Saat ini, Arya, Raya, Tara dan beberapa anak zaigham tengah berdiri dengan cemas di depan pintu UGD, dengan terus melafalkan doa mereka menatap cemas dibalik pintu kaca tersebut.
" Ar, ini Junet bakal bangun kan." Ujar Raya sembari menahan tangisnya.
" Tenang Ya, Junet ga bakal ninggalin kita kok, kita terus doain aja supaya Junet cepet sadar." Arya menenangkan Raya dan teman-teman lainnya.
Tak lama, Wira dan keluarga Junet yang lain pun tiba disana, " Gimana keadaan Junet Ar?" Tanya Rasyid.
" Belum tau Syid, dokternya belum keluar dari tadi." Jelas Arya.
Julia sudah tak kuasa menahan tangisnya, ia terduduk lemas dilantai, dengan terus terisak Julia dibawa Wira untuk duduk di kursi tunggu.
" Mama yang kuat ya, bang Junet pasti selamat kok Ma." Wira mencoba menenangkan ibunya.
Tak lama setelahnya, dokter dan beberapa perawatan keluar dari balik pintu kaca tersebut.
" Keluarga dari saudara Raffasya?" Tanya dokter tersebut.
" Disini Dok." Seru Neon yang baru saja sampai.
" Baik bapak, bisa ikut saya sebentar."
Neon mengikuti dokter tadi dengan perasaan gelisa. Amarah, dan ketakutan menghantui pikirannya.
" Julia kamu tenang dulu ya, jangan takut Junet pasti kuat kok." Saat ini Ina bergantian menenangkan Julia.
Tak lama setelahnya perawatan kembali masuk ke ruang tersebut dan membawa Junet yang terbujur lemas diatas pembaringan dengan alat medis yang melekat pada tubuhnya keluar dari ruangan itu.
" Suster anak saya mau dibawa kemana?" Tanya Julia saat melihat Junet dibawa keluar.
Salah satu perawatan pun berhenti dan mencoba menjelaskan keadaan Junet, " jadi begini ibu, saudara Raffasya harus kami tindak lanjuti dengan melakukan operasi secepatnya, hal ini dikarenakan adanya pembekuan darah di dalam otak saudara Raffasya akibat benturan keras yang terjadi saat beliau mengalami kecelakaan tadi."
Setelah menjelaskan kondisi Junet, perawatan tadi pun meminta izin untuk kembali melanjutkan tugasnya.
Julia hampir terjatuh, dengan sigap Wira segera memeluk tubuh ibunya dari samping, " Mama istirahat dulu ya Ma, Wira anterin pulang ya, biar yang lain aja yang nungguin Abang." Ujar Wira.
" Gak, mama mau disini aja, nanti kalo Abang kamu nyariin mama gimana." Ujar Julia disela tangisnya.
Di lain tempat, Joe dan keluarga Ale tengah berada di kantor polisi, proses hukum untuk Ale akan segera ditindaklanjuti.
___________
Dua jam telah berlalu setelah Junet memasuki ruang operasi, lampu di atas pintu ruangan tersebut telah berubah warna yang menandakan proses operasi di dalam sana telah selesai.
Kembali pintu kaca itu terbuka dan beberapa dokter di ikuti para perawat keluar dari ruangan tersebut.
" Bagaimana Dok, apa operasinya berjalan lancar?" Tanya Neon tepat saat dokter itu keluar.
" Alhamdulillah pak, operasinya berjalan lancar dan tidak ada kendala sedikitpun, saya permisi dulu ya pak, sebentar lagi anak bapak akan dipindahkan ke ruang rawat." Jelas Dokter tersebut.
Seluruh orang di lorong itu mengucapkan syukur yang dalam, tangis haru tak lepas dari keluarga dan teman-teman Junet. Tak lama para perawat kembali keluar dari ruangan tersebut, membawa Junet yang masih terbaring diatas pembaringannya.
Tubuh gagah itu kini terlihat lemas, perban menghiasai kepalanya dan sebagian tubuh lainnya. Neon memeluk Julia yang sedari tadi menangis, sembari mengikuti para perawat itu.
___________
" Kita mau ke kantor polisi dulu, lo pada balik aja dulu istirahat." Kata Rasyid pada anak-anak Zaigham yang masih berdiri di halaman rumah sakit.
" Gak papa bang, kita disini aja, lagian kita juga gak ada kerjaan." Ujar Mail yang turut di iyakan oleh yang lain.
" Oke kalo gitu, nih duit buat beli makan, nanti Lo pada kalo mau balik langsung aja gak papa." Rasyid menyodorkan beberapa lembar uang kepada Mail, dengan senang hati Mail menerimanya.
" Giliran dikasih duit ae gercep lu Il." Ejek Raya.
Mail yang mendengarnya hanya cengengesan saja, Rasyid dan Arya segera melenggang pergi meninggalkan Mail dan anak-anak Zaigham yang lainnya.
Mail berbalik menatap teman-temannya, " makan dulu yuk." Ajaknya disertai cengiran lebar.
Yang lain pun mengangguk dan ikut tersenyum juga. " Yee giliran makan gercep lu pada." Kembali Raya bersuara.
" Laper bang awokawok." Jawab Juan.
Beberapa laki-laki tampan itu pun bergegas meninggalkan halaman rumah sakit dengan berjalan kaki mencari tempat makan terdekat.
Raya masih stay di tempatnya bersama Tara. "Mending kita berdua masuk aja yok, merinding nih gue disini." Ajak Tara.
Raya pun menyetujuinya, keduanya melenggang santai memasuki koridor rumah sakit yang sepi, angin malam berhembus membuat bulu kuduk mereka berdiri.
" Raya!" Panggil seseorang dari belakang.
" Tar, anjirrr ada yang manggil gue Lo denger gak." Seru Raya sembari mencengkram lengan Tara.
" Iyaa gue denger, tenang kita jalan aja jangan keliatan kalo takut." Kata Tara sembari berjalan cepat.
" Taraa!"
Kedua manusia itu menghentikan langkahnya, " tunggu aba-aba dari gue ya Tar." Ujar Raya.
" 1... 2... Huaaaaa emakkk ada setan." Raya berteriak sembari berlari meninggalkan Tara yang masih membatu ditempat.
Saat hendak melangkahkan kakinya, niat Tara terhenti karena ada tangan yang mencekram bahunya.
" Huaaa ampun Mbah, saya disini juma eh cuma mau jengukin temen saya Mbah, saya nggak macem-macem kok."
" Heh kamu kira aku setan apa!" Seru seseorang dari belakang.
" Ampun neng, kalo bukan setan apa, pasti Tante Kunti ini." Ujar Tara ngelantur.
" Tara!! Ini aku Kanaya, buka dulu mata kamu!" Ujar Kanaya emosi.
Tara segera membuka matanya, dan ya benar saja Kanaya saat ini berdiri di hadapannya dengan tatapan kesal.
" Ehh neng cantik," kata Tara sembari cengengesan.
__________
Hollaaa apa kabar kalian semua?
Semoga selalu dalam keadaan sehat dan baik-baik saja ya
Tak henti-hentinya aku ucapin makasih banyak buat kalian yang masih setia baca MSB sampai saat ini, aku minta maaf belum bisa up banyak, kalo gak ada halangan seminggu kedepan aku bakal usahain untuk up.
Love banyak-banyak untuk kalian semua, makasih udah nunggu MSB sampai saat ini. 💖💖💖💖💖💖
See you next part ♥️♥️♥️👉
KAMU SEDANG MEMBACA
My Soplak Brother
HumorFirst story😁, Jadi Maaf kalo ada kata2 yang salah ________&&& Gue Wira Giandra Estiawan, dicerita ini sebenarnya bukan gue pemeran utamanya, melaikan Kakak laki-laki gue yang selisih usia kita cuma satu tahu. Dia Raffasya Jamaluddin Estiawan, gue...
