Lihat, kuasa Aldhof Caviar di wilayah kekaisaran ini begitu besar. bahkan tak ada satupun yang mengendus hal kejam yang telah dilakukan oleh Lauren. Dia menutup akses semua orang untuk menemui cucunya itu, bahkan Aku sendiri.
"Kakek, Aku ingin berbicara dengan Lauren" Aku yakin Dia sudah muak dengan kalimat yang berulang kali kukatakan ini
"Kembalilah! Kau tuli ya? Jangan tanyakan apapun lagi perihal cucuku! Dia sama sekali tak menanyakanmu"
"Jika Kakek lupa Aku adalah Suaminya, Aku yang paling bertanggung jawab di depan hukum terhadap dirinya"
"Kau begitu sombong ya? Seolah-olah bersikap seperti Suami yang bertanggung jawab padahal Kau lah pemicu kegilaannya"
"Kakek.. Aku begitu lelah mendebatkan hal ini sepanjang hari denganmu. Dimana Kau sembunyikan Lauren?!"
"Untuk Apa?! Mengapa Kau ingin menemuinya hah?! Kau ingin membawanya ke depan hakim tanah wilayahku?! dan menghakiminya terkait penganiayaan berujung kematian itu?!! Kau benar-benar ingin menghukumnya hah?!"
Sialan Suara besarnya itu hanya merusak gendang telingaku.
"Ayolah, Kakek pikir Aku punya kuasa disini?!"
"Kau juga bisa membawanya ke bawah kaki Ren Vallerio Carl! Kau pikir Aku tak tau siasatmu?!"
"Aku hanya ingin menemui Istriku!! Ini sudah akan masuk dua minggu! Izinkan Aku berbicara dengannya!! Akulah yang paling berhak terhadap dirinya Kakek! Namun Kau selalu menjadi penakutan yang selalu mengira Aku akan berbuat buruk padanya!"
"Kau benar-benar keras kepala!!"
Setelah dicaci dan diteriaki banyak hal akhirnya Aldhof Caviar mengutus bawahannya untuk mengantarku ke tempat persembunyian Lauren.
Langkahku perlahan terhenti ketika kami telah sampai di ujung lorong kastil nan tua ini, samar terdengar olehku sebuah perbincangan dengan suara yang tak asing
"Kau tau, setelah berulang kali berfikir Aku menyadari bahwa tak ada siapapun yang benar-benar menginginkanku di hidup ini."
"Apa maksudmu Nyonya?"
"Pertama Ayahku, Dia orang pertama yang mengabaikanku. Aku tumbuh tanpa kasih sayang darinya lalu menghadapi pahitnya hidup sendirian yang bahkan seorang dayang berani mengangkat kepalanya padaku. Aku sangat tak terima akan semua itu, oleh karenanya Aku memberontak. Menampakkan taring untuk menutup mulut rakyat yang bahkan tak di aliri darah bangsawan itu, berani-beraninya mereka menatap nyalang padaku."
"Lalu apa lagi selanjutnya?"
"Tentu bajingan Edgar Vaske itu, Dia bahkan selalu mengolok latar belakangku, bukannya simpati Ia malah menambah penderitaanku. Aku sama sekali bukan sebuah opsi pilihan dalam hidupnya, Ia begitu gila dengan cinta pertama yang terkesan menjijikan itu"
"Apakah Kau menyesal melenyapkannya?"
Aku memasang telinga dengan begitu teliti dan hati-hati pun juga penasaran dengan jawaban Lauren. Aku melihat Lauren tampak terkejut mendapati pertanyaan demikian, Ia yang semulanya hanya diam dengan sorot mata yang santai berubah bersitatap dan menyorot tak suka pada penasihat pribadinya yang Ia bawa tempo waktu lalu.
"Tidak, sama sekali tidak. Aku begitu lega kini. Wanita itu sudah lenyap, tak ada lagi mimpi buruk yang akan mengolok-olokku itu"
"Apa maksudmu?" Aku dapat melihat raut wajah terkejut darinya, karna mungkin Ia telah lama tidak mendengar suara yang tak asing ini baginya
"Kau menemukanku ya" Ia memasang senyum tak ikhlas menyambut kedatanganku
"Apa maksud mimpi buruk yang mengolok-olokmu itu, Lauren?"
Dia lagi-lagi menunjukkan raut wajah begitu, menatap nyalang terhadapku. Apakah Maddy adalah perbincangan yang paling Ia hindari kini?
"Kau tau Edgar? Aku selalu bermimpi Kau menatap nyalang padaku sembari mengecup dahi Wanita sialan itu. Kalian berdua memasang wajah mengolok-olok penderitaanku, Kau dan Dia bahkan tau hal yang paling kutakuti di dunia ini adalah kehilanganmu. Namun, kalian seakan berbahagia dengan selalu mempermainkan kelemahanku. Kau dan Dia bahkan selalu membuat diriku ketakutan setiap waktu dan kalian bahkan tertawa diatas ketakutanku. Aku selalu memikirkan semuanya sehingga otakku akan pecah rasanya. Aku selalu tak percaya Edgar, untuk setiap perlakuan baikmu. Aku bahkan selalu mengantisipasi perubahan sikapmu. Aku selalu bertanya-tanya dalam diriku, rencana apa lagi yang Kau mainkan! Aku selalu memasang sikap hati-hati terhadap kalian berdua dan hal itulah yang membuat akalku semakin menghilang! Aku selalu menjadi si penakutan dan waspada saat berada disisimu"
Untuk kesekian kalinya Aku menyaksikan Lauren dengan wajah sendu dibanjiri air mata. Aku mendengar dengan seksama sesak yang sudah lama Ia pendam. Aku ingin berlari dan memeluknya.
"Bukan itu perasaan yang Aku inginkan saat bersamamu Edgar! Aku ingin mencintaimu tanpa ada pemikiran-pemikiran tak percaya itu!! Aku hanya ingin dengan tenang berada disisimu. Namun bayang-bayang Wanita itu selalu membuatku ketakutan sepanjang malam"
Aku mengepalkan tanganku begitu kuat, Dia menangis dengan sendu dihadapanku. Tak ingin menahan perasaan ini, Aku berlari untuk memeluknya. Ku luruhkan semua rasa rindu yang tertahan selama dua pekan ini, dan ku biarkan Dia menangis di dekapanku. Aku harap Dia mengeluarkan semua sesaknya.
"Aku tau penderitaanmu Lauren, Kau boleh menamparku dengan kuat dan Kau boleh memukulku sekuat tenagamu, maafkan Aku untuk semua sesak yang selalu Kau simpan itu. Aku memang Pria yang buruk yang selalu membuatmu melalui mimpi buruk itu sendirian. Maafkan Aku Lauren, begitu banyak penderitaan yang Kau lalui karnaku" Aku mengusap punggungnya berkali-kali berharap semua sendu itu luruh didalam dekapanku.
Setelah mengeluarkan semua sesak dalam dirinya. Lauren luruh dalam lelap di dekapanku.
"Tuan, Nyonya kesulitan tidur akhir-akhir ini. Namun hanya dengan dekapan itu, Tuan membawanya pada rasa kantuk yang bahkan selama ini Aku bingung memikirkan bagaimana lagi cara mengatasi kesulitan tidur Nyoya. Tuan memang penyebab hal buruk yang ada di hidup Nyonya, Namun juga Tuanlah sembuh yang dibutuhkan oleh Nyonya. Maaf atas kelancangan ucapanku. Aku begitu frustasi dan sedih terhadap penderitaan Nyonya"
Tak terlalu mendengar ucapan Wanita muda itu, Aku terlalu hanyut dalam kenyamanan yang Aku sediakan untuk Wanitaku. Begitu banyak kesulitan yang Ia lalui, bahkan Aku selalu tidak menyadari
"Bisakah Kau tinggalkan Kami berdua disini?"
Wanita muda itu semulanya kaget namun Dia tetap mendengarkan perkataanku, "Saya permisi Tuan"
***
gimanaa guyss?
aku juga butuh vote sama comment kalian ya biar aku makin semangat update ceritanya, terima kasii
KAMU SEDANG MEMBACA
Edgar Vaske
Fantasía{FOLLOW SEBELUM MEMBACA!!} **** "Kau sentuh sedikit saja rambutku maka Aku akan melakukan hal yang sama atau mungkin lebih parah pada wanitamu!" "Beraninya Kau?!" "Kenapa?! Kenapa Aku tidak berani hah?! Apa karna Dia Calon Putri Mahkota?! Apa karna...
