31

3.9K 234 34
                                        

"Kau tau Ana, seluruh wanita bangsawan kekaisaran ini mungkin sudah mengolok-olokku dengan keras. Aku yakin berita mengenai sakitku telah tersebar di kalangan atas. Mengingat setiap dinding ditiap kediaman memiliki telinga, tentu hal ini tak dapat disembunyikan untuk waktu yang lama. Mereka menertawaiku dengan keras, Mengapa Aku masih mau bersama dengannya. Pria yang menjadi alasan semuanya."

"Nyonya, Aku begitu kagum dengan dirimu yang dulu sangat tidak peduli dengan perkataan siapapun, namun bagaimana bisa ucapan remeh calon gundik di masa yang akan datang, mengganggu fikiranmu?"

"Mereka bahkan tidak bisa disebut bangsawan, mencapai posisi menjadi Putri Mahkotapun orang-orang seperti mereka tidak. Hanya selir yang tinggal di halaman belakang paviliun, terkadang mereka tidak tau tempat hingga banyak yang berebutan merangkak ke dipan Kaisar"

"Aku senang Nyonya mengetahui tempat Mereka. Karna Putri seorang Kaisar hanya akan disibukkan oleh etiket-etiket Istana kekaisaran, mereka tentu tidak ada waktu untuk membicarakan hal remeh seperti ini"

"Aku juga adalah Anak seorang Kaisar, tapi tak satupun diajarkan padaku, Ana." Lauren menatap kosong hamparan bunga-bunga di luar jendela kamarnya

"Namun tambang permata Zamrud yang tak akan pernah habis itu menjadi satu-satunya milik anda Nyonya"

"Maxwell dan Ibunya bahkan mencoba mengambil alih pertambangan itu, Mereka begitu serakah dengan menginginkan semuanya"

"Tenang saja, Nyonya. Tuan Edgar sudah memulai penyelidikan untuk mengambil alih penuh pertambangan tersebut menjadi milik Nyonya."

"Menurutmu kenapa Edgar berusaha terlalu keras?"

"Apa maksud, Nyonya?" Ana menatap Lauren penuh selidik

"Kenapa Ia begitu ingin bahkan sekeras itu berusaha melakukan penyelidikan dengan langkah hati-hati"

"Tentu untuk mengambil kembali hak Nyonya"

"Karna Dia juga menginginkan bagiannyakan? Hhahahahh"

"Apa? Maksud, Nyonya?"

"Aku hanya saja masih belum percaya dengan perubahannya yang sangat drastis"

"Mungkin Tuan ingin membayar kesalahannya di masa lalu dengan mengembalikan yang satu-satunya menjadi hak milik Nyonya"

"Dia mulai berubah ketika mengetahui tambang permata zamrud itu, sejak saat itu Ia mulai berusaha keras dan meyakinkanku serta Kakek untuk andil membantunya juga"

"Aku harap Tuan melakukannya tanpa ada maksud lain"

"Kau tau, nilai pertambangan itu sangat tinggi. Oleh karena itu Ibu suri melakukan segala cara untuk memegang kendali serta menyembunyikan kepemilikanku terhadap pertambangan itu. Karna nilai kekaisaran Veroch kini tidak lagi terletak pada Kaisar mereka si Maxwell yang bodoh itu! Melainkan Pertambangan itu menjadi harta berharga yang tak akan habis nilainya yang dapat menunjang kekaisaran mereka"

"Kaisar sangat mempedulikan anda Nyonya sehingga Ia memberikan hal yang amat berharga"

"Segala kesalahannya tak dapat terbayar meskipun dengan zamrud-zamrud yang amat berharga itu"

"Aku mengerti, Nyonya"

Suara ketukan memecah obrolan mereka

"Tuan Edgar hendak memasuki ruangan" sahutan keras dari penjaga membuat fokus keduanya teralihkan, Ana yang hendak memberi privasi pada tuannya meninggalkan ruangan dengan menunduk hormat pertanda pamit kepada Lauren

"Apa hal menarik yang Kau lakukan hari ini?" Edgar langsung berjalan mendekat menuju Lauren

"Tak banyak, hanya saja terlibat pembicaraan cukup serius dengan penasihat pribadiku"

"Apa Kau berkenan jika Aku mengetahuinya?"

"Tentu, itu tentangmu.. Tentang ambisimu membebaskan pertambangan itu"

Dahi Edgar mengkerut mendengar nada bicara Lauren yang kurang ramah, "apakah ada yang salah dengan itu?"

"Mengapa Kau berusaha terlalu keras? Apa yang Kau rencanakan sebenarnya Edgar? Bahkan Aku dan Kakekku tak begitu peduli"

Edgar menyoroti pandangan penuh selidik dari Lauren, "Kau masih saja tidak mempercayaiku?"

"Mengapa Aku begitu mudah mempercayai seorang Pria yang telah mengacungkan pedang tepat di hadapanku hingga menggores kulitku? Mengapa Aku begitu mudah menpercayai seorang Pria yang menyeretku untuk diadili karna hendak mencelakai putri dari seorang baron biasa itu? Mengapa Aku dengan mudah mempercayai seorang Pria yang selalu merendahkanku? yang dengan sembarangan bersikap kasar padaku? Bahkan Ia yang membuat tanganku berlumuran darah dan menjadi gila seperti ini?!"

Rahang Edgar mengetat, "Lalu mengapa Kau masih menerimaku dengan mengikutiku kembali ke kediaman ini?!"

"Hanya untuk, Kau harus menanggung semua penderitaan dengan title bangsawan yang mempunyai seorang istri yang gila!! Siapa yang akan tunduk dengan gelar besarmu itu??"

"Siapa yang beristri gila?!! Siapa yang gila?! Tak ada satupun orang terdekatku yang kehilangan akalnya Lauren!!" Edgar begitu frustasi dengan setiap narasi-narasi yang keluar dari mulut lauren

"Kau akan malu nantinya dan menertawakan ucapanmu ini!! Semua orang akan segera menyadari Aku telah hampir kehilangan akalku, semua orang akan tau!!"

"Lalu apa?!! Lalu apa HAH?! Apa yang akan terjadi setelah itu?! Duniaku berhenti berputar?! Semua orang akan mengolok-olokku?! Itu yang Kau inginkan?!"

Lauren menatap Edgar tanpa putus, matanya membesar, dadanya bergemuruh. Banyak sesak di dadanya yang hendak keluar, namun Ia tak ingin sakitnya menguasai dirinya. Sebab ketika Ia kehilangan kontrol akan dirinya, sakitnya dengan cepat mengambil alih jiwanya. Ia harus tetap sadar.

"Jangan meneriakiku... karna Aku akan mengingat setiap hal buruk yang Kau perbuat padaku di kediaman ini... Hal itu terus saja berputar di Kepalaku setiap Kau berteriak padaku dan sejak Aku kembali ke kediaman ini!!..." badannya gemetar mengucapkan tiap untaian kalimat itu

Edgar menyugar rambutnya frustasi, "Mengapa Kau selalu berfikir Aku akan terus mencelakaimu?! Aku tak akan mengambil alih pertambangan itu! Aku hanya ingin membayar ucapanku yang dengan beraninya mengolok-olok Kau tak ditinggalkan apa-apa oleh Ayahmu. Aku sangat merasa bersalah hingga akan gila rasanya! Mengapa Aku begitu banyak melakukan hal yang sangat menyakiti hatimu dulunya"

"Lalu apa yang terjadi sekarang? Mengapa Kau menyadari itu?" Lauren menatap Edgar penuh harap, menantikan jawaban Edgar selanjutnya

Namun Edgar masih saja urung mengeluarkan beberapa kalimat

"Apa karna kini cintamu dan tujuanmu telah tiada? Hingga Kau beralih mengasihaniku alih-alih merasakan cinta? Apakah Kau melakukan ini dilatarbelakangi rasa bersalah dan belas kasihan saja??? Apa yang sebenarnya Kau rasakan?! Cepat katakan padaku!!" Lauren mendesak Edgar untuk menjawab pertanyaannya "Katakan Edgar! Katakan! Apa yang Kau rasakan?!!!" Lauren berteriak frustasi

Teriakannya begitu pilu dan juga keras hingga ditiap sudut kediaman dapat terdengar. Edgar segera menyadari bahwa sakit Lauren telah kambuh lagi, Ia segera meredam teriakan Lauren dengan memeluknya erat sekuat tenaganya. Dan menggoyang-goyangkan badan Lauren agar Ia segera sadar dan kembali mengambil alih pikirannya.

Lama Ia lakukan sendiri, hingga Lauren sudah cukup tenang dan diam dengan tatapan kosong. Ia menatap pada Edgar mengiba dan menangis penuh kepiluan menyadari bahwa sakitnya tak dapat lagi Ia kendalikan dan perlahan mengambil alih dirinya. Ia mengerang frustasi di dekapan dada Edgar hingga suaranya teredam dan tak dapat di dengar dengan jelas.

Lauren memeluk Edgar sangat erat lalu membenamkan wajahnya semakin dalam hingga teriakan pilu kefrustasiannya terdengar samar. Edgarpun membalas pelukan Lauren tak kalah erat dengan mata yang tengah berkaca-kaca menatap iba wanita yang dulunya dapat berdiri dengan sombong di hadapannya kini sudah tidak berdaya. Dan alasan semua ini terjadi adalah karna dirinya.

*****






































egitu drastis"

Edgar VaskeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang