Bab 32

1.4K 19 1
                                        

HAPPY READING
.
.
.

Pukul 10 pagi. Xania duduk terkulai di kursinya, menatap layar komputer dengan pandangan kosong. Suasana kantor yang tenang hanya dihiasi oleh suara ketikan keyboard dan deringan telepon sesekali. Tapi dalam kepalanya, seolah ada ribuan hal yang berputar tanpa henti.

Deadline yang semakin mendekat, email yang tak kunjung terbalas, dan rapat yang tiada habisnya. Rasanya, tubuhnya hampir tak mampu lagi mengimbangi pikiran yang terus berlari.

Sekilas Xania melihat cangkir di meja, masih berisi kopi setengah jadi yang sudah dingin. Ia merasa lelah, sangat lelah. Tetapi yang lebih membuatnya merasa tertekan adalah pikiran bahwa pekerjaan tak akan pernah ada habisnya. Setiap kali ia merasa sudah selesai, selalu ada saja yang harus dikerjakan lagi.

"Sudah cukup, Xania," gumamnya pelan pada diri sendiri, mencoba untuk menarik diri dari rutinitas yang memenjarakan pikirannya. Ia memutuskan untuk mengambil istirahat sejenak, meskipun hanya beberapa menit. Diri sendiri harus dihargai, pikirnya.

Kopi lagi, secangkir kopi panas mungkin bisa memberinya sedikit ketenangan.

Dengan langkah perlahan, Xania berdiri dan melangkah menuju dapur kantor. Dapur kecil yang sederhana itu adalah tempat paling damai di tengah kesibukan kantor yang padat. Mesin kopi otomatis yang ada di sana seakan menjadi teman terbaiknya di tengah-tengah tekanan kerja.

Xania memasukkan biji kopi ke dalam mesin, menunggu sejenak hingga aroma kopi yang khas memenuhi udara. Ada kelegaan yang datang begitu saja, seolah kopi ini bisa menenangkan kegelisahan di dalam dirinya.

Dengan secangkir kopi hangat di tangan, Xania kembali duduk di mejanya. Ia menyesap kopi itu perlahan, menikmati kehangatannya, berusaha untuk memberi ruang bagi pikirannya agar sedikit tenang.

Beberapa menit berlalu, dan sejenak Xania merasa seakan dunia di sekitarnya berhenti berputar. Terkadang, istirahat sebentar bisa memberi efek yang lebih besar daripada yang kita bayangkan.

Namun, sejenak kedamaian itu terputus oleh suara deringan ponsel yang tiba-tiba saja mengganggu keheningan.

Nama yang muncul di layar ponsel membuat Xania sedikit terkejut. Evan. Tidak hanya atasannya, Evan juga adalah Kakaknya, seorang pria yang selalu menjadi garda terdepan dalam membantu dan melindungi nya.

Tanpa pikir panjang, Xania mengangkat telepon itu.

"Halo, kenapa bang Evan?" ucapnya dengan suara sedikit kelelahan.

"Xania, bisa masuk ke ruang rapat? Ada beberapa hal yang perlu kita bahas terkait laporan terakhir. Aku butuh kamu segera." Di ujung telepon, suara Evan terdengar tegas dan langsung pada pokok pembicaraan.

Xania menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Ia masih ingin menikmati secangkir kopinya, tetapi tentu saja, pekerjaan selalu menjadi prioritas.

"Oke, Pak. Lima menit lagi saya ke sana." Balas Xania Profesional.

Setelah menutup telepon, Xania kembali menatap sendu kopi yang belum habis di tangannya. Dengan berat hati, ia menyimpan kembali cangkir itu dan merapikan mejanya.

Sebagai seorang adik sekaligus rekan kerja, Xania tahu bahwa Evan bukan tipe orang yang akan membuang waktu untuk hal-hal yang tidak penting. Jika Evan sudah meminta untuk bertemu bahkan mengubah nada bicara nya menjadi serius, itu berarti ada hal yang sangat mendesak.

Xania berjalan menuju ruang rapat dengan langkah yang sedikit lebih berat. Di dalam ruangan, Evan dan beberapa karyawan lain nya sudah menunggu.

Evan duduk di depan dengan laptop terbuka di hadapannya, matanya terfokus pada layar. Tidak ada basa-basi, seperti biasanya. Evan langsung berbicara setelah Xania duduk di seberangnya.

"Kita punya masalah dengan klien di Jepang," ujar Evan, menyodorkan beberapa berkas yang sudah disusun rapi. "Kamu sudah lihat email yang saya kirimkan tadi pagi?"

Xania mengangguk, mulai memfokuskan perhatiannya pada masalah yang ada di depan mata.

"Iya, Pak. Saya sudah baca. Mereka komplain tentang jadwal pengiriman barang yang terlambat."

"Betul," jawab Evan. "Kita harus segera menyusun strategi agar mereka tetap mau melanjutkan kontrak. Kamu punya ide?" Lanjut Evan.

Xania membuka berkas-berkas yang disodorkan Evan, mencoba berpikir dengan jernih meskipun pikirannya masih terasa berat akibat kelelahan.

Setiap karyawan yang memiliki tugas masing-masing pun sama pusing nya, terlihat wajah fokus mereka selama rapat berlangsung dengan kondisi ruangan yang tegang.

Rapat berlangsung serius, dengan setiap detail diperhitungkan dengan hati-hati. Xania tahu bahwa keputusan yang mereka buat akan sangat menentukan kelanjutan proyek besar ini.

Waktu berlalu begitu cepat, dan rapat pun berlanjut tanpa ada tanda-tanda akan berakhir. Xania berusaha keras untuk tetap fokus, tetapi semakin lama, ia semakin merasa pusing karena kelelahan.

Setelah lebih dari satu jam, Evan akhirnya menutup laptopnya dengan sigap.

"Oke, kita akan tindak lanjuti ini secepatnya," katanya dengan suara yang sudah lebih tenang.

"Saya butuh bantuan kamu Xania, tolong buat laporan final dalam dua jam ke depan. Setelah itu, kita diskusi lebih lanjut." Ujar Evan kepada Xania.

Xania hanya mengangguk, merasa lelah meskipun rapat itu sudah berakhir. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri.

Setelahnya karyawan lain pamit lebih dulu bubar, tersisa Xania dan Evan di ruangan itu.

Namun, sebelum ia sempat keluar dari ruang rapat, Evan menambahkan satu kalimat yang cukup mengejutkan.

"Dek, makan siang kamu tidak ada jadwal dengan seseorang, kan?" tanya Evan dengan nada yang sedikit lebih lembut seperti biasanya.

Xania terdiam sejenak. Sebenarnya ia sudah merencanakan makan siang bersama Alvaro sejak pagi tadi, untuk sedikit bersantai setelah pagi yang penuh dengan pekerjaan.

Tetapi, mendengar Evan berbicara seperti itu, Xania tahu bahwa ada sesuatu yang lebih penting yang harus dia prioritaskan.

"Hm... sebenarnya aku ada janji makan siang sama Alvaro, Bang. Tapi, kalau ada yang mendesak, aku bisa membatalkan nya" Xania mencoba memberi pengertian.

"Bisa tidak itu di tunda dulu, dek? Kita harus segera menyelesaikan laporan ini secepatnya. Makan siangnya bisa lain waktu, sekarang makan siang sama Abang aja ya, sekalian selesaikan laporan tadi." Ujar Evan dengan lembut.

Xania diam sejenak, walaupun ia tidak masalah dengan batal nya makan siang itu, Xania hanya merasa tidak enak hati dengan Alvaro karena sudah berjanji, namun ia tahu bahwa pekerjaan ini harus diselesaikan secepat mungkin. Semoga saja Alvaro bisa mengerti.

"Bisa, Bang. Nanti aku kabarin ke Alvaro." Ucap Xania.

"Oke, Abang tunggu di ruangan ya, nanti kita pesan makanan aja" Jawab Evan.

Begitu mereka keluar dari ruang rapat, Xania mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan kepada Alvaro, untuk membatalkan janji makan siangnya.

"Maaf, Al. Aku ada rapat mendadak. Kita tunda makan siang nya, tidak apa-apa?"

Beberapa detik kemudian, pesan balasan dari Alvaro masuk.

"Tidak apa-apa, Xania. Pekerjaan memang selalu menjadi prioritas. Semoga lancar rapatnya!"

Xania menghela napas, merasa sedikit lega. Meskipun Alvaro mengerti, Xania tau pasti rasa kecewa tetap ada di diri Alvaro.

•••••••

Terima kasih kepada reader's setia Crazy Obsession, yang masih setia menunggu kelanjutan cerita ini.

👇🏻SPAM KOMEN UNTUK NEXT👇🏻

Jangan lupa bantu vote & follow juga share ke teman-teman kalian, bantu ramaikan cerita ini biar author semangat update nya🫶🏻

Crazy ObsessionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang