Langkah Riko terdengar jelas di lorong setelah ia keluar dari ruang rapat. Suasana masih tegang di belakangnya, tapi ia tidak peduli. Wajahnya tetap datar, tak menunjukkan tanda lelah sedikit pun meski baru saja memimpin rapat penuh tekanan.
Sesampainya di ruangannya, pintu tertutup otomatis begitu ia masuk. Riko langsung melepas jasnya dan duduk di kursi. Baru saja ia hendak membuka laptop, ponselnya berdering. Ia melihat nama di layar, lalu menjawab tanpa banyak kata.
"Ya."
"Tuan, saya ingin menyampaikan informasi terbaru. Nona Xania dan seorang pria yang diketahui sebagai kakak kandungnya telah tiba di Surabaya kemarin sore. Saat ini, mereka berada di rumah orang tua mereka."
Riko terdiam. Matanya menatap kosong ke arah dinding. Beberapa detik tak ada suara. Tangan kanannya menggenggam ponsel lebih erat.
"Bagus. Pastikan rumah itu tetap dalam pengawasan. Saya mau tau jam berapa gadisku keluar, dan berapa lama dia di luar. Laporkan semua secara detail."
"Siap, Bos. Saya akan langsung kirim."
Sambungan terputus. Riko tidak langsung bergerak. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi, mata masih lurus ke depan. Ekspresinya sulit ditebak, setelah waktu yang sangat panjang, kini gadis itu ada dalam jangkauannya.
Beberapa kali Riko gagal untuk menemui Xania karena kesibukan nya, kali ini tidak akan lagi!
Riko akan memastikan semua masalah perusahaan sudah terkendali, fokus nya hanya masalah produksi film saat ini yang tidak akan memakan banyak waktu seperti saat ia di New York.
Tangannya kembali mengambil ponsel. Ia menekan tombol interkom.
"Halo, Pak?" Ucap Bu Dian.
"Atur penerbangan saya ke Surabaya besok. Saya ingin penerbangan paling awal, mobil harus sudah siap saat saya tiba disana. Saya tidak mau ada supir, jadi jangan libatkan siapa pun selain kamu." Ucap Riko.
"Baik, Pak. Saya urus sekarang."
"Satu lagi, untuk pertemuan nanti, kirim manajer produksi dan divisi legal agar mengurus perizinan saat rapat dengan lembaga penyiaran. Saya hanya akan memantau dari jauh, dan semua laporan tetap disampaikan kepada saya. Jika nantinya kehadiran saya benar-benar diperlukan, saya akan ikut melalui Zoom."
"Saya ingin semua dokumen yang memerlukan tanda tangan saya, sudah berada di meja sore ini. Sampaikan kepada semua orang yang hadir dalam rapat tadi agar segera menyelesaikan dokumen tersebut." lanjut Riko.
"Siap, Pak. Akan saya sampaikan dan pastikan semuanya berjalan sesuai arahan." Jawab Bu Dian.
Interkom dimatikan Riko begitu saja. Ia pun bangkit berdiri dan berjalan ke jendela. Pria itu menatap keluar, namun pikirannya jauh. Ia sudah tahu ke mana harus pergi, dan siapa yang harus dia temui. Kali ini ia tidak akan menunda nya lagi dan tidak akan membiarkan apa pun menghalangi nya.
Pergerakan harus cepat namun hati-hati, dan dia sendiri yang akan mengatur semuanya. Kali ini dirinya tidak akan gegabah seperti dulu yang membuat Xania ketakutan, walaupun keinginan mengambil paksa Xania sangat besar.
"Tunggu aku, sayang. Aku benar-benar merindukanmu, sangat" gumamnya, ada getaran tak sabar dalam suaranya yang berat dan datar.
Hatinya saat ini terasa sangat sakit setiap kali membayangkan bagaimana ekspresi Xania saat nanti bertemu dengannya.
Apakah Xania akan merasa takut? Atau justru... sudah melupakannya sama sekali?
Pikiran-pikiran itu membuat Riko semakin tidak sabar untuk segera bertemu dengan perempuan yang masih menjadi pujaan hatinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Crazy Obsession
Romance"Mau, lari kemana lagi? Sudah ku bilang kau tidak akan pernah bisa lepas dari jangkauan ku sayang" senyum licik terlihat jelas di wajah yg tampan itu. "Kau, bisa gak Menjauhlah dari ku!" Gadis tersebut bergegas melarilan diri,ke sebuah tempat gang...
