Saat ini mereka bertiga makan bersama di kamar Haechan, terlihat Haechan yang menatap Mark tajam dan Mark menatapnya penuh seringai.
"Aku senang bisa makan bersama Appa dan Eomma, hanya bertiga." ucap Chenle dengan penuh senyuman.
"Eomma ikut senang jika Chenle senang." Haechan tersenyum lembut untuk anaknya dan mencoba mengabaikan Mark yang terus menatapnya.
Mark dengan tiba-tiba mengambilkan semua lauk yang ada ke piringnya, "Kau makanlah juga, kau baru sembuh. Aku tidak mau kau jatuh sakit lagi."
"Iya, aku juga akan makan tanpa kau suruh." ucap Haechan malas dan mulai makan tanpa tatanan ala anggota kerajaan yang penuh aturan, Mark tersenyum tipis begitu pun dengan Chenle.
Selesai makan Chenle memutuskan untuk pergi ke kamarnya sendiri dan tinggallah Mark dan Haechan.
"Ada yang ingin kubicarakan denganmu." ucap Mark dengan serius.
"Apa?" tanya Haechan yang juga serius. 'Sebenarnya apa yang ingin dia bicarakan, kenapa terlihat serius?'
"Aku akan memberikan tugas permaisuri padamu mulai saat ini." ucap Mark dengan menatap Haechan yang terkejut.
"Untuk apa? Kau tidak sedang bercanda denganku bukan Mark!" tanya Haechan yang terkejut bukan main.
"Tidak, aku serius. Aku ingin kau mengambil alih kembali tugasmu sebagai permaisuri." ucap Mark dengan yakin.
"Bukannya kau sendiri yang mengatakan jika aku gila, kau yakin menyuruhku untuk mengurus seluruh hal yang ada di istana? Kau tidak takut aku membuat berantakan dan mempermalukan dirimu." ucap Haechan yang tidak percaya karena dia sangat ingat dibuku Mark sendiri yang mengumumkan jika permaisurinya gila dan tidak dapat mengambil tugas permaisuri, lalu Gihoon datang dan mengambil alih.
"Aku minta maaf untuk itu, aku berharap kau segera memulai melaksanakan tugasmu dan Jaemin yang akan mengajari semua hal yang tidak kau ketahui dan jangan pernah ragukan Jaemin, dia cukup ahli untuk semua hal tentang istana dan sekitarnya." ucap Mark dengan penuh penyesalan dan Haechan kembali dibuat terkejut akan perubahan sikapnya yang begitu cepat.
Menurut buku yang dia baca, Mark benar-benar dibuat tergila-gila oleh selir itu, dia dipengaruhi jika permaisurinya hanya membawa kesialan untuk kerajaannya, terlebih saat kaisar itu setiap hari meminum teh hangat yang dibuatkan oleh Gihoon yang selalu diberi ramuan cinta, ya itulah yang membuat hati dan pikiran Mark tertutup akan omeganya sendiri.
Sekarang Haechan bingung mengapa Mark berubah, menyerahkan seluruh hal tentang istana, bersikap baik padanya apa mungkin karena dia merenggang nyawa menyelamatkan anaknya? Haechan sungguh bingung, dia berusaha keras menggali ingatannya akan buku yang di baca, alur selanjutnya bagaimana untuk menebak seluruh akhir kisahnya.
Haechan tidak mau salah langkah dan terbunuh sia-sia seperti diakhir novel yang dia baca, meskipun tidak bisa kembali ke dunianya, dia ingin hidup dengan baik di dunia ini dengan gelar sebagai permaisuri ataupun hanya rakyat biasa.
"Apa aku bisa?" tanya Haechan ragu ditambah dia memang bukan jiwa permaisuri yang asli, dulu hidupnya hanya dipenuhi oleh bekerja keras, hidup mandiri dan kebebasan tanpa aturan.
Haechan tidak punya orang tua, mereka telah meninggal karena kecelakaan hanya dirinya yang selamat, ketika usianya sepuluh tahun.
Lalu dia masuk ke dalam panti asuhan karena memang ke dua orang tuanya sama sekali tidak memiliki keluarga manapun.
Setelah besar, dengan mengeyam pendidikan yang cukup dia memutuskan untuk keluar dan berjuang dengan dirinya sendiri, Haechan memang dikenal sedikit bar-bar, pintar, jago berkelahi dan hatinya sangat baik, ketika dia menolong seseorang terkadang dia jarang memikirkan keadaannya sendiri, sedikit ceroboh memang tapi itulah dirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Flower Emperor
FanfictionHaechan hanyalah seorang pemuda biasa yang bekerja di toko bunga, seseorang yang keras kepala, sedikit bar-bar dan baik hati, tanpa sengaja hari itu dia meninggal karena luka tusukan seseorang yang akan merampok tokonya. Bukannya berada di alam kem...
