42

940 24 2
                                        

HAIII
WELCOME BUEK AGAINN!!

HAPPY READING✨

...
Hari ini libur kuliah, Jenna sudah berdandan rapi. Kemeja sederhana warna lilac dipadu dengan celana jeans putih, rambutnya digerai. Di tangannya ada tas kecil, sementara layar ponsel menunjukkan pesan singkat dari Rey.

Kak Reyku 🤍
Sayang, kamu ke mall duluan ya. Aku nyusul setelah selesai dinas.

Senyum tipis muncul di wajah Jenna. Ia sudah menantikan momen ini—sekadar jalan berdua, nonton film, dan makan bareng.

Di sisi lain, Rey baru saja keluar dari ruang praktik. Jas dokternya sudah ia lepas, digantung di bahu. Baru saja ia hendak menyalakan mobil, ponselnya bergetar. Nama yang muncul di layar, Mama.

Rey menghela napas, lalu mengangkat.
“Assalamualaikum, Ma.”

Waalaikumussalam, Rey. Kamu lagi dimana? Mama mau ketemu sekarang. Ada yang mau Mama bicarakan.” Suara Asya terdengar tegas.

Rey menoleh ke jam tangannya. Ia sudah berjanji pada Jenna—bahkan bisa membayangkan istrinya menunggunya di mall.

“Ma, Rey sebenarnya udah ada janji…” jawab Rey hati-hati.

Janji apa? Sama pasien lagi? Atau siapa?” nada suara Asya terdengar menuntut.

Rey terdiam sejenak. Kalau ia jujur bilang sedang janji nonton sama Jenna, bisa jadi mamanya bakal nyinyir lagi soal Jenna. Tapi kalau ia bohong, hatinya sendiri nggak rela.

Rey… Mama nggak lama kok. Ini penting. Kamu bisa kan ke rumah Mama sebentar?” desak Asya lagi.

Rey menutup mata sejenak, hatinya terhimpit. Dalam pikirannya, wajah Jenna muncul jelas—mungkin sudah duduk di kursi bioskop, menunggu dengan sabar.

Sementara itu, di mall, Jenna sudah tiba. Ia menatap layar ponselnya, menunggu notifikasi dari Rey. Di sekitarnya pasangan muda-mudi tampak berjalan berdua, membuat hatinya sedikit menciut.

.

Rey akhirnya memutar stir mobilnya, mengarahkan ke rumah Asya. Sesampainya di sana, ia sudah berniat cepat-cepat, sebentar ketemu, lalu lanjut ke mall menyusul Jenna.

Namun begitu masuk ruang tamu, ia tertegun.
Ada seorang perempuan duduk manis di sofa, berpakaian rapi, senyum ramah—jelas bukan orang asing bagi keluarganya.

“Mama…” Rey bergumam lirih.

Asya tersenyum, lalu menepuk bahu Rey.
“Rey, kenalin. Ini Nadine, anak temen Mama. Dia juga dokter, sama kayak kamu.”

Rey langsung tercekat. Pandangannya berpindah ke Nadine yang menyodorkan tangan dengan percaya diri.
“Halo, Dokter Rey. Senang akhirnya bisa ketemu langsung. Mama kamu sering cerita tentang kamu.”

Rey hanya menyambut seadanya, sorot matanya dingin.
“Mama…” suaranya menurun. “Rey udah bilang kan, Rey udah menikah.”

Asya mendesah, lalu bersuara lebih lembut tapi penuh desakan.
“Rey, Mama tahu kamu udah menikah sama Jenna. Tapi Mama masih yakin, kamu pantas dapat pasangan yang lebih setara. Mama cuma pengen kamu kenal dulu. Kalau kamu bahagia, Mama bahagia.”

Rey mengepalkan tangannya di sisi kursi. Dalam kepalanya, wajah Jenna kembali muncul—pasti masih menunggu di mall, nggak tahu kalau suaminya sekarang sedang didudukkan di depan perempuan lain.

“Mama apaan sih? Rey gak suka mama ngelakuin hal kayak gini. Rey nggak bisa lama. Rey udah ada janji.” nada suaranya tegas.

“Tapi sebentar aja, Rey. Hargai Mama…” Asya masih menahan.

My Sweet HusbandTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang