Bab 38

1.2K 29 1
                                        

Seminggu telah berlalu sejak percakapan Xania dengan Evan. Selama itu, mereka larut dalam pekerjaan masing-masing, menyelesaikan laporan akhir proyek besar untuk klien mereka.

Begitu semua selesai, malam itu mereka berkumpul di sebuah restoran barbeque bergaya rooftop, menikmati udara malam Singapura yang hangat dan bersahabat.

"Everyone, thank you for your cooperation. This is a party for all of us! Let's start the party, yuhuu!" ucap Xania antusias, mewakili Evan.

"Yes! Thanks also to our boss. Let's liven up the party, cheers!" sahut salah satu rekan mereka, lalu diikuti suara gelas bersulang. Beberapa memilih minuman ringan, sebagian lainnya menikmati wine dan bir yang disediakan.

Acara tersebut memang sengaja dibuat Evan sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras timnya. Hanya enam orang yang hadir malam itu, termasuk dirinya dan Xania. Dua rekan lainnya berhalangan karena urusan pribadi. Meski bukan pemilik perusahaan, Evan adalah manajer divisi yang dihormati.

Xania tampak menikmati malam itu. Tawa dan canda terdengar dari meja mereka, namun ada seberkas kegelisahan yang diam-diam bersarang dalam hatinya. Rasa rindu yang sudah lama ia pendam perlahan mulai mendesak keluar.

Waktu berjalan cepat. Pukul sebelas malam, restoran mulai sepi. Pesta sudah selesai sejam lalu. Xania telah kembali ke apartemen mereka bersama Evan, dan kini ia berada di dalam kamarnya.

Selesai membersihkan diri, ia merebahkan diri di kasur, memandangi langit-langit kamar yang gelap.

"Sepertinya aku memang harus kembali ke Surabaya," gumamnya pelan. "Tidak peduli pria itu menemukan aku atau tidak, aku harus pulang."

Ia menarik selimut hingga menutupi dagunya, menutup mata sambil mengingat wajah kedua orang tuanya yang sudah hampir setahun tak ia temui. Pelan-pelan, Xania pun tertidur.

Keesokan paginya, Xania menyiapkan dua cangkir kopi. Salah satunya ia letakkan di meja kerja Evan yang masih duduk dengan rambut acak-acakan, baru bangun tidur.

"Bang, ada yang mau Xania omongin," katanya serius.

Evan menoleh, mengusap wajahnya yang masih setengah sadar.

"Apa, dek? Bilang aja. Abang pasti dengerin kok." Balas Evan.

"Aku mau pulang, bang." Evan terdiam, menatap wajah adiknya yang terlihat tenang.

"Pulang?" tanyanya pelan.

"Iya, pulang ke Surabaya." Evan menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Serius kamu, dek? Udah yakin kuat balik ke Indonesia lagi?" Xania mengangguk.

"Iya, aku udah pikirin ini baik-baik. Aku kangen Mama dan Papa. Aku nggak mau lari terus. Apapun yang terjadi, aku siap hadapi." Evan menghela napas panjang.

"Kalau itu keputusan kamu, abang dukung. Tapi kamu nggak sendiri. Abang cuti juga minggu depan, kita pulang bareng. Sekalian ketemu keluarga, udah lama juga abang nggak pulang."

"Makasih, Bang" Mata Xania berkaca-kaca, tapi ia menahan air matanya.

Tiga hari kemudian, mereka mengajukan cuti seminggu dari kantor. Pihak perusahaan menyetujui karena memang project besar mereka sudah selesai, dan tak ada jadwal mendesak dalam waktu dekat.

******

Hari keberangkatan pun tiba.

Evan dan Xania berjalan santai di tengah keramaian Bandara Changi, Singapura. Setelah melewati pemeriksaan keamanan, mereka melangkah menuju area keberangkatan. Xania, yang selalu ceria, melangkah lebih cepat, sementara Evan mengikuti dengan tenang.

Crazy ObsessionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang