Satu jam yang lalu
Junet dan teman-temannya sedang mencari keberadaan Ale, ada juga beberapa anggota Zaigham yang lain yang membantu mereka.
Junet menghentikan motornya dan di ikuti oleh yang lainnya. " Kita mencar aja, Tio, Mael, sama Tara, kalian ke arah rumah Ale. Gue sama anak-anak yang lain mencar di sekitar kota." Ujar Junet.
Sesuai dengan arahan junet, mereka segera melajukan motornya ke arah yang telah di tentukan.
Junet pun kembali melajukan motornya, pikirannya saat ini sedang tidak tenang, marah, benci semua menjadi satu di kepalanya.
" Bajingan! Awas Lo Ale, sampe kita ketemu bakal gue habisin Lo." Gumam Junet.
Junet terus melajukan motornya sembari menyumpah serapahi Ale, sampai tanpa ia sadari sebuah mobil tengah melaju berlawanan kearahnya.
Tanpa sempat membanting kemudinya, mobil tadi menghantam motor Junet dengan sangat kencang. Tubuh Junet pun ikut terpental karena tabrakan keras tadi.
Wira yang berhasil mengejar Junet seketika langsung menghentikan laju motornya dan meninggalkannya begitu saja.
" ABANG!!!" Wira berlari menghampiri tubuh Junet yang terbaring lemas di atas aspal. Wira melepaskan helm yang digunakan Junet, helm tersebut sudah setengah hancur hingga mengakibatkan kepala Junet bercucuran darah.
Mobil yang menabrak Junet tadi menghentikan lajunya, anak-anak zaigham yang mengikuti Junet segera menghampiri mobil tersebut dan melihat siapa pelakunya.
Emosi mereka meluap, " WOY BANGSAT KELUAR LO!!!"
" BAJINGAN, KELUAR LO ANJING!"
" Raya, Lo cepet telpon ambulan!" Perintah Arya.
Raya segera bergegas melaksanakan perintah Arya.
Wira berusaha mengangkat tubuh Junet dan membawanya ke tepi jalan, " Bang bangun bang!" Panggil Wira seraya mengguncangkan tubuh Junet yang telah bersimbah darah.
" ABANGGG!! BANGUN BANG!!!" Tangis Wira pecah, sebagian anak-anak zaigham pun menghampiri mereka, sementara yang lainnya masih berusaha menggeret pengemudi mobil tadi. Mereka berusaha memecahkan kaca mobil tersebut.
Wira segera menghubungi ayahnya, dan teman-temannya yang lain.
Bau anyir darah menguar di indra penciuman Junet, ia berusaha untuk membuka matanya, kepalanya terasa sangat berat, samar-samar ia melihat teman-temannya mengerumuninya.
" Bang! Abang bisa denger suara Wira kan bang?!"
Junet mengalihkan pandangannya ke arah Wira, " my head so sick Wir, sick asik sick asik" ujar Junet sembari cengengesan di sela kepanikan teman-temannya.
" Gila Lo ya bang! Badan udah berdarah-darah gini masih aja ngelawak!" Marah Wira.
" BANG INI PELAKUNYA UDAH KITA KELUARIN!" Teriak anak-anak zaigham yang mengepung mobil tadi.
Junet berusaha untuk duduk, namun tubuhnya serasa hancur. Seketika Junet merasakan kantuk yang amat sangat.
" Gila ngantuk banget gue, gue tidur bentar yak." Ujar Junet.
" Gak bang! Lo jangan tidur! Tunggu bentar lagi bang!" Ujar Wira panik.
" Jun Lo denger kita kan, jangan tidur dulu elah!" Arya ikut menimbrung.
" Dah gak kuat gue, kayak dikasih lem ini mata."
Suara teman-temannya yang terus menghentikannya untuk tidur samar-samar semakin mengecil, kesadaran Junet pun perlahan memudar dan perlahan junet pun kehilangan kesadarannya.
" Ya Raya! Ambulannya masih lama apa!" Arya panik bukan kepalang, pikirannya kalut, ia berlari kearah kerumunan orang-orang yang menangkap pengemudi mobil tadi, tanpa basa-basi Arya langsung melayangkan bogemnya ke arah pengemudi mobil tersebut.
" BANGSAT LO ALE! BAJINGAN LO!" Arya terus melayangkan tinjunya.
Anak-anak zaigham yang lain berusaha untuk menghentikan Arya, " Bang udah bang! Bentar lagi polisi datang."
Arya tak menghentikan serangannya, hingga ambulance pun datang diikuti dengan suruhan Neon yang juga datang ke tempat tersebut. Arya menghentikan serangannya dan berlari kearah petugas kesehatan yang mulai mengangkat tubuh Junet dan memasukkannya ke dalam mobil ambulance.
" Bang, Lo nemenin Bang Junet ya, gue mau ngabarin orang rumah dulu."
Arya langsung mengiyakan ucapan Wira, Arya segera masuk ke mobil ambulance tersebut di ikuti Raya yang juga ingin ikut.
Wira menghampiri kerumunan yang masih mengamankan Ale, " Om bawa Ale ke hadapan Papa." Perintah Wira kepada para suruhan ayahnya.
_______________
"Wi-wiraaa!" Julia segera menghampiri putra bungsunya itu.
" Kamu kenapa sayang, ini kenapa kamu berdarah-darah?" Julia membolak-balikan tubuh putarannya itu untuk memastikan apakah ada luka yang parah, dan kenapa tidak langsung ke rumah sakit.
" Mama tenang dulu oke, Wira nggak kenapa-napa Ma, Wira kesini untuk ngabarin Mama..." Belum selesai Wira mengatakan maksudnya, kericuhan kembali terjadi saat Neon melayangkan pukulan ke wajah Ale.
Julia yang melihatnya pun langsung berlari menghampiri suaminya, " Mas kenapa?"
" Alee, kamu dari mana aja sayang, kita dari tadi nungguin kamu, terus ini kenapa kamu berantakan banget?" Tanya Erita beruntun.
" Pak Neon! Apa-apaan Anda ini, saya akan laporkan tindakan anda terhadap anak saya!" Ujar Pram.
Neon menatap sinis kearahnya, " Wira ajak Mama kamu masuk!" Suruh Neon.
Wira pun menuruti perintah ayahnya, Julia pun juga patuh terhadap perintah suaminya. Wira menggiring Julia untuk masuk kedalam Rumah Joe.
" Lo!" Tunjuk Neon pada Pram.
" Mau anak Lo masuk penjara atau masuk liang lahat di tangan gue!" Ancamnya.
Pram yang masih bingung pun menghampiri anaknya, " kamu kenapa nak, apa yang udah kamu lakuin?" Tanya Pram.
Ale hanya diam, tatapannya kosong menatap tanah di bawahnya, " Anak Lo yang bangsat itu nabrak anak gue pake mobilnya!" Jawab Neon.
Seluruh tamu undangan yang hadir pun langsung berbisik-bisik setelah mendengar pernyataan Neon.
Pram dan Erita pun seketika membatu, mereka masih mencerna perkataan Neon, " Nggak! Nggak mungkin Ale ngelakuin itu!" Teriak Erita histeris.
________
Holla, apa kabar kalian semua?
Gimana puasanya? Lancar?
Maaf baru bisa up sekarang, sebenernya pengen banget buat selesain cerita ini secepatnya, tapi waktunya belum ada.
Makasih banyak ipey ucapin buat para pembaca yang masih setia nungguin MSB up
Love banyak-banyak buat kalian❤️❤️❤️
Sampai sini dulu ya, see you next part 💖💖💖
KAMU SEDANG MEMBACA
My Soplak Brother
HumorFirst story😁, Jadi Maaf kalo ada kata2 yang salah ________&&& Gue Wira Giandra Estiawan, dicerita ini sebenarnya bukan gue pemeran utamanya, melaikan Kakak laki-laki gue yang selisih usia kita cuma satu tahu. Dia Raffasya Jamaluddin Estiawan, gue...
