Sementara itu, Bella berdiri di pinggir jalan matanya terfokus pada mobil Riko yang berlalu. Senyum kemenangan terukir di wajah Bella, ada sedikit kegelisahan yang mengendap dalam dirinya.
Ini adalah rencananya yang paling berisiko. Setelah sekian lama tidak mengganggu Riko karena ia harus melanjutkan studi S2 di Jerman, Bella memutuskan untuk kembali.
Dulu, dia sering mengikuti Riko ke mana pun pria itu pergi, mencuri perhatian dengan cara yang tidak wajar. Tapi sekarang, untuk mendapatkan perhatian Riko, ia harus melangkah lebih jauh, melibatkan berbagai cara berisiko tinggi, bahkan hingga nyawa sekalipun.
Bella mencoba menepis kecemasannya. Mendapatkan seorang Riko, ternyata, tidaklah mudah. Harus melakukan hal-hal ekstrem untuk mendapatkan nya.
Setelah beberapa saat menatap mobil yang menghilang di kejauhan, Bella menarik napas dalam-dalam dan melanjutkan langkahnya menuju apartemennya.
Ia harus mengumpulkan sedikit keberanian, terutama setelah menatap mata Riko yang barusan tatapan nya begitu penuh amarah, seolah ingin membunuhnya.
Dalam perjalanan menuju apartemen, kemacetan tiba-tiba menghadang, membuatnya terpaksa duduk dalam taksi yang terjebak di tengahnya. Panik, Bella mencoba menekan supir taksi agar mencari jalan lain.
"Maaf, Bu, saya tidak bisa putar balik. Kendaraan di belakang sudah terlalu padat. Jika dipaksakan, akan membahayakan kita semua," jelas bapak supir taksi itu.
Bella mengerutkan dahi, tak sabar dengan situasi ini.
"Kalau begitu, saya turun saja, ini uang ongkosnya, Pak," jawabnya, membuka pintu mobil dan keluar dengan langkah terburu-buru. Ia terus berjalan menyusuri trotoar, berharap bisa segera sampai di apartemennya.
Namun, semakin ia berjalan, semakin ia merasakan ada yang mengikutinya. Bella menoleh sejenak, tapi tidak ada siapa pun yang terlihat mencurigakan. Ia mencoba meyakinkan dirinya, namun rasa takut semakin menghimpit.
Setelah seratus meter berjalan, rasa sakit mulai menusuk di belakang kepalanya. Kepalanya berputar, dan seketika itu juga, pandangannya menjadi kabur.
Sebelum kehilangan kesadaran, Bella sempat melihat sosok seorang pria berjubah hitam dan memakai topeng, berdiri tepat di hadapannya.
Tak lama setelah itu, pria berjubah hitam tersebut memberi perintah kepada dua pria yang ada di dekatnya untuk menggotong Bella dan membawanya ke sebuah mobil van putih.
"Kami sudah berhasil membawa wanita ini, Tuan," ucap pria berjubah hitam tersebut, menghubungi seseorang melalui ponselnya.
"Bagus, bawa dia ke ruang eksekusi. Tuan besar akan turun tangan sendiri," jawab suara di seberang sana.
******
Sementara itu, Xania baru saja menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk di kamar apartemennya. Setelah seharian penuh menatap layar komputer, mengetik laporan dan berbagai file yang harus segera dikirimkan, ia merasa tubuhnya pegal.
"Astaga, hari ini lelah sekali. Pekerjaan begitu menumpuk sampai tidak kenal waktu, bahkan aku belum sempat makan malam," keluhnya, sambil merentangkan kedua tangannya.
Masalah laporan yang belum juga memuaskan klien membuat Xania terus menerus mengoreksi pekerjaan tersebut. Karena fokus pada pekerjaan, ia bahkan lupa untuk makan malam, meskipun abangnya sudah mengingatkan beberapa kali dengan membawakan cemilan ke kamarnya.
Setelah membereskan meja kerjanya yang berantakan di pojok kiri kamar, Xania mulai membersihkan sisa-sisa remahan cemilan yang menemani pekerjaannya. Setelah dirasa cukup bersih, ia duduk kembali di kursinya dan mengambil ponselnya. Banyak chat yang masuk, beberapa pesan belum sempat ia baca.
Salah satunya datang dari sahabatnya, Dinda, yang selalu mengirimkan berbagai pertanyaan, mulai dari menanyakan kabar hingga hal-hal konyol lainnya. Xania tersenyum membaca pesan-pesan tersebut, merasa terhibur dengan tingkah Dinda yang kadang tak masuk akal.
Namun, saat akan membalas pesan terakhir, Dinda sudah lebih dulu meneleponnya.
"Halo, maaf Dinda, aku baru banget selesai bekerja. Banyak pekerjaan yang aku bawa pulang, jadi aku belum sempat baca pesan kamu," ujar Xania saat mengangkat telepon.
"Kenapa tidak bilang dari tadi? Aku jadi merasa nggak enak udah mengganggu kamu," jawab Dinda dengan suara cemas.
"Ck, kamu ini kaya siapa aja... Nggak masalah Din, aku nggak merasa terganggu kok, malah terhibur dengan pesan-pesan kamu," sahut Xania, sambil tersenyum kecil.
"Baiklah kalau begitu. Sudah makan malam? Kamu suka lupa makan kalau kerja, ini udah jam sembilan malam loh Xania?" tanya Dinda, khawatir.
"Iya, aku belum sempat makan. Aku turun ke bawah dulu buat makan, kamu selalu jadi yang pertama ingetin aku makan. Aku jadi kangen jaman kita kerja bareng, susah senang bareng. Oh ya, inget nggak pas presentasi depan CEO itu? Duh, tegang banget," jawab Xania, nostalgia.
"Ah, itu! Yang ada Pak Riko itu ya? Duh, jangan diingat lagi, aku jadi merinding deh inget tatapan Pak Riko itu... Aduh, jangan deh, dia kan pria gila! Sudahlah, kamu makan dulu, nanti kita lanjut lagi. Aku tutup ya, bye!" seru Dinda cepat.
"Haha, iya ya, aku makan dulu ya, nanti kita lanjut lagi. Bye, Din!" jawab Xania.
Xania meletakkan ponselnya kembali di meja, lalu terdiam sejenak. Ia mulai merenung tentang ucapan yang tadi keluar begitu saja. Kenapa ia mengingat kejadian itu? Kenapa pula ia tidak merasa takut seperti dulu? Ada apa dengan perasaannya sekarang? Apakah ia sudah berdamai dengan masa lalunya, atau ada perasaan yang lebih dalam yang belum ia sadari?
Hati Xania dipenuhi pertanyaan, sementara bayangan Riko muncul lagi dalam pikirannya. Apa yang sebenarnya ia rasakan?
•••••••
Terima kasih kepada reader's setia Crazy Obsession, yang masih setia menunggu kelanjutan cerita ini.
👇🏻SPAM KOMEN UNTUK NEXT👇🏻
Jangan lupa bantu vote & follow juga share ke teman-teman kalian, bantu ramaikan cerita ini biar author semangat update nya🫶🏻
KAMU SEDANG MEMBACA
Crazy Obsession
Romance"Mau, lari kemana lagi? Sudah ku bilang kau tidak akan pernah bisa lepas dari jangkauan ku sayang" senyum licik terlihat jelas di wajah yg tampan itu. "Kau, bisa gak Menjauhlah dari ku!" Gadis tersebut bergegas melarilan diri,ke sebuah tempat gang...
