau pikir itu cukup?, kau tau yang menyisiri rambutku di istana adalah putri seorang viscountess yang tentu tingkatan sosial keluarganya lebih tinggi darimu. Beraninya kau yang posisi keluargamu bahkan lebih rendah dari pelayanku untuk berdiri sejajar denganku? Darimana kau mendapatkan nyali sebesar itu?! Bagaimana bisa pamanmu begitu percaya diri? Kau bahkan berandai-andai melahirkan Putra untuk sang Duke? Kalian keluarga menyedihkan yang bercita-cita untuk kaya tanpa berjuang ya?" Ku hadiahi wanita ular di depanku ini senyum penuh merendahkan, untuk beribu kali mengingatkan posisinya

"Setidaknya aku tidak memiliki gangguang kejiwaan, bahkan tanganmu penuh darah! Kau menghabisi nyawa mantan Putri Mahkota!" Kesabarannya mulai hilang, dengan berani ia meneriakiku

Ku tampar keras pipinya, hingga dengan sigap pelayanku memegangi kedua tangannya agar Dia tak memberontak, ku ulangi lagi namun dengan tenaga penuh kekesalan, ku tampar ia hingga aku merasa puas hingga pipinya lebam dan darah menghiasi sudut bibirnya, "jika kau mengetahui hal itu, lalu kenapa kau masih berani? Mengapa kau masih berusaha? Kau pikir kau wanita terhormat hanya dengan menjadi tabib keluarga kaisar? Kau pikir aku tak dapat menghancurkan reputasimu? Kau pikir setelah aku menghabisi nyawa mantan permaisuri namun setelah itu semuanya senyap bahkan kalangan bangsawan tak ada yang berani membicarakannya, kau masih berandai-andai menggantikan posisiku dengan segala hal yang bahkan tak akan pernah dapat kau bandingkan denganku, kau tentu tau siapa aku. Kau tau!!" Ku dongakkan kepalanya dengan dia yang tengah berlutut dihadapanku dan kutekankan setiap kata untuk menghina wanita penuh hina ini.

"Kau wanita kasar!!!" Ia meneriakiku, lagi

"Taukah kau, bahkan aku tak ingat namamu. Namun tentu namaku selalu ada dikepalamu kan? disitulah bedanya kita.. kau mengingat dan aku diingat, setelah keluargamu yang tak ada apa-apanya itu bangkrut kau bermimpi buruk untuk membayangkan hidup susah oleh karena itu pamanmu adalah tempat satu-satunya bagimu untuk menggapai keluarga Grand Duke.. ck ck, malang sekali kau, bahkan kedua orang tuamu masih hidup namun tak ada apa-apa yang tersisa.. lihatlah ayahku, meski kaisar tua bangka itu tak begitu menyayangiku ia bahkan meninggalkan tambang permata atas namaku, yang bahkan sampai kapanpun uang seluruh keluargamu tak akan mampu membelinya meski hanya setengah hahhahahahh"

Aku terkikik begitu lama, sudah lama aku tidak tertawa selepas ini..

"Kau pembunuh!!! Kau pembunuh!!!"

Sebutan itu, sebutan itu... wanita jalang ini cukup berani, ia harusnya bersyukur aku masih menahan diri namun ia memilih dihadapi oleh kegilaanku.

"Rantai tangan dan kakinya! Lalu ikat dia di gerbang utama istana kita!" Aku meneriaki prajuritku untuk menggantung wanita itu di gerbang utama kediaman kami, akan kunpertontonkan ia kepada pamannya dan semua pengikut sialan pamannya itu, bagaimana ketidakberdayaannya ketika tangan dan kakinya diikat di depan gerbang kediamanku! "Seret dia dan perlakukan jalang ini seperti tahanan! Jangan beri belas kasihan kalian"

Wanita itu kembali meronta-ronta dan menyumpahi namaku yang berlalu pergi dari sana.

****

Pintu kamarku dibuka paksa dan sedikit tergesa-gesa, aku kenal Pria serampangan ini. "Lauren.. aku hanya meminta lakukan dengan hanya meremehkan ia dan menyadarkan posisinya.. kenapa kau mengikatnya di gerbang utama?" Edgar sedikit cemas takut aku hilang kendali lagi, ia mungkin trauma dengan apa yang aku lakukan pada maddy. Namun kali ini aku tak ingin tanganku kotor lagi.

"Dia meneriakiku pembunuh, bersyukur aku tidak menghabisi nyawanya"

"Pamannya begitu marah, Ayah mengundang kita menuju Aula"

Aku berdiri dengan tenang, "Kalau begitu ayo pergi"

"Tidak! Kau akan menjadi sasaran kemarahan pamannya dan antek-anteknya. Aku yang akan menghadapi mereka, aku kesini hanya untuk memastikan tak ada yang boleh menyeretmu menuju aula."

"Namun edgar, aku begitu penasaran dengan wajah penuh kemarahan dari pamannya.. aku ingin mengingatkan dia juga dengan posisinya"

"Tidak Lauren, TIDAK! begitu bahaya.. aku tak ingin kau diserang disana, kita memang punya banyak prajurit namun pria itu ular penuh bisa.. mulutnya penuh dengan bisa untuk mempengaruhi orang-orang disekitarnya" edgar tampak sangat cemas, ia memerintahkan puluhan penjaga hingga prajurit bayangan milik Duke untuk berjaga di depan pintu kamar kami

"Tenang saja Lauren, aku tau apa yang akan aku lakukan.. aku anggap ini dukunganmu, kau berusaha keras untuk kita, lalu biarkan sisanya aku lakukan.. para bawahan penjilat itu tak akan kubiarkan menjalani hidup mereka dengan tenang.

Ku lihat Pria dihadapanku ini, Ia begitu kesal hingga buku jarinya memutih karena mengepal tinju. Untuk hal yang kasar sebagai sesama pria, kuserahkan padanya.

"Baiklah, kalau begitu bersihkan sisanya" ucapku menatap penuh nafsu ingin membunuh padanya

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 25 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Edgar VaskeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang