After the End : Overcast

18 2 0
                                        

Katanya, wanita jika sedang rindu ada saja tingkahnya. Misalnya tiba-tiba kesal, sedih, mencari perkara yang menghasilkan pertengkaran. Seperti yang tengah dihadapi Keenan saat ini, setelah panggilan video yang membuat Jingga kesal hingga menangis berakhir, segala pesan yang ia kirim tidak dibalas sama sekali. Kadang, dia juga merasa kesal jika dihadapkan dengan Jingga yang seperti itu. Harus dengan cara apa lagi dia membujuk, sebab, bukan tak ingin dia pulang ke tanah airnya, ke rumahnya sendiri. Namun, kesulitan itu adalah resiko dari langkah yang dipilihnya untuk berkuliah di luar negeri.

Tahun kedua dari pembelajaran tersebut hanyalah permulaan, perjalanannya masih sangat panjang untuk sampai pada impian yang datang di siang bolong saat mengunyah santap siang itu. Kini, solusi yang terpikir hanya mendiamkan gadis itu untuk sementara waktu, membiarkan amarahnya reda, dia yakin setelah itu Jingga akan menghubunginya kembali dengan marah-marah. Dan kalimatnya tentu saja dia hafal, 'Kok gak ngasih kabar? Kamu udah gak sayang aku?'

Sementara itu di dimensi lain, Jingga sepertinya sudah bersiap untuk mengirim pesan pada Keenan. Dia duduk sendiri di depan kelas sambil menatap layar ponselnya, berkali-kali dia mengetik pesan di room chat nya dengan Keenan kemudian menghapusnya kembali. Ia sampai kesal sendiri karena tidak kunjung mendapat kalimat yang pas.

"Still waiting for the London boy?"

Dengan cepat Jingga menoleh pada suara yang tiba-tiba ada di sampingnya. Ternyata dia Laurens, teman sebangku saat SMA.

Jingga mengangguk pelan. "Heuum..." wajahnya memelas seketika.

Laurens cekikikan melihatnya, Jingga yang tak menyangka dengan reaksi tersebut hanya bisa melengos. Terlepas dari perseteruan zaman sekolah menengah atas, keduanya masih berteman baik sampai sekarang. Tak jarang keduanya pergi keluar bersama untuk sekedar makan, nongkrong, atau bahkan mengerjakan tugas meski berbeda jurusan.

"Eh, aku penasaran reaksi dia pas De bruyne keluar dari City," Laurens memulai pembicaraan kembali.

Jika membicarakan hal itu, baru teringat saja sudah membuat Jingga menarik napas panjang. Laurens yang penasaran tentu saja semakin tidak sabar mendengar cerita tersebut.

"Kenapa?" tanya Laurens yang belum apa-apa sudah mulai cengar-cengir.

"Dia langsung kirim announcement nya ke aku, keluarin semua stiker nangis, ngetik sambil marah-marah kayaknya, soalnya banyak yang typo. Abis pengumuman itu, besoknya dia ulang tahun kan, mukanya lemes banget..."

Pecah gelak tawa Laurens setelah Jingga selesai dengan ceritanya, gadis itu tahu tentang Keenan yang begitu mengidolakan pesepakbola asal Belgia tersebut, dan cerita Jingga sangat menggambarkan bagaimana frustasinya Keenan saat De Bruyne meninggalkan klub kesayangannya.

"Kamu jangan gitu, kasian tau..." Jingga mencoba menghentikan Laurens yang tergelak sampai memegang perut.

"Iya, iya... maaf..."

"Lagian kamu kenapa seneng banget dengernya? Bukanya kamu juga suka City? Harusnya kamu sedih dong, fans gadungan ya?"

"Sembarangan!"

Kini Jingga terkikik setelah berhasil meledek Laurens. Sedikit Jingga syukuri kejadian dimana ia dan Laurens berseteru, karena itu mereka menjadi sangat dekat. Laurens pula menjadi sangat cair saat bersamanya, sampai saat ini keduanya bisa saling bercanda. Setiap kejadian pasti ada hikmahnya, Jingga semakin percaya dengan kalimat itu.

"Xavi?"

Satu orang lagi mendekat pada mereka kemudian memanggil Laurens, Jingga yang ada di sebelahnya turut menoleh.

"Oh? Udah selesai?" tanya Laurens pada laki-laki yang memanggil nama depannya itu.

"Udah, mau pergi sekarang?"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 28 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Di Bulan JuniCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang