50

1.3K 30 2
                                        

Salah satu rezeki yang tidak bisa dinilai oleh uang yaitu menemukan pasangan yang sayangnya tidak pernah berubah

✨✨✨

Suasana rumah sakit malam ini mendadak sunyi. Rey berdiri di luar ruang operasi, masih mengenakan scrub hijau gelap. Tangan dan bajunya sedikit ternoda darah, bukan karena dia yang menangani operasi... tapi karena tadi sempat bantu membawa Jenna ke ruang tindakan darurat sebelum keluar ruangan.

Rey mondar-mandir. Matanya memerah, mulutnya tak henti melafalkan do'a. Di dalam sana, nyawa perempuan yang paling dia cintai sedang dipertaruhkan.

Seorang perawat keluar, buru-buru. Lalu disusul seorang dokter senior yang Rey kenal. Wajah dokter itu pucat.

"Dok?" suara Rey langsung tercekat. "Gimana istri saya?"

Dokter itu berhenti. Menatap Rey dengan wajah berat—tatapan yang hanya bisa berarti satu hal.

"Bayinya selamat... kembar perempuan."

Rey menahan napas, menunggu kelanjutannya. Tapi tak juga datang.

"Istri saya?" suaranya pelan, seolah tak mau dengar jawabannya.

Dokter itu menghela napas panjang. "Kami sudah melakukan semua yang kami bisa... tapi kondisi perdarahannya sangat parah. Jantungnya... berhenti, Rey."

Deg.

Rey seperti kehilangan pendengarannya. Suara dunia seketika menghilang. Tubuhnya tiba-tiba lemas, tangannya menutup wajahnya. Dia menarik napas berat... tapi dadanya seperti diremukkan dari dalam.

Semua keluarga yang mendengar itu ikut tercengang, Ella menangis di pelukan Adit, dan Asya menangis di pelukan Aiman, terlihat sangat menyesal apalagi dengan segala perlakuannya terhadap Jenna.

"Enggak..." bisiknya. "Dokter bohong kan?"

"Rey—"

"ENGGAK!" Rey mengangkat suaranya, air matanya jatuh tak tertahankan. "Kenapa kalian gak menyelamatkan istri saya?! Saya bilang, selamatkan istri saya! Kenapa gak kalian lakuin?!"

Beberapa perawat menoleh. Tapi dokter itu tetap tenang, "maaf Rey, pendarahan istrimu sangat banyak, dia kekurangan banyak darah. Kami dari pihak rumah sakit, turut berdukacita."

Rey menunduk, menggigit bibir, berusaha menahan tubuhnya agar gak jatuh. Namun lututnya goyah.

Perlahan dia merosot ke lantai, duduk di sudut lorong rumah sakit yang dingin. Tangannya menutupi wajahnya. Air matanya pecah. "Kenapa harus dia... kenapa bukan aku aja..."

Di kejauhan, suara tangis bayi terdengar.

Rey mendongak.

Tangis mereka jadi satu-satunya suara yang nyata malam ini. Satu nyawa pergi... dua nyawa hadir.

Rey duduk diam di sudut lorong rumah sakit, tubuhnya masih gemetar. Dunia terasa hancur di sekelilingnya, dan dalam hening yang memeluknya, ia hampir tidak bisa percaya bahwa Jenna, istrinya, sudah tidak ada lagi.

Tiba-tiba, suara langkah kaki mendekat. Seorang perawat berdiri di hadapannya dengan wajah penuh empati. "Dokter Rey, saya bisa membantu Anda untuk melihat jenazah istri Anda, jika Anda ingin."

Rey menatapnya kosong, masih berusaha mencerna semuanya. Ada kekosongan yang begitu dalam. Sekali lagi, ia menarik napas panjang dan berdiri dengan tubuh yang berat.

"Saya mau melihat istri saya," kata Rey.

Rey melangkah masuk perlahan. Tak ada tawa bahagia yang terpatri di wajahnya. Hanya sunyi yang menggantung di udara. Lampu di atas masih menyala terang. Bau obat dan darah masih samar-samar terasa.

My Sweet HusbandCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang