38. Posko Aduan?

335 21 9
                                        

Sekretariat sore itu jauh lebih ramai dari biasanya. Tumpukan laptop, kabel charger, botol minum, dan print out LPJ memenuhi hampir seluruh lantai di tengah ruangan.

Rapat Pertengahan Tahun tinggal beberapa minggu lagi. Artinya seluruh sekretaris departemen sedang berada di fase paling menyebalkan dalam kepengurusan. Walaupun ini rencana para sekretaris departemen, Raya turut hadir untuk membantu agar meminimalisir revisi saat ia merekapnya. Di sampingnya ada Farhan yang juga mau tidak mau membuat LPJ– yang tentu dengan meminta bantuan Raya.

"Gue bingung bagian evaluasi."

Raya menggeser tubuhnya sedikit. Melihat ke arah lembar kerja yang sedang dikerjakan Farhan.

"Mana?"

"Nah ini..." Ia menunjuk layar laptop. "Kalau program kerjanya gak sesuai target tapi bukan karena panitianya, masuk evaluasi atau kendala?"

"Kendala."

"Oalah."

"Kalau evaluasi tuh yang bisa diperbaiki sama internal."

Farhan mengangguk paham. "Oke. Berarti yang ini juga salah?"

"Salah."

"Yang ini?"

"Salah juga."

Farhan menghela napas panjang. "Saran deh, kepengurusan selanjutnya Biro MSDM kasih sekretaris juga."

Raya terkekeh. "Berat ya sendiri?"

"Asli. Lo bayangin. Udahnya ngurus SDM hima, beresin tiap masalah sampe dinobatkan jadi tempat penampungan masalah. Lah LPJ juga gua kerjain sendiri." Keluh Farhan jujur.

"Keadilan sosial tidak bagi Biro MSDM." lanjutnya dengan nada kekecewaan.

"Siapa sih yang ngide Biro MSDM sendiri?" tanya Sersha.

"Laki lo!"

"Tapi dari kepengurusan sebelumnya juga sendiri kan?" Tanyanya lagi.

"Iya. Karena BPHnya sedikit. Angkatan kita kan banyak. Masa iya Bironya sendiri, sedangkan SDM yang gue urus 45 orang. Gak make sense, anjir."

"Masukin jadi evaluasi dari lo aja, Han. Siapa tau semester kedua lo punya anak buah. Sekretarislah minimal." Ucap Raya mencoba menenangkan temannya itu.

"Semester kedua gua resign aja bisa gak. Pening gua, anggota dikit nanya biro, anggota ada masalah ke biro, anggota geng-gengan biro juga nyelesein. Lu semua gak kasian sama gua apa?"

Raya merasa canggung. Baru kali ini Farhan benar-benar mengeluarkan keresahan hatinya. Ia sangat paham dengan beban yang Farhan pikul sendiri. Maka dari itu saat rapat ia sering duduk di sebelah Farhan agar laki-laki itu ada teman untuk bertukar pikiran.

"Kalo itu kayaknya gak bakal diacc sih, mengingat si kahim percaya banget sama lo. Alias lo udah jadi tangan kanannya kahim." sahut Karin, sekretaris departemen Medfo.

"Gua menolak keras statment itu, Rin. Kan ada Gio, dia juga pegang internal. Lagian kita juga punya departemen PSDM."

Raya mengulum bibirnya, sebelum mencoba menjelaskan dengan hati-hati. "PSDM kan fokusnya ke pengembangan kaderisasi, Han. Untuk kinerja dan evaluasi dipegang biro, peran Gio ya bantuin lo pegang internal."

"Lebih tepatnya peran lo ini sebagai 'emak' sih." ringis Rumi.

"Lebih ke babysitter sih gua ngurus kalian. Bayangin gua harus ngakrabin diri ke anggota biar mereka betah di hima. Udah kayak ngurus anak kecil aja gua ngemomong lu pada."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 4 days ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Married With KahimCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang