Bab 37

1.2K 18 4
                                        

"Hmm, harum sekali mie nya. Aku tambahkan cabai deh, biar lebih mantap!"

Gadis cantik itu membuka pintu kulkas dan mulai mencari cabai. Setelah menemukannya, ia mencuci bersih dan memotongnya lalu memasukkannya ke dalam mangkuk berisi mie.

"Nah, begini kan jadi lebih enak. Cuacanya juga mendukung banget, sekarang tinggal nasinya nih. Kata warga +62 sih, kalau belum makan nasi ya belum kenyang." Xania tertawa kecil mengingat moto khas warga Indonesia yang satu itu.

Saat sedang asyik makan, tiba-tiba Evan datang dengan gaya jahilnya dan langsung menyambar mie yang sedang disantap Xania. Tanpa disangka, Xania yang tidak menyadari kedatangan sang abang langsung terkejut karena makanannya direbut begitu saja.

"Ehei, makan sendiri aja nih. Bagi dong, Dek. Kamu nih, nggak nawarin Abang" ucap Evan sambil nyengir.

"Apaan sih, Bang! Itu mie aku, main rebut aja. Kalau mau ya bikin sendiri sana!" Xania kesal dengan tingkah Evan yang kekanak-kanakan. Di rumah, tingkah Evan memang sering bikin Xania ingin menjitak kepalanya.

"Yaudah, ini Abang balikin deh. Abang bikin sendiri aja, kayaknya enak banget tuh mie nya." Dengan tidak tau diri, Evan menyodorkan mangkuk mie yang sudah hampir habis itu.

"Udah keburu habis baru dibalikin. Yaudah, buat Abang aja deh, aku bikin lagi." Xania memonyongkan bibirnya. Padahal, sebenarnya dia agak nggak rela karena mie itu sudah ia racik dengan rasa yang pas.

"Jelek banget deh bibir kamu dimonyong-monyongin gitu. Hati-hati di antup nyamuk!" goda Evan sambil tertawa.

"Ih, Abang tuh yang jelek. Kelakuan jelek, muka juga jelek!" balas Xania, kesal namun tak bisa menahan tawa juga.

"Yeh, jelek-jelek gini Abang masih setara sama siapa tuh, bias kamu yang orang Koreah itu, siapa sih namanya?"

"Korea, Bang! Jungkook! Dan Abang tuh jauh banget bedanya" Sambil tertawa geli, Xania kembali membuat mie instan dengan resep yang sama, tapi kali ini lebih banyak cabai dan tanpa nasi.

"Iya iya, siapa pun lah itu. Si Jongkok itu mah masih kalah lah sama Abang pasti" jawab Evan dengan percaya diri.

Tawa Xania mendadak meredup. Nama Jungkook entah kenapa mengingatkannya pada seorang pria yang mirip idolanya itu, namun jauh dari kata menggemaskan. Sosok yang membawa luka dan trauma mendalam dalam hidupnya.

"Heh, Dek kok jadi melamun? Lihat tuh mie nya, udah matang. Nanti keburu lembek, gak enak loh." Tegur Evan

"Hah? Oh iya, mie nya! Gara-gara Abang sih jadi lupa," keluh Xania.

"Apaan sih? Kok aku jadi mikirin pria brengsek itu lagi, ada apa sih sebenarnya?" gumam Xania dalam hati, bingung dengan pikirannya sendiri.

"Ini nih kebiasaan cewek, nggak pernah mau salah, cowok aja terus yang disalahin. Ya udah deh, salah Abang aja semuanya. Kamu mah paling bener," Evan memutar bola matanya, kesal bercanda.

Tanpa menjawab, Xania menyiapkan makanannya lalu kembali duduk di meja makan. Evan tetap di sana, menemani adik tercintanya.

"Oh ya, Dek. Gimana laporan yang kemarin? Sudah jadi belum? Client kali ini nyebelin banget, kalau bukan karena dia bawa projek gede, udah Abang tinggalin."

"Sudah setengah, ini lagi rehat dulu buat makan," jawab Xania singkat.

"Kamu jangan kebiasaan telat makan, Dek. Nanti kalau sakit, Abang juga yang repot. Kasihan Mama dan Papa juga kalau sampai tahu."

"Iya, gimana kabar Mama dan Papa, Bang?"

"Baik-baik aja. Tapi kamu itu jarang nelpon. Kemarin pas Abang telpon, mereka sempat khawatir dan marah karena kamu nggak kabarin mereka."

"Ya maaf, Bang. Abang juga tahu kerjaanku lagi banyak banget. Harusnya sih nggak lupa ya, soalnya yang kasih kerjaan juga siapa?" Xania menyindir sambil melirik tajam.

"Hahaha iya deh iya, maaf. Ini juga karena client kali ini super ribet." Xania hanya diam, lalu melanjutkan makan mie nya yang tinggal sedikit.

"Dek, kita pulang ke Indonesia yuk. Gimana?"

"Kenapa? Tumben ngajak pulang?"

Xania yang baru saja selesai makan, langsung berdiri, mencuci mangkuknya di wastafel, lalu membereskan semuanya.

"Kita udah setahun di Singapura, menurut Abang sih udah waktunya kita pulang ke Surabaya. Sekalian lihat Mama dan Papa walaupun mereka sehat."

"Aku belum siap, Bang. Aku masih takut ketemu pria itu. Meski bukan ke Jakarta, tapi rasanya belum berani kembali ke Indonesia."

"Nggak apa-apa, Xania. Itu sudah lebih dari setahun lalu. Abang janji akan selalu lindungi kamu, percaya deh."

"Xania percaya sama Abang. Buktinya selama ini aku merasa aman. Tapi aku masih perlu waktu buat mikir. Kalau project ini udah kelar, aku akan kasih jawabannya."

"Baiklah. Pikirkan baik-baik ya, Dek. Kalau memang belum siap, kita bisa tunda dulu kepulangan ke Indonesia." Evan mengelus lembut rambut adik kesayangannya.

****

Terima kasih kepada reader's setia Crazy Obsession, yang masih setia menunggu kelanjutan cerita ini.

👇🏻SPAM KOMEN UNTUK NEXT👇🏻

Jangan lupa bantu vote & follow juga share ke teman-teman kalian, bantu ramaikan cerita ini biar author semangat update nya🫶🏻

Crazy ObsessionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang