Sedangkan di belahan dunia lain, Riko duduk di kursi kulit hitam yang empuk di ruang kerjanya, menatap layar laptop yang memaparkan laporan keuangan yang semakin merugikan.
Kerugian yang ditimbulkan oleh penggelapan dana itu jauh lebih besar dari yang dia perkirakan. Pelaku dari penggelapan dana yang ternyata adalah seorang direktur keuangan, kini sudah tertangkap walaupun Riko sangat ingin menjadikan pria itu menjadi cincangan lego, tetapi diurungkan karena ia membuat pelaku terjerat hukuman mati.
Tentu nya dengan kuasa yang dimiliki Riko semua keinginan nya sudah pasti terjadi. Setidaknya untuk sekarang dirinya tidak mengotori tangan nya, mungkin untuk sekarang.
Riko bisa saja meninggalkan perusahaan nya begitu saja dan membiarkan masalah ini, toh ia memiliki asisten yang terpercaya, namun Riko tidak melakukan nya karena sebagai CEO ia harus memikirkan nasib karyawan yang saat ini bekerja di anak cabang perusahaan nya.
Riko sangat frustasi karena rencananya dalam dua hari ini dia akan terbang ke Singapura untuk menjemput paksa Xania, gadis yang telah berani dua kali melarikan diri dari genggamannya.
Rencana nya kali ini sudah dibuat secara matang. Xania akan dibawa kembali ke Jakarta, lalu ia akan mengurung Xania di dalam mansionnya yang sudah pasti kali ini Xania tidak bisa kabur lagi, dan rencana selanjutnya dalam sebulan, dia akan menikahi Xania.
Jika rencana A ini gagal, karena tahu watak keras kepala Xania, Riko memiliki rencana B yaitu membuat Xania hamil anaknya, itu harus. Apapun akan ia lakukan agar Xania tetap berada di genggaman nya, sekalipun harus berbuat kasar.
Bahkan ia akan mengeluarkan seluruh jurus ancaman kepada gadisnya itu, hanya dengan memikirkan semua rencana itu membuat Riko sudah tidak sabar menemui sang gadis pujaan.
"baby, you're mine!" Bisik Riko, seringai tipis terlihat di wajah tampannya, aura mematikan terpancar.
Namun, di tengah ketegangan ini, seseorang yang tidak terduga muncul, seorang wanita masuk kedalam ruangan Riko dengan senyuman cerah.
"Hai, Riko" suara wanita itu terdengar dari pintu ruang kerjanya, cukup lembut namun tetap memaksa perhatian.
Riko mengangkat pandangannya dan mendapati Bella berdiri di ambang pintu, wajahnya yang familiar tersenyum manis, meskipun senyum itu hanya membuat hatinya semakin kesal.
"Bella?" kata Riko dengan nada datar, berusaha menjaga ketenangannya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Dengan wajah datar dan dingin Riko tidak membuat Bella takut.
Tidak lama kemudian terdengar suara sekretaris yang berjaga di depan ruang CEO.
"Maaf Pak, saya sudah melarang ibu ini masuk, tapi ibu ini nekat langsung masuk begitu saja" jelas sang sekretaris. Saat ini posisi nya serba salah, karena ia tau saat ini bos nya itu sedang tidak mau di ganggu.
Bella berjalan mendekat tanpa perdulikan apapun lagi, bahkan ia tidak peduli dengan sekretaris Riko yang saat ini sedang berdiri dibelakang nya dengan wajah panik.
Mengenakan setelan formal yang sempurna. Wajahnya yang cantik terlihat lebih matang, lebih dewasa. Namun, bagi Riko, itu tidak mengubah apapun. Bella adalah masa lalu yang benci Riko ingat, dan dia tidak berniat untuk menggali lagi.
Riko memberikan kode kepada sekretaris wanita itu untuk segera keluar, ia tidak akan mempermasalahkan ini karena Riko tau gimana keras kepala nya wanita dihadapannya itu.
"Aku datang untuk menawarkan bantuan, Riko" ujar Bella dengan senyuman yang terlihat di wajah cantik nya.
"Aku dengar ada masalah besar dengan keuangan perusahaanmu. Penggelapan dana, right? Aku bisa membantumu menanganinya." Lanjut nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Crazy Obsession
Romance"Mau, lari kemana lagi? Sudah ku bilang kau tidak akan pernah bisa lepas dari jangkauan ku sayang" senyum licik terlihat jelas di wajah yg tampan itu. "Kau, bisa gak Menjauhlah dari ku!" Gadis tersebut bergegas melarilan diri,ke sebuah tempat gang...
