Bab 36

1.4K 25 2
                                        

"HMM HMM HMM..."

"Bella, Bella... Sudah saya katakan untuk tidak bertindak gegabah. Apa kamu pikir saya tidak tau rencana murahanmu?" suara pria bertopeng itu terdengar dingin, menusuk seperti pisau di tengah malam. Ia jongkok, lalu mencengkeram dagu Bella yang saat ini tersungkur di lantai.

"HMM HMM HMM!" Bella mencoba bersuara, tapi lakban yang menutupi mulutnya membuat ia tak mampu mengatakan apa pun.

"Menjebak saya? Hah, sungguh naif. Dengan semua kekuasaan dan jaringan yang saya miliki, kamu kira kamu bisa menjebak saya begitu saja? Kamu salah besar, Bella!"

Dengan gerakan cepat dan kasar, pria itu menarik paksa lakban dari bibir Bella.

"SIAPA LO?! GUE GAK KENAL SAMA LO! LEPASKAN GUE, SIALAN! CUIH!" Bella meludah ke arah wajah pria bertopeng itu dengan sisa tenaga yang ia miliki, meski tangannya terikat kuat di belakang tubuhnya.

Pria itu tak bergeming. Ia hanya tersenyum kecil, seringai bengis dari balik topengnya.

"Berani juga kamu. Tapi sayangnya, keberanianmu tidak cukup. Kamu pikir bisa bebas begitu saja? Oh, saya akan melepaskanmu... tapi hanya dalam keadaan sudah tidak bernyawa."

Bella menjerit, tubuhnya meronta, matanya panik.

"LEPASIN GUE!! GUE GAK KENAL SAMA LO!"

"Yakin tidak kenal saya? Baik. Kalau begitu, mari kita berkenalan... dengan cara saya."

Ia mengeluarkan sebilah pisau kecil berkilau dari balik jaket hitamnya. Menyodorkannya ke arah Bella dengan tenang. Mata Bella membelalak.

"LO MAU APA, HAH?! JAUHIN BENDA ITU DARI GUE!!"

"Tenang saja. Tidak akan seru kalau tanpa ini. Biar saya tuliskan nama saya... Saya yakin kamu akan menyukainya."

Dengan kejam, pria itu merobek celana Bella menggunakan ujung pisau hingga sobek sampai lutut. Lalu perlahan, dinginnya bilah tajam mulai menggores betis kanan Bella. Darah mulai mengalir.

R I K O C H A R L E S

Ukiran berdarah itu terukir sempurna di kulit Bella. Riko menyeringai di balik topengnya.

"ARGHH!! SAKIT!! SAKIT SIALAN!!" jerit Bella sekeras mungkin, matanya mengalirkan air mata dan tubuhnya gemetar menahan sakit.

"Sudah lihat? Suka tidak?"

Wajah Bella yang memucat perlahan mulai mengenali sesuatu dari suara di balik topeng itu. Getaran di hatinya menuntunnya pada satu nama.

"R-Riko...? Gak mungkin... Kamu gak mungkin kayak gini, Riko. Kenapa... kenapa kamu tega?" tangisnya pecah. Suaranya nyaris tak terdengar.

"Peduli? Saya tidak pernah peduli, Bella. Kamu pikir perasaanmu berarti? Tidak. Ini... belum apa-apa."

Riko mendekatkan wajahnya, dan dengan suara pelan tapi mengerikan, ia berbisik.

"Saya masih menginginkan bola matamu. Mungkin yang kanan dulu?"

"GAK!! GAK MAU!! TOLONG RIKO, LEPASKAN AKU!! AKU JANJI GAK AKAN GANGGU KAMU LAGI!" Bella memohon dalam ketakutan, tubuhnya mulai melemah.

"Terlambat," jawab Riko datar.

"Rasakan akibat dari kelancanganmu."

CLAK.

Jeritan kembali pecah di ruangan itu.

"ARGHHHH!! SAKIT!! RIKO, LEPASIN!! ARGHH!!"

"Lihat baik-baik... Ini mata yang selama ini kamu pakai untuk menatap saya dengan penuh obsesi. Ingat baik-baik, Bella. Hanya gadis saya yang boleh menatap saya. Hanya dia. Dan siapa pun selain dia, akan menjadi seperti dirimu." Tatapan Riko berubah lebih dingin, lebih gelap.

"Saat kuliah, saya diam. Tapi sekarang? Tidak akan lagi, Bella. Kamu sudah saya beri peringatan. Dan sekarang, waktunya saya ambil tangan dan kaki mu untuk santapan hewan peliharaan saya."

CRAK. CRAK. CRAK.

"Urus semua potongan itu. Pastikan tidak ada satu jejak pun yang tertinggal," perintah Riko kepada dua bodyguard di depan pintu ruang eksekusi.

"Baik, Tuan," jawab mereka sambil menunduk.

Tanpa sepatah kata lagi, Riko melangkah pergi. Bangunan tua tempat kejadian itu berada masih berdiri kokoh, meskipun tampak usang. Ia membelinya dari seorang kakek tua yang membutuhkan biaya pengobatan. Tempat yang sempurna untuk menyembunyikan rahasia kotor seperti ini.

Setibanya di kamar, Riko langsung menuju kamar mandi. Tanpa ekspresi, ia membuka bajunya dan berdiri di bawah pancuran air dingin. Air berwarna merah mengalir dari tubuhnya, bercampur darah dan bau anyir. Tapi semua itu tak menggoyahkan ketenangannya.

Lima belas menit kemudian, tubuh berotot dan penuh garis otot itu kembali bersih dan wangi. Tak ada sisa darah. Tak ada sisa rasa bersalah.

*****

Sementara dibelahan dunia lain, Xania akhirnya memutuskan keluar kamar. Ia berjalan menuju dapur dengan langkah malas, rasa lapar sudah tak bisa ditahan lagi. Perutnya seperti keroncongan, memanggil-manggil minta diisi.

Tanpa pikir panjang, Xania mengambil sebuah panci dan mengisinya dengan air, lalu meletakkannya di atas kompor.

Sambil menunggu air mendidih, ia mengambil sebungkus mi instan dari lemari dapur. Malam ini, mi kuah hangat sepertinya pilihan paling sempurna untuk melawan udara dingin yang menusuk.

Setelah membuka bungkusnya, ia menuangkan semua bumbu ke dalam mangkuk. Kemudian ia duduk di meja makan sambil menunggu air mendidih.

Xania menoleh ke sekitar, suasana apartemen begitu sunyi. Sepertinya Evan sudah tidur di kamarnya.

****

Terima kasih kepada reader's setia Crazy Obsession, yang masih setia menunggu kelanjutan cerita ini.

👇🏻SPAM KOMEN UNTUK NEXT👇🏻

Jangan lupa bantu vote & follow juga share ke teman-teman kalian, bantu ramaikan cerita ini biar author semangat update nya🫶🏻

Crazy ObsessionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang