Tunggu di stasiun, nanti gue jemput
Begitu isi pesan Regan saat mereka berpisah tadi. Alhasil Raya menunggu di halte dekat stasiun dengan khawatir. Khawatir karena gemuruh langit mulai terdengar. Ia beberapa kali melihat ponselnya, berharap Regan segera datang sebelum hujan turun.
Langit yang tadinya hanya mendung kini benar-benar menggelap. Kilat menyambar sekilas, disusul tetes-demi tetes air yang turun dari langit. Raya refleks menoleh ke atas, lalu menghela napas panjang.
Gue udah deket.
Raya belum sempat membalas ketika suara mobil berhenti tepat di depannya. Ia menoleh cepat—lalu membuka pintu dan masuk ke dalam. Belum sempat ia menarik napas lega, hujan langsung turun deras.
Raya melirik sekilas ke arah Regan, lalu cepat-cepat mengalihkan pandangan ke depan.
"Basah?" tanya Regan, matanya mengamati Raya.
"Dikit."
"Di belakang ada jaket gue, pake aja." ucapnya sembari menurunkan temperatur dan menambah volume radio agar Raya tidak mendengar suara petir.
"Gapapa kok gue."
Regan menoleh, "Pakai, Raisa." Kali ini Raya tidak membantah.
Hening. Tidak ada yang memulai pembicaraan duluan. Hingga tiba-tiba Regan menepikan mobilnya. Raya mengernyit, "Kenapa?"
"Kayaknya perlu yang anget. Tunggu di sini." titahnya. Ia mengambil payung di samping kemudi sebelum keluar dari mobil. Raya hanya melihat suaminya menghampiri warung sederhana. Tak lama ia keluar dengan dua gelas di tangannya, gagang payung ia selipkan di lehernya. Regan mengisyaratkan Raya untuk membukakan pintu untuknya. Raya menurut.
"Pegang dulu, Ray." Raya menyambut dua gelas yang pekat dengan aroma jahe, sembari menunggu Regan melipat payungnya dan duduk di kursi kemudi.
"Tuh kan jadi lo yang basah." seru Raya sembari menyodorkan minuman milik Regan.
"Dikit."
"Ini apa? Wedang?"
"Bandrek. Suka gak?"
"Suka. Lo sering beli di sini?"
Regan mengangguk. "Langganan Ayah."
Hening lagi.
"Gan." Setelah pertimbangannya yang cukup lama, akhirnya Raya buka suara.
"Hem?"
Gadis itu menunduk, memainkan ujung gelas yang melingkar. Tidak berani menatap lawan bicaranya sekarang. "Sekarang gue tau kenapa gerak lo lambat. Ternyata mutusin hubungan yang lagi baik-baik aja tuh susah ya. Gue pernah nekan lo beberapa kali, maaf ya."
"Santay. Emang udah waktunya ambil sikap. Lo bener, sedalam apapun ngubur bangkai pasti ketahuan. Gue lagi berusaha biar itu gak terjadi, cuma ya, sedikit sulit." laki-laki itu menyeruput minumannya lagi. Memberi jeda untuk Raya.
"Gue tau. Setelah gue pikir-pikir, keputusan lo yang ngalir aja sebelumnya gak buruk."
"Perasaan lo masih buat Malik Ray?" pada akhirnya Regan menanyakan hal itu secara terang-terangan.
Kali ini Raya memberanikan diri mengangkat kepalanya, menatap manik Regan yang juga menatapnya. "Jujur masih ada sedikit, gue juga gak mau mulai sama lo tapi rasa gue ke Malik belum bener-bener ilang."
"Gue juga gak minta lo buat... langsung ilangin semuanya."
Raya menunduk lagi, jemarinya menghangat di balik gelas bandrek. Uapnya sudah mulai menipis, tapi hangatnya masih terasa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Married With Kahim
FanfictionRaisa Faradina Yasmin terpaksa menikah dengan Ketua Himpunannya, Regan Adya Putra Wirawan karena perjodohan kedua orang tuanya. Keduanya sama sama memiliki hubungan dengan orang lain, sehingga mereka sepakat untuk menyembunykan pernikahannya. Lalu...
