Malam kita sudah beda
Enam jam lebih cepat bulanku tiba
Kau masih senang di luar
Ku sudah tenang dikamar
Tak Di Tanganku - Juicy Luicy
Dengan gagang sapu yang dipegang erat menjelma sebagai microfon, Jingga mulai bernyanyi dengan lantang tatkala lagu milik grup musik asal Bandung itu terputar. Menghayati setiap lirik sebab lagu tersebut begitu mewakili perasaan dan kisah cintanya. Kisah cinta yang sekali lagi tak terduga bagaimana awalnya itu kini berubah menjadi kisah cinta jarak jauh, begitu jauh sampai-sampai waktu mereka berbeda. Sesuai dengan lagu yang tengah diputar, dia dan Keenan kini berbeda waktu enam jam. Pagi ini di hari minggu, Jingga sudah berkeringat dengan keadaan kamar rapih selesai dibereskan, sementara Keenan masih terlelap dengan selimut yang menggulung seluruh badan.
Melewati segala pertimbangan tentang begitu cintanya laki-laki itu terhadap sepak bola, berakhir dia memutuskan untuk mengambil jalan lain untuk masa depannya. Hari itu di siang hari saat makan siang, Keenan dan Jingga duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan lapang olahraga di sekolah. Menyantap jajanan masing-masing, melihat sibuknya murid lain kesana-kemari mengejar bola. Namun, kejadian tak terduga terjadi. Salah satu dari mereka yang ada di lapang sana terjatuh sampai celananya sobek dan lututnya berdarah.
Keenan beranjak dari duduknya kemudian menghampiri murid yang terjatuh, sementara Jingga duduk menunggu. Tak lama berselang, Keenan kembali duduk di sampingnya.
"Parah gak lukanya?" tanya Jingga.
Keenan menggeleng. "Lecet, masih aman lah."
Jingga mengangguk pelan, mereka kembali mengunyah jajanan yang masih belum habis. Pada saat itu, Keenan akan segera naik kelas menjadi kelas 12, itu artinya dia harus segera memikirkan bagaimana nasib kedepannya? Terlalu terlambat jika dia memikirkan profesi impiannya dari kecil karena sudah sangat jarang berlatih sepak bola. Kemana dia akan melangkah? Pikiran itu sering membuatnya melamun bahkan saat sedang mengunyah.
"A?" Jingga memanggil.
"Hm?" dia menjawab, namun tatapannya masih kosong.
"Mikirin apa sih?" gadis itu kembali bertanya.
"Kira-kira... bisa gak ya aku jadi dokter?" baru setelah itu dia menoleh pada Jingga.
Jingga yang sedikit terkejut dengan pertanyaan Keenan itu tidak bisa menjawab.
"Kenapa? Gak meyakinkan ya?"
"Bukan gitu, cuma... tiba-tiba banget pengen jadi dokter."
Keenan mengangguk paham dengan keterkejutan itu, dia yang apa-apa selalu bola, sepak bola, Manchester City, tiba-tiba ingin menjadi dokter. Namun, Jingga memprediksi satu hal tentang pernyataan yang tiba-tiba itu.
"Kedokteran olahraga."
Dan prediksinya benar. Meski kesannya profesi dokter itu sangat jauh dari kesukaan Keenan terhadap bola, tapi Jingga yakin bahwa laki-laki itu akan mengambil jalan yang berdekatan dengan kesukaannya. Begitu kiranya, awal mereka berbeda negara, waktu, dengan jarak yang sangat jauh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Di Bulan Juni
RomantikPada minggu sore di tepi pantai, pada akhir dari bulan Juni, aku tidak bisa mendeskripsikan perasaan yang terjadi. Netra coklat yang terkena bias mentari berwarna jingga, membuatnya sangat indah, meski aku tak mengenalnya. Tapi semenjak itu, aku ter...
