33

1.8K 135 14
                                        

Selamat berakhir pekan, jika kalian melupakan jalan ceritanya, aku harap untuk kembali lagi membaca part sebelumnya. Maaf untuk selalu terlamat update cerita ini, karena kesibukan di real life gabisa tinggalkan. Selamat membaca para pembaca setia kisah Edgar dan Lauren**

*

*

Semenjak hari itu, Aku menjadi banyak melamun akan segala hal. Bagaimana jika Edgar tak punya nyali untuk menolak? bagaimana jika Edgar terlalu takut.. Bagaimana nantinya jika aku akan menjadi salah-satunya dari satu-satunya. Rasa sakit dan kecemasan yang telah hilang itu menyergap ragaku lagi. Aku gemetar ketakutan. Aku lemah dengan segala hal yang mencoba memisahkan kami lagi.. Aku begitu lemah hingga terakhir Aku dengan berani menghilangkan nyawa seseorang hanya karena keegoisanku, seharusnya Aku tak menyianyiakan hidup seseorang yang telah diberikan oleh Tuhan padanya.

Edgarpun tak lagi mengajakku bicara karena terakhir kali aku tak tau bagaimana menjawab segala ketakutannya, Ia begitu cemas jika Grand Duke mulai setuju dengan bawahan-bawahan setianya itu. Aku tak ingin mengotori tanganku lagi, namun Edgar terlalu pengecut untuk menjaga dirinya sendiri. Aku kecewa akan hal itu. Ini membuktikan dia tak berani berkorban sebanyak aku. Yang menempatkan telapak tanganku penuh darah hanya untuk menjadi satu-satunya yang berdiri disisinya.

Aku mengurung diri selama seminggu penuh di kamar kami, sama sekali tak mengizinkan Edgar untuk masuk bahkan hanya untuk bicara sepatah kata, hingga engsel pintu nan kokoh itu rusak ketika Edgar mengerahkan semua prajuritnya untuk mendobraknya bersama-sama. Aku terkejut melihat ke arah pintu yang engselnya sudah hancur beberapa itu.

Pria gagah nan sialnya sangat tampan itu berjalan mendekat dengan nafas memburu, "Kau membuatku kerepotan!"

Aku enggan menatapnya dan kembali melihat keluar jendela, aktifitas kesukaanku baru-baru ini.

"Kau akan tetap memilih diam?! Aku benar-benar tak percaya!" Dia begitu kesal

"Katakan sepatah kata Lauren!! Keluarkan pendapatmu!!" Suaranya mulai meninggi

"Kau ingin Aku melakukan apalagi Edgar? Apakah tidak cukup ketika aku membuat telapak tanganku penuh darah di hari itu? yang bahkan kau sendiri ketakutan melihatku pada hari itu,, wanita ini bagaimana bisa? Kata-kata itukan yang berputar di kepalamu saat itu? Lalu apalagi yang kau inginkan Edgar??"

Edgar tertegun sejenak, menatapku tanpa kedip dan berlutut di hadapanku "Aku begitu lemah Lauren... Aku begitu takut mereka akan menggulingkan kursi kebesaranku.. Aku sudah berusaha namun mereka mulai mengucapkan banyak hal yang membuat Ayahku goyah... Aku begitu takut Lauren.." keningnya mengkerut karena begitu frustasi dengan situasi ini

"Tapi bukankah semua hal yang mereka ucapkan itu benar Edgar? Jika dibandingkan dengannya, siapa aku?? wanita yang nyaris gila dan tidak mempunyai kepandaian sama sekali selain latar belakang keluargaku yang begitu kuat? Bukankah seorang Duke membutuhkan anak yang pantas meneruskan kedudukannya? seorang anak yang cerdas dan kuat, yang tentunya harus berasal dari seorang Ibu yang cerdas dan kuat juga?"

Edgar begitu kesal mendengarkan perkataanku, "Apa maksudmu?! Siapa bilang kau nyaris gila?! Siapa bilang kau tidak cerdas?! Hanya kau satu-satunya yang pantas melahirkan penerusku!! Hanya kau Lauren!"

"Siapa yang akan percaya pada Ibu gila sepertiku?!! Siapa yang akan menyetujui pembunuh ini melahirkan penerusmu?! Aku mengerti hal yang mereka takutkan! Aku begitu buruk untuk menjadi Ibu bagi penerusmu!!"

"Yang berhak memberikan penilaian terhadapmu hanya Aku, Lauren! Hanya Aku!. Kau tak akan melahirkan seorang pembunuh, tak akan!!"

"Maka lakukan sesuatu sialan!! Jika Kau begitu yakin maka lakukan sesuatu!!! Berhenti mendesakku!, biarkan Aku menjadi penonton kali ini untuk apa yang akan kau lakukan nantinya."

"Namun Aku membutuhkan bantuanmu Lauren! Berhenti mengurung diri seperti ini! Lakukan yang biasanya Kau lakukan, tunjukkan taringmu! buat mereka bungkam dan tak berani lagi mengusik pernikahan kita!!"

Mendengar kata kita yang keluar dari mulutnya, membuat jantungku berdegup begitu kencang. Pria ini memang hanya satu-satunya yang masih ku cintai, terlepas dari semua hal buruk yang dia lakukan padaku namun hatiku masih saja memihaknya.

"Baik, jika itu yang kau inginkan. Mulai besok aku akan mulai berjalan-jalan keluar dan melaksanakan aktivitas seperti biasa. Anggap saja kemarin aku beristirahat sejenak untuk benar-benar menstabilkan diriku, lalu akan kutunjukkan padanya.. dengan siapa mereka mencari gara-gara. Mereka terlalu sombong untuk berani berjalan dengan dagu terangkat, hanya karena aku mengurung diri bukan berarti aku tak punya nyali.. hanya saja begitu malas untuk berurusan lagi dengan bangsawan rendahan yang nyaris bangkrut yang mencoba menyelamatkan keluarga mereka dengan beraninya bermimpi untuk melahirkan penerus yang akan menduduki kursi kebesaranmu? Bukankah andai mereka terlalu tinggi? Mereka pikir, dengan semudah mempengaruhi grand duke saja mereka sudah mendapat persetujuan?! Akan kuperlihatkan bagaimana persetujuan dariku! Jangankan untuk berandai melahirkan penerus untuk duduk dikursi kebesaran itu! Membayangkannya saja mereka tidak aku izinkan!! Aku, hanya aku satu-satunya wanita yang akan melahirkan penerus untuk menduduki kursi itu!!"

Beragam sumpah serapah dan kalimat bodoh yang mengiringi namaku, namun cinta tak melihat kemana ia memihak. Semua orang punya pilihan, namun Aku memilih cinta yang mati-matian Aku inginkan hanya dari Pria ini, Edgar Vaske. Yang kuharap cintanya tak kalah besar dari milikku.

Edgar VaskeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang