35. Awkward Moment

279 3 6
                                        

Raya tidak main-main pada ucapannya waktu itu, ia benar-benar memperkecil interaksi dengan Regan di lingkungan kampus, dan menghindari laki-laki itu saat di rumah. Kadang Raya pura-pura tidur terlebih dahulu saat Regan datang dan pergi di pagi buta. Atau ia akan mengurung diri di kamarnya jika laki-laki itu di rumah. Pernah sekali Regan mengetuk kamarnya, mengajak Raya makan malam bersama karena ia membeli seporsi sate ayam dan martabak telor. Raya tidak menolak karena kebetulan dirinya juga lapar. Beberapa kali Regan curi kesempatan memberikan perhatian pada Raya seperti "cuma pengen makan sama lo aja." atau "lo kalo mau makan sesuatu bilang gue aja, biar gue mampir beli dulu sebelum pulang." Raya hanya iya-iya saja. Raya juga tidak bersikap dingin pada Regan. Gadis itu kerap mengajak Regan diskusi mengenai himpunan. Namun setelah itu, mereka kembali pada aktivitasnya masing-masing. Sejauh itu juga Raya memantau sejauh apa Regan menepati ucapannya.

Hampir satu bulan berlalu, sebenarnya Raya cukup jengah melihat Regan selama ini yang masih belum bisa mengambil sikap. Yang Raya tahu Regan dan Sersha pernah beberapa kali berseteru perihal hubungan mereka, namun ujungnya yang Raya lihat mereka kembali berbaikan, begitu terus berulang-ulang. Sedangkan Raya, ia sudah membatasi interaksinya dengan Malik selama dua minggu terakhir. Ia berhasil menolak ajakan bertemu dengan seribu alasan yang ia rangkai secara matang. Raya paham mengapa Regan menarik ulur hubungannya dengan Sersha alih-alih segera mengakhirinya. Karna ia juga merasa mengakhiri hubungan dalam keadaan sedang baik-baik saja adalah hal yang sulit.

Sebuah bolpoint baru saja mendarat di hadapannya membuat lamunannya buyar seketika. Ia menoleh ke samping kanan menatap sinis si pelaku.

"Bengong mulu dari tadi, mikirin apa sih?"

Raya menggeleng, lalu fokus pada si pembawa rapat yang sempat ia hiraukan. Saat itu juga ia tersadar sudah tertinggal jauh dari apa yang sedang anggotanya diskusikan sekarang.

Sial. Kacau ini notulensi. Pikirnya.

"Ketinggalan catatan kan lo. Si kahim minta Rapat Pertengahan Tahun setelah makrab fakultas."

Raya menoleh lagi. "Emang bisa?" bisiknya pelan. Untung saja kali ini ia berada di barisan tengah.

"Tuh dia mau nego sama DPM."

"Udah sampe mana? Kok lo gak nolak?" tanyanya lalu ia menoleh ke arah depan saat suara Regan menginterupsi lagi.

"Sebagian dari kita panitia makrab kan, takutnya pas kita lagi nyiapin RPT malah selang-seling sama sibuk makrab. Gue pengen kalo RPT kita fokus RPT. Lo semua tau sendiri DPM kita kayak gimana, gue gak mau diantara kalian ada yang diserang kalo kita terledor dengan hal-hal kecil. Tapi balik lagi gue open sama pendapat kalian."

"Izin, Pak." Kali ini suara Raya terdengar lebih tegas. Beberapa orang langsung menoleh, termasuk Regan yang berdiri di depan. Tatapannya sempat berhenti sepersekian detik pada Raya sebelum akhirnya mengangguk.

"Iya, Raya. Silakan."

Raya menegakkan duduknya. Pulpen di tangannya ia putar sebentar, lalu berhenti tepat saat ia mulai bicara. "Kalau dari gue, Pak... justru lebih baik RPT dilaksanakan sebelum makrab."

Kalimat itu langsung memancing reaksi kecil di ruangan. Beberapa orang terlihat saling pandang. Di sampingnya, Farhan langsung melirik cepat. "Sesuai yang diharapkan." bisiknya pelan.

Regan sedikit mengernyit, tapi masih memberi ruang. "Alasannya?"

"Karena kalau RPT setelah makrab, kita bakal kepecah fokusnya, Pak. Apalagi kita yang jadi panitia makrab pasti udah capek duluan. Takutnya pas RPT malah gak maksimal—baik dari persiapan maupun pelaksanaannya."

Ia berhenti sebentar, memastikan semua masih memperhatikan. "Sedangkan kalau RPT duluan, kita bisa fokus satu per satu. Selesai RPT, baru kita total di makrab tanpa kebayang-bayang evaluasi atau tekanan dari DPM."

Married With KahimCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang