Happy Reading...
Skip kamar Adara..
"Aduhh.. Capek banget gue" Adara yang nge banting dirinya dikasur.
"Markas keadaannya bagimana yah?" Adara yang tanya kediri sendiri.
Dret.. Dret..
Suara dering handphone berbunyi menujukan bahwa pesan masuk.
"Alhamdulillah dah.. Kalo markas aman" Adara yang membaca pesan dari grup Mawar Hitam dan mulai mengetik sesuatu disana.
Setelah 10 menit berkutak katik di handphone ia menaruhnya disamping dan ingin memejamkan matanya namun baru saja ingin terpejam ada suara dering telepon masuk dan dia cek tertera nama Ketua 👑🐉⚫. "Ini orang ngk ada kerjaan lain apa?! Gangguin gue mellu dah" Adara yang melemparkan handphone ke meja disamping kasurnya dan memilih untuk mengabaikannya namun, handphone itu berbunyi berkali-kali membuat dia kesal.
"Berisik banget tahu!!" Adara.
"Assalamu'alaikum My Queen"
"Wa'alaikumsalam" Adara menjawab dengan jutek.
"Jutek amat"
"Mau ngomong apa? Gc gue mau istirahat" Adara.
"Gue ngk mau ngomong apa-apa sih. Cuman, kangen dimarahin luh"
"Udh itu ajh? Gue matiin yah teleponnya" Adara.
"Janganlah"
"Yah udh, mau ngomong apa lgi?" Adara.
"Gue cuman ngingetin luh nih? Kalo nanti malam kita makan malam bersama. Jdinya, luh jangan lupa yah untuk dandan yang cantik banget"
"Hmm" Adara.
"Okey.. Bye.. my Queen"
"Suka-suka luh dah.. Dasar Dika jelek bangett" Adara.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam" Adara.
Dering telepon barusan dari seorang Dika yang setiap harinya hobbynya teleponin Adara cuman sekedar menganggunya, giliran di blokir malah ganggu orang sekitar Adara dan teror di medsos.
****
Skip pagi hari...
"Kalo aku pergi boleh ngk?" Pertanyaan Adira sambil menatap jalan biasa yang ia lewatin saat kesekolahnya.
"Pergi kemana? Mau ngapain coba? Kan kita mau sekolah" Naura.
"Pergi.. Kemana yah?(adira menjeda pertanyaannya) kalo aku nyusulin Mamih dan Papih boleh ngk?" Pertanyaan Adira yang membuat Adara dan Naura terdiam membisu.
Beberapa saat kemudian Naura lah yang membuka suara lagi "Luh ngk boleh pergi, luh itu harus bareng-bareng sama kita" Naura.
Terjadi keheningan 5 detik..
"Adara.. Naura.. Terimakasih yah? Kalian itu selalu menjadi yang terbaik, selalu ada disamping aku, selalu menjadi teman curhat aku, dan selalu menjadi garda terdepan buat aku. Pokoknya Terimakasih banyak atas segalanya" Adira yang memegang bahu Naura dan Adara berada di depan.
Akhir setelah 15 menit diperjalan menuju sekolah akhirnya sampai dengan aman...
Kegiatan sekolah pun seperti biasanya, pada saat istirahat tiba kantin rame oleh siswa siswi sekolah Hight School Jakarta. Hingga satu suara yang berat teriak memanggil nama AKRA yang membuat keheningan di kantin.
"AKRAAA"
Suara berat lelaki itu yang sedang berlari kearah meja kantin yang ditempati oleh Akra. "Apaan?" Akra yang menaruh segelas teh dimeja.
"Adira..." Lelaki berbadan gemuk berkacamata yang menampilkan wajah panik.
"Adira kenapa Dodi?" Gibran.
"Adira nangis gara-gara Akbar ngatain Adira itu L0nt3" Dodi. Dodi ini salah satu siswa yang sekelas sama Adira, dan dia disuruh untuk memantau kegiatan Adira termasuk cowok yang menggatal ke cewenya.
"Adira dimana sekarang?" Irssyad.
"Adira dikelas lagi ditenangin oleh Pipit.
Omongan Dodi membuat Akra dan Gibran naik pitam dan berlari begitu saja untuk menyusul Adira dikelas.
***
Skip kelas XI Sastra Bahasa 1B..
"Hey.. Siapa yang membuat kamu nangis seperti ini?" Gibran duduk disebalah bangku Adira yang sudah dipersilahkan oleh Pipit.
"Bang.. Gue dikatain L0nt3 ama Akbar" Adira yang mendongak kepalanya dan memeluk Gibran tanpa permisi lagi.
"Gib.. Jaga Adira, gue mau nyari Akbar dulu" Akra yang naik pitam berjalan keluar kelas XI Sastra Bahasa 1B untuk mencari Akbar.
Akra pun mencari Akbar tak kunjung ketemu dan pada akhir mereka bertemu di lapangan basket.
"AKBAR"
Suara berat itu datang dari arah pintu lapangan basket.
Langkah cepatnya seorang Akra yang sedang naik pitam mendekati Akbar dan tanpa permisi lagi Akra memberi pukulan yang mendarat di rahangnya. Tak tinggal diam Akbar pun membalas pukulan hingga terjadilah pukul-pukulan, sampai guru Bk, satpam sekolah dan Gibran + Irssyad membantu untuk meleraikannya.
"Kalian semua bubar" Pak Andi selaku guru Bk di kelas Sastra Bahasa yang membubarkan siswa siswinya.
"Akra.. Akbar ikut bapak.. keruangan bapak" Pak Andi.
"Hmm" Akra yang sudah berpenampilan seperti orang gila dan wajah penuh luka.
"Kalian juga ikut bapak" Pak Andi yang menunjuk kearah Dika, Rassya, Gibran dan Irssyad.
"Dod.. Ikut kita keruangan bapak Andi" Gibran yang nerangkul Dodi tanpa permisi.
"Gibran.." Dodi yang ketakutan akan sesuatu namun Rassya yang melihatnya paham akan itu.
"Dod.. Ngk usah takut biaya siswa luh dicabut, ada gue ama dika. Luh kan tauh gue siapa disini" Rassya yang menenangkan Dodi yang sedang panik.
Dari kejauhan ada 2 perempuan yamg berdiri dengan wajah shock campur panik tapi, dibalik itu semua ada secuil rasa tersentuh.
"Dek.. Jagain Adira yah? Jangan sampai berita ini naik ke Adara, Naura dan Mili" Dika yang berbisik ke Pipit yang berada di sampingnya.
"Kenapa? Adara dan Naura berhak tauh" Pipit kembali berbisik.
"Dika.. Cepat" Pak Adi yang melihat Dika berhenti.
"Yah pak" Dika.
"Nanti, luh juga tauh Adara, Naura dan Mili itu siapa" Dika yang meninggal Pipit dan Adira. 2 perempuan tersebut adalah Adira dan Pipit.
"Pit.. Bener kata Dika" Adira yang menatap mata Pipit.
"Bener apanya?" Pipit.
KAMU SEDANG MEMBACA
DIKAADARA
Não Ficçãogangs motor yang mencari kemisteriusan pada musuhnya namun mereka terjebak dengan mencintai musuhnya.
