Bab 39

1.1K 17 1
                                        

Matahari mulai menyapa melalui sela-sela jendela, mengganggu tidur seorang gadis cantik yang masih tenggelam dalam mimpi indahnya. Seiring waktu berlalu, sinarnya makin terik, menyorot langsung ke dalam kamar.

Gadis itu mulai terusik dari tidurnya. Dengan mata yang masih terpejam, tangan lentiknya meraba-raba ponsel genggamnya. Seperti kebanyakan perempuan pada umumnya, hal pertama yang dicari setelah bangun tidur adalah ponsel.

"Xania, bangun, Nak! Ini sudah siang, cepat mandi. Mama tunggu di bawah!"

"Iya, Mah. Udah bangun kok, nanti Xania ke bawah."

"Baiklah, Mama tunggu ya. Jangan tidur lagi!"

Xania mengabaikan suara sang ibu. Ia kembali fokus pada ponsel yang sedang digenggamnya. Sekilas, matanya melirik ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.

"Kenapa sih Mama harus bilang ini udah siang. Hais, Mama nih," gumam Xania dalam hati.

Xania meletakkan ponselnya kembali, lalu bangkit dan membereskan tempat tidurnya seadanya agar tak terlalu terlihat berantakan. Setelah itu, ia berjalan ke kamar mandi.

Dua puluh menit berlalu. Setelah selesai bersiap, Xania keluar kamar dan berjalan menuju ruang tamu, memenuhi perintah ibunya untuk turun ke bawah.

"Mama lagi ngapain di dapur?" tanya Xania sambil berjalan mendekat.

"Heh! Anak gadis baru bangun jam segini. Lihat Mama, sudah mau selesai masak buat sarapan kamu. Nggak berubah ya. Mama kira setelah tinggal sama Abang, kamu jadi lebih mandiri." Mama Clara menghela napas panjang, wajahnya memerah karena kesal. Tangan-tangannya sibuk mengaduk sayur di panci seolah menyalurkan kekesalannya.

"Maaf, Mama ku yang cantik. Kemarin aku capek banget, dan semalam susah tidur. Sekarang, apa yang bisa Xania bantu, Mah?" Xania tersenyum kecil sambil mengangkat bahu, mencoba mencairkan suasana. Mama Clara hanya menggeleng sambil tertawa pelan.

"Yaudah, bantu bawa semua masakan ini ke meja makan. Kita sarapan bareng."

"Siap, Mamaku sayang" Xania mengecup pipi Mama Clara sekilas, lalu segera menuruti perintahnya.

"Aduh, anak gadis Papa udah rajin aja nih pagi-pagi. Nyenyak tidurnya, Nak?" Xania mengangguk sambil tersenyum tipis.

"Pagi, Pah. Nyenyak banget Pah, makanya aku kesiangan. Mama udah selesai masak, jadi aku cuma bisa bantu bawa ini. Semalam tidurnya enak sih, karena ada Mama dan Papa di sini" ucap Xania santai sambil menyusun makanan di meja.

"Bisa aja kamu, Nak. Yaudah, panggil Abang kamu. Kita sarapan bareng" Papa Gilang tersenyum puas, lalu mengelus kepala Xania dengan lembut.

"Okay, Papa."

Dengan langkah ringan, Xania naik ke lantai dua, terlihat dua kamar berada disana. Satu miliknya dan satu lagi milik Evan. Setelah berdiri di depan pintu bercat hitam, ia mengetuknya.

Tok.
Tok.
Tok.

"Abang, dipanggil Papa! Ayo sarapan! Abang!!!"

"Duh, Dek. Bisa santai nggak sih? Nggak usah teriak gitu, Abang nggak budek ya!" gerutu Evan sambil membuka pintu dengan kesal. Ia mendengus karena teriakan Xania yang baginya terlalu berlebihan.

"Padahal pelan gue juga denger, dasar adik durjana," gumamnya dalam hati.

"Hehe, maaf Abang. Ayo cepat sarapan. Papa dan Mama udah nunggu." Ucap Xania dengan senyum yang tanpa rasa bersalah.

Akhirnya mereka berjalan beriringan menuju ruang makan. Di sana, Mama Clara sedang menuangkan nasi ke piring Papa Gilang, yang duduk di sebelahnya.

"Morning, Papa, Mama" Sapa Evan sambil tersenyum.

Crazy ObsessionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang