Siang ini, rumah sederhana milik keluarga Jenna terasa sedikit berbeda. Aroma masakan menguar dari dapur, sementara ruang tamu sudah rapi dengan alas karpet.
Suara mesin mobil berhenti di depan rumah. Tak lama, pintu terbuka, menampakkan sosok Rey yang rapi dengan kemeja putih, diikuti kedua orang tuanya dan beberapa anggota keluarga besar. Di tangannya, Rey membawa sebuket bunga mawar putih dan merah yang dibungkus pita emas, sementara paman dan adik-adiknya menenteng kotak berisi cincin serta seserahan.
“Assalamualaikum,” suara Rey terdengar jelas saat ia masuk.
“Waalaikumsalam,” jawab Jenna dan ibunya serentak. Jenna bergegas menyambut tamu, jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.
Mereka semua duduk membentuk lingkaran. Suasana awal agak canggung, hanya terdengar suara piring dan gelas yang disusun untuk suguhan. Hingga akhirnya, Aiman—ayah Rey—membuka suara.
“Kami datang hari ini untuk menyampaikan maksud baik,” ucapnya dengan nada hangat. “Rey sudah lama mengenal Jenna, dan dengan izin Allah, Rey ingin melamar Jenna.”
Jenna menunduk, merasakan pipinya memanas. Tangannya saling menggenggam erat di pangkuan.
“Waktu itu saya dan istri berhalangan untuk menemani Rey karena pekerjaan, dan sekarang dengan maksud baik, ingin mengetahui jawaban Jenna dari lamaran di hari sebelumnya.”
Ella, ibunda Jenna, tersenyum lembut. “Kami keluarga menerima niat baik ini. Semoga Allah memberkahi kalian.”
"Bagaimana Jenna, jawaban kamu?" lanjut Ella.
Jenna meneguk saliva, menarik napas dalam ketika semua keluarga besar Rey menatapnya.
"Saya menerima lamaran dokter Rey." ucapnya.
Jenna menerima Rey, bukan karena Rey kaya. Namun, melihat bagaimana baiknya Rey dan hati pria itu yang begitu tulus membuat Jenna jatuh hati, terlebih pada wajah tampannya.
"Alhamdulillah..." ucap Keluarga Rey serentak.
Rey menoleh pada Jenna, lalu perlahan menyodorkan buket bunga. “Ini buat kamu,” ucapnya lirih tapi tegas.
Jenna mengangkat wajahnya, menerima buket itu dengan kedua tangan. “Terima kasih,” ucapnya pelan, sambil berusaha menahan senyum.
Setelah itu, Rey mengambil kotak kecil yang dibawa pamannya. Ia membukanya, menampakkan sepasang cincin sederhana. Dengan tangan sedikit gemetar, Rey menyematkan cincin itu di jari manis Jenna.
“Bismillah,” ucap Rey singkat, namun tatapannya penuh arti.
Tidak ada musik, tidak ada dekorasi mewah. Hanya tawa kecil, doa tulus, dan aroma teh hangat yang menemani momen itu. Tapi bagi Rey dan Jenna, itu sudah lebih dari cukup.
-
Setelah cincin melingkar di jari manisnya, Jenna merasa seperti sedang bermimpi. Tapi aroma teh dan suara gelas beradu di meja membuatnya sadar bahwa ini nyata.
Ella mempersilakan semua duduk kembali. “Ayo kita makan siang dulu,” ujarnya sambil tersenyum.
Mereka pun duduk melingkar di karpet, ditengah mereka dipenuhi piring berisi ayam goreng, sayur asem, sambal terasi, dan lalapan. Di antara mereka, suara tawa kecil mulai terdengar, terutama dari paman-paman Rey yang gemar bercanda.
“Bu Asya,” Ella memanggil ibunda Rey, “maaf kalau hidangannya sederhana.”
“Waduh, sederhana apanya, Bu Ella? Ini udah enak banget. Jarang-jarang saya makan sambal terasi kayak gini,” jawab Asya seraya memakan lalapan.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Sweet Husband
Romance"Aku suka Kak Rey dari kecil." "Aku tau. Inget gak? dulu kita pernah main nikah-nikahan?" Jenna menganggukkan kepalanya. "Sampai sekarang, kita belum cerai." -_-_-_- Cerita ini menceritakan bagaimana Jenna bertemu dengan pria berhati malaikat hing...
