MSB#30

238 14 0
                                        

" Woyy Neng Kanaya! Ikut kesini juga." Teriak Junet dengan tak tau malunya.

Semua atensi beralih ke arah Junet, Joe dan Ani hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah lakunya.

Kanaya yang dipanggil pun menoleh kearah Junet, sembari melambai dan tersenyum. Junet pun membalas.

Plak...

Rasyid memukul lengan Junet dengan cukup keras, " yang sopan bego, udah cuman kutangan sama make boxer juga." Omel Rasyid.

" Hehehe gapapa atuh, dirumah kn harus tampil sederhana aja."

Rasyid pun meninggalkan Junet dan duduk disamping kedua orang tuanya.

" Bisa kita mulai Pak?" Tanya Ayah Ale.

" Sebentar, masih ada yang saya tunggu." Ujar Joe.

Suasana kembali hening, Junet yang tak suka keheningan akhirnya membuka suara, " Ma si bunting mana?" Tanya Junet asal.

Ale yang mendengar langsung menatap Junet dengan seringai, Junet yang paham arti tatapan tersebut berusaha untuk tidak lepas kendali.

" Rasya masih tidur, tadi abis minum obat." Jawab Ani.

" Rasya kenapa buk?" Tanya Erita.

" Ga usah sok peduli." Ketus Rasyid.

Erita diam tak menanggapi, sekarang memang situasi yang kurang baik antar kedua belah pihak.

" Woyy Joe ane datang yuhuu!!"

Kembali, seluruh atensi beralih kearah pintu tentu saja kembali datang orang yang tak tau malu, siapa lagi kalo bukan Neon.

" Memang buah jatuh ngga jauh dari pohonnya." Ujar Ale.

" Lah biarin, iri lu jadi buah jatuh tapi hanyut ke sungai, jadi kagak mirip bapak Lo hahahaha." Ejek Junet.

" Udah-udah, sekarang udah bisa kita mulai." Lerai Joe.

" Mulai apa Pa?" Tanya Junet.

" Masalah tanggal pertunangan dan pernikahan."

" APAA!!" Junet terkejut, jadi Ale akan bertanggung jawab. 

Ia turut senang, namun masih ada rasa tak rela didalam hatinya untuk melepaskan Rasya. Apalagi untuk laki-laki bajingan seperti Ale, tapi mau bagaimana lagi. Ternyata apa yang dia kira tidak terjadi. Ya semua skenario dunia ini ada di tangan Tuhan, jadi Junet hanya bisa mengira namun yang terjadi sebaliknya.

_______

Hari ini suasana hati Junet sedang tidak baik, bagaimana tidak para setan durjana yang sempat tidak nongol beberapa hari yang lalu sekarang muncul kembali. Ditambah tadi pagi mereka mengusili Junet dengan membungkus dirinya seperti pocong.

" Woy Su, Napa lu?" Tanya Arya.

" Makan bakso yok Ar." Ajak Junet.

Arya menatap Junet malas, pasti saja begini. " Ayok tapi lu yang bayar."

" Aman, gasin lah."

Kedua laki-laki tersebut beranjak dari bangkunya, istirahat sudah hampir selesai tapi keduanya malah baru keluar. Saat di koridor mereka bertemu dengan ketiga manusia yang menjelma menjadi badut Ancol.

" Anjirr lu pada ngapain ogeb hahaha." Tawa Junet pecah saat melihat ketiganya.

" Itu muka lu pakein apa sampe merah gitu, hahahaha."

" Setan lu berdua, ni gegara Rasyid bego."
Kesal Tara.

" Iyaa, masa dia ngelempar sepatu gue sampe masuk ke baksonya Bu Ira," jelas Raya.

" Bacot lu, kalo lu kagak maling pulpen gue gak gini kejadiannya." Kesal Rasyid yang dituduh sebagai biang masalah. Padahal jelas-jelas Raya duluan yang membuat masalah.

Junet dan Arya kembali tertawa mendengar penjelasan Raya, Rasyid yang dituduh menjadi biang masalah hanya menatap lempeng teman-temannya. Siswa-siswi yang berlalu lalang pun ikut menertawakan ketiganya.

" Ehh itu mereka kenapa?" Tanya Kanaya yang kebetulan lewat.

"Itu si Rasyid cari masalah sama Buk Ira." Cerita Arya.

Kanaya pun tertawa kecil melihat ketiganya, " makanya jangan bandel." Nasehatnya.

Junet masih tertawa terpingkal-pingkal sampai berguling ke lantai saking lawaknya penampilan teman-temannya.

Tringgg...

Bel masuk sudah berbunyi, Kanaya pamit untuk masuk ke kelasnya terlebih dahulu. Sedangkan Junet masih saja menertawakan mereka sampai harus di seret oleh Arya untuk masuk ke kelas.

Suasana kelas Junet saat ini penuh dengan gelak tawa, ya biangnya masih sama ketiga badut Ancol ini. Bu Ira yang masuk di jam pelajaran ini tidak memperbolehkan ketiganya untuk duduk dan menghapus riasan di wajah mereka.

Jadilah trio badut tersebut berdiri didepan kelas, dengan Rasyid yang hanya menunjukkan ekspresi lempeng, Raya yang memasang wajah miris dan Tara yang memasang wajah kesal. Bisa-bisanya ia ikut terseret.

My Soplak BrotherCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang