51

1.5K 41 0
                                        

SORRY LAMA HEHEH🙏

HAPPY READING ALL❤

✨✨✨

"Jenna!"

Asya terbangun dengan napas terengah-engah. Dahinya basah oleh keringat dingin, jantungnya berdegup kencang seperti habis berlari jauh.

Dia menoleh ke samping. Aiman, suaminya, yang terbangun karena suara Asya, langsung menggenggam tangan istrinya.

"Mama? Kamu kenapa?"

Asya tak langsung menjawab. Matanya berkaca-kaca. Ia langsung memeluk Aiman, menahan isak yang mulai naik ke tenggorokan. "Aku… aku mimpi buruk, Pa. Jenna…"

Aiman menatap istrinya dengan bingung tapi khawatir. "Kenapa Jenna?"

Asya mendongak padanya dengan tatapan hancur. "Dia... meninggal, Pa. Dia melahirkan… dan dia gak selamat. Anaknya kembar perempuan. Tapi dia... dia pergi, dan aku belum sempat minta maaf... aku belum sempat peluk dia, belum bilang aku nyesel..."

Air matanya jatuh deras. Aiman langsung memeluk istrinya erat.

"Itu cuma mimpi, Sayang," bisik Aiman pelan. "Itu cuma mimpi. Jenna baik-baik aja."

Asya menggenggam baju Aiman erat-erat, seolah takut mimpi itu jadi nyata. "Aku harus ke rumah Jenna. Aku harus ketemu dia. Aku gak mau kehilangan dia dalam keadaan kayak gitu…"

Aiman mengangguk lembut. "Kita pergi pagi ini, ya. Sekarang istirahat dulu. Besok kamu peluk dia, dan kamu bisa bilang apa pun yang kamu simpan di hati."

Asya mengangguk, tapi matanya tetap basah. Dalam hati, dia berjanji—dia gak akan sia-siakan kesempatan kedua ini.

Asya baru saja memejamkan mata, masih mencoba menenangkan jantungnya yang belum juga stabil. Tapi tak sampai lima menit, suara ponselnya berdering pelan di meja samping tempat tidur.

Nama Rey muncul di layar.

"Mama," ucap Rey dari seberang dengan suara terburu-buru. "Jenna udah di rumah sakit. Dia kemungkinan besar lahiran hari ini."

Asya langsung terduduk. Wajahnya langsung pucat.

"A-apa?" napasnya tercekat. "Sekarang?"

"Iya. Rey lagi nunggu proses operasinya. Doain ya…"

Asya menggenggam ponsel lebih erat. "Rey…" suaranya pelan. "Tadi Mama mimpi Jenna… meninggal, Rey. Saat lahiran. Mama bangun nangis, dan... dan sekarang kamu telepon, bilang dia udah di rumah sakit. Mama takut, Rey. Mama takut banget..."

Suara Rey terdiam sejenak. "Mama... itu cuma mimpi, ya. Jenna kuat. Dia baik-baik aja. Aku di sini, nemenin dia."

Tapi Asya hanya bisa menggeleng, meski Rey tak melihat. Air matanya jatuh lagi. "Mama mau ke sana, sekarang."

"Iya Ma," kata Rey pelan. "Mama sama Papa hati-hati ke sini nya."

Asya menutup telepon dengan dada sesak. Aiman menggenggam bahunya lembut. "Kita berangkat sekarang?"

Tanpa banyak kata, Asya mengangguk.

Dalam hati, ia cuma bisa berdoa... semoga kali ini bukan pertanda buruk.

✨✨✨

Setelah melalui operasi caesar yang menegangkan, akhirnya Jenna dan Rey bisa melihat kedua putri kecil mereka. Bayi-bayi itu terbaring di inkubator mungil dengan selimut pastel membungkus tubuh mungil mereka.

My Sweet HusbandCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang