Mark masuk ke dalam ruang pertemuan, dia bisa melihat banyaknya wajah yang bingung serta penasaran untuk apa mereka dipanggil.
"Hormat kepada Kaisar agung!" semuanya menundukkan kepala, hingga Mark duduk di singgasana.
"Angkat kepala kalian, kalian tahu mengapa kalian aku panggil di sini?" tanya Mark dengan wajah datar dan dingin, semuanya terdiam.
"Pertama mengapa di daerah barat masih banyak rakyat yang kelaparan sedangkan aku sudah mengeluarkan banyak uang kerajaan untuk mengatasi kelaparan dan mengapa pajak meningkat, aku tidak pernah satu sen pun meningkatkan pajak. Menteri keuangan bagian barat kau bertanggung jawab penuh, katakan pembelaanmu?" tanya Mark dengan wajah dinginnya namun tatapan mata tajam itu membuat pria tua itu ketakutan.
"Yang Mulia Kaisar, mohon ampun atas kelalaian saya. Saya akan menyelidikinya, kemungkinan besar adalah bawaan saya yang melakukan penghianatan." ucapnya terbata-bata.
Mark menyeringai, "Kau ingin menyelidiki bawaanmu? Jendral Jeno lemparkan seluruh bukti keuangan pribadinya di depan matanya."
Jeno langsung melemparkan lembaran kertas serta surat kepemilikan tanah ladang, rumah dan uang serta emas yang dimiliki oleh pria tua itu, pria itu melongo terkejut dengan semua hartanya yang dipertunjukkan di hadapan semuanya.
"Kau memiliki beberapa ladang dan rumah milik warga yang berhutang padamu agar mereka bisa membeli pupuk dan bibit yang kau jual dengan harga tinggi di pasaran. Lalu kau memeras mereka dengan bunga besar hingga mereka terpaksa melepaskan ladang, rumah dan barang berharga mereka untukmu.
Kedua kau memperkerjakan mereka dengan upah kecil, dan meningkatkan pajak yang mencekik dan terakhir kau memakan uang kerajaan yang seharusnya untuk mereka, pantas kekayaanmu sungguh luar biasa. Hukuman apa yang pantas untukmu?" ucap Mark dengan lantang.
"Mohon ampun Yang Mulia Kaisar." ucapnya dengan menunduk, gemeter dan ketakutan.
Lalu tanpa basa-basi Mark mengambil pedangnya saat Jeno memberikan dia langsung menancapkannya pada punggung menterinya yang melakukan korupsi besar-besaran untuk dirinya sendiri.
Jerit kesakitan terdengar melengking dan semuanya menunduk tidak berani menatap ya kecuali Aldous yang menatap datar tidak peduli seolah pembunuhan dan darah adalah hal biasa untuknya, gelar kaisar kejam itu benar-benar bukan isapan jempol belaka buktinya Mark langsung menghabisi bawaannya yang tidak jujur dalam bekerja dan memeras rakyatnya, dia tidak menyukainya.
"Kau kesakitan hanya dengan tusukan pedangku, tapi kau tega memeras mereka yang menangis akan menderitanya kehidupan mereka yang miskin. Kau mencuri ladang, rumah,uang rakyatku dan tertawa diatas tangis dan derita mereka. Kesalahanmu tidak bisa dimaafkan apapun alasannya, siapapun yang mencuri uang kerajaan dan membuat memeras rakyatku, maka hukumannya adalah kematian! Itu peraturanku dan kau harusnya tahu aku tidak akan memaafkan penghianatan." ucap Mark serius dan penuh amarah, lalu mencabut dan menusuknya kembali, beberapa kali hingga pria itu tewas serta ruangan pertemuan berlinang noda darah yang membasahi.
"Tindakanku hari ini padanya, sepertinya cukup untuk menjadi peringatan untuk semuanya yang berani melanggar peraturanku!" ucap Mark tegas.
"Baik Yang Mulia." ucap semuanya dengan penuh rasa hormat meskipun mereka semuanya sudah berkeringat dingin.
"Selanjutnya aku ingin tahu mengapa semuanya bisa lalai hingga putraku diculik?" Mark kembali dengan amarahnya yang membuat semuanya bergidik ngeri.
"Mohon ampun Yang Mulia." semuanya meminta ampun.
Mark menatap datar, "Bahkan menuduh permaisuriku dalang dibalik penculikan putranya sendiri, padahal permaisuri tengah terbaring di tempat tidur setelah dia mendapatkan penyerangan juga."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Flower Emperor
FanfictionHaechan hanyalah seorang pemuda biasa yang bekerja di toko bunga, seseorang yang keras kepala, sedikit bar-bar dan baik hati, tanpa sengaja hari itu dia meninggal karena luka tusukan seseorang yang akan merampok tokonya. Bukannya berada di alam kem...
