18

15K 1.1K 82
                                        

Tak lama datanglah Doyoung tentunya dengan Mark, Haechan tidak tidur dia duduk bersandar dengan kepalanya yang terasa pusing.

"Yang Mulia permaisuri, bagaimana keadaanmu?" tanya Doyoung dengan mengamati pergerakan Haechan.

"Hanya kepalaku yang pusing." ucap Haechan jujur.

"Mohon izin untuk memeriksa anda Yang Mulia." ucap Doyoung dan memegang urat nadi Haechan, "Sepertinya masih ada sedikit efek racun yang membuat anda sakit kepala dan demam, tapi itu tidak terlalu fatal. Saya akan membuatkan ramuan peredanya, Yang Mulia hanya perlu banyak istirahat."

"Terima kasih." ucap Haechan pelan meskipun dia tidak tahu siapa tabib itu, setelah itu Doyoung pamit untuk pergi.

"Istirahatlah." perintah Mark.

"Iya dan kau bisa pergi." ucap Haechan malas.

"Aku tidak akan pergi, aku akan menemanimu di sini." ucap Mark santai dan Haechan terkejut bukan main.

"Untuk apa kau menemaniku di sini, lebih baik kau temui selir kesayanganmu itu. Aku ingin istirahat di sini sendirian." omel Haechan dan tentu dia masih sakit hati karena dituduh oleh Mark akan penculikan anaknya.

"Kau permaisuriku, apa aku tidak boleh menemanimu di sini?" tanya Mark balik, lalu memaksa Haechan untuk berbaring dan dia mengambil tempat di samping Haechan serta memeluknya.

"Mark, lepaskan aku. Untuk apa kau memelukku segala?" Haechan risih dan berusaha melepaskan dirinya ditambah dia tidak tahu mengapa detak jantungnya jadi berdetak begitu kencang.

"Diam dan tidur, jika kau tidak diam aku benar-benar akan menidurimu! Tidak peduli kau sedang sakit saat ini." ucap Mark serius lalu meraih tangan Haechan dan menaruhnya di atas selakangannya.

Haechan menarik tangannya kasar, saat merasakan gundukan naga itu mengeras, "Dasar, kau kaisar mesum, brengsek!"

"Kau tahu aku sudah menahannya dari semalam, apalagi bibirmu benar-benar menggodaku karena aku sadar kau sedang sakit, aku tidak tega melakukannya. Jadi jangan membuatku bertindak tidak memiliki hati atau kau memang ingin mengulang malam panas kita, siapa tahu itu obat terbaikmu." goda Mark dengan menyeringai serta melumat lembut daun telinga permaisurinya, hingga membuatnya mendesah pelan.

"Aku tidur, jika kau berani melakukannya, aku akan memotong naga kecilmu itu!" ucap Haechan dengan semburat merah di pipinya, satu karena malu dan satunya lagi karena dia kesal, sedangkan Mark dia hanya tertawa kecil lalu memeluk Haechan yang sudah tidak memberontak.

Akhirnya mereka berdua tertidur bersamaan, hingga Doyoung masuk dan tersenyum senang melihat kebersamaan kaisar serta permaisurinya, sesuatu yang sedari dulu sangat diharapkan oleh Alpha dan omega tersebut, Doyoung menaruh ramuan obatnya di meja nakas dan segera pergi.

Di siang harinya, terdengar ketukan di pintu yang membuat Mark membuka matanya lalu menatap ke arah di sebelahnya yang di mana Haechan masih tertidur pulas di pelukannya.

Lalu Mark bangun secara perlahan tanpa berniat membangunkan permaisurinya, setelah itu dia membukakan pintunya dan terlihat jendralnya serta adik angkatnya itu ada di depan pintu, "Ada apa?"

"Yang Mulia, ruangan pertemuan sudah disiapkan. Saya sudah memanggil orang-orang yang ingin anda panggil." ucap Jeno dengan tegas.

"Baiklah suruh mereka untuk menungguku, aku akan membangunkan permaisuriku untuk minum obat." ucap Mark dengan datar dan Jeno menganggukkan kepalanya mengerti.

Mark menutup pintunya lagi, lalu membangunkan Haechan dengan lembut hingga mata cantik itu membuka secara perlahan dan Mark begitu mengagumi mata cantik dengan tatapan murni itu, benar-benar membuatnya sangat terpana, dia tidak tahu mengapa baru kali ini dia sadar betapa cantik permaisurinya, mengapa dulu dia bisa berpindah haluan dengan mengagumi Gihoon.

The Flower EmperorTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang