36

1.2K 25 2
                                        

Rey turun dari mobil lalu mengetuk pintu rumah Ella. Saat sedang kerja, ia mendapatkan pesan dari ibu mertuanya kalau Jenna disini.

Tok.. Tok..

Tak lama, pintu terbuka memunculkan Ella di depan sana. Rey tersenyum lalu mencium tangan Ella.

"Assalamu'alaikum, Bu."

"Waalaikumsalam nak Rey, ayo masuk."

Rey mengangguk lalu masuk ke dalam rumah.

"Jenna dimana? Dia kenapa kesini, Bu? Apa ada masalah?"

"Jenna di kamar, lagi nangis. Dia udah tau masalah itu nak Rey."

"Ya Allah..." gumam Rey. Ini pasti akan jadi masalah. "Jenna ada bilang sesuatu ke Ibu?"

Ella mengangguk. "Dia bilang, dia denger dari tantenya nak Rey yang lagi ngomongin Jenna gak bisa punya anak."

Rey menghela napas kecewa, sudah ia peringati jangan pernah ada yang membicarakan tentang itu. Namun tidak ada yang mendengarnya.

"Sebenernya Jenna lagi gamau ketemu nak Rey, tapi Ibu terpaksa kasih tau nak Rey, takut nak Rey khawatir."

"Makasih ya Bu, kalo gitu Rey ke Jenna dulu." Rey memegang pundak Ella, kemudian beranjak menghampiri Jenna di kamar.

Di kamar, sedari tadi Jenna terus-terusan menangis. Dirinya tidak menyangka ini terjadi pada hidupnya.

Tangisan Jenna mendadak berhenti ketika melihat Rey berdiri menjulang di depan pintu. Ia langsung membalikkan tubuhnya membelakangi Rey.

Rey masuk ke kamar, ia menutup pintu kemudian mendekati Jenna.

"Sayang." Rey menyentuh pundak Jenna, namun langsung ditepis oleh perempuan itu.

"Kamu gak boleh kayak gini, Sayang."

"Kak Rey pergi dari sini! Aku gak mau ketemu sama Kak Rey!"

"Sayang, dengerin aku--"

"Aku gak mau denger apapun dari Kak Rey!" potong Jenna.

"Dengerin aku dulu. Aku bisa jelasin semuanya."

Jenna memberontak ketika Rey menyentuhnya, ia lalu mengubah posisinya menjadi berdiri. Membuat Rey bisa melihat wajah sembab istrinya.

"Kalo gitu aku aja yang keluar!" ketus Jenna lalu melangkah keluar.

Dengan cepat, Rey mengejar lalu menarik tangan Jenna. "Sayang aku mohon jangan kayak gini."

"Gimana aku gak kayak gini, Kak, kenapa Kak Rey sembunyiin masalah ini dari aku.." suara Jenna bergetar.

"Aku gak mau kamu sedih, aku cuma mau lihat kamu bahagia, maafin aku kalo aku salah sembunyiin tentang ini dari kamu."

Jenna diam, sembari menyeka air mata yang terus mengalir. Rey menarik Jenna ke dalam pelukannya, namun langsung ditepis oleh Jenna.

"Tapi nyatanya aku malah tau dari omongan orang lain. Dan itu buat aku kecewa sama Kak Rey! Kak Rey tau, tapi malah sembunyiin dari aku!"

"Maaf Sayang, maafin aku. Aku tau, aku salah." Rey kembali memeluk Jenna, tak peduli istrinya itu memberontak.

"Lepas Kak! Mendingan Kak Rey pergi aja! Aku udah gak berguna lagi..."

"Kamu gak boleh gini, Sayang. Jangan ngomong kayak gitu. Allah pasti punya rencana yang lebih baik lagi, Allah pasti kasih kita anak. Aku akan selalu ada buat kamu, kita berusaha sama-sama ya?"

Jenna menggelengkan kepalanya. "Kamu.. pasti gak mau kan..punya istri cacat." Jenna sesenggukan.

Mendengar itu, Rey menatap Jenna dengan tajam. "Ngomong apa sih kamu? Kamu tetap sempurna bagi aku, Sayang."

My Sweet HusbandCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang