"Can this warmth last forever?"
'Helen Vristopher'
~Happy Reading~
* * * * *
Dapur sore itu tidak ramai. Tidak juga sunyi. Ada kehidupan kecil yang tumbuh pelan-pelan di antara denting spatula yang menyentuh wajan, uap dari panci sup ayam yang mengepul hangat, dan potongan paprika merah yang diletakkan satu per satu ke atas loyang panggang.
Semua berlangsung seperti tarikan napas yang dalam, tenang, kadang terasa berat, namun tak pernah terputus.
Helen duduk di meja dapur marmer, masih dengan tampilan cantiknya, mengenakan dress kuning bermotif bunganya, dress yang ringan namun tetap membuatnya tampak begitu anggun. Rambutnya dikuncir rendah, beberapa helai terlepas begitu saja, menciptakan kesan lelah yang nyaris manis.
"Yang itu jangan terlalu banyak garamnya, ya," ucap Helen pelan pada Zola, yang saat itu sedang mengaduk saus bolognes di panci kecil.
Zola mengangguk cepat. "Baik, Nyonya. Saya ingat." Lalu dia melirik ke arah Helen sejenak, ragu-ragu sebelum akhirnya bertanya, "Kalau Nyonya sendiri... suka masakan yang manis, atau gurih?"
Helen tertawa kecil. "Aku rasa aku suka apa pun yang dibuat dengan tangan yang tenang."
Di sisi dapur lain, Madam Hazel tengah memotong roti baguette, yang baru keluar dari oven kecil di sudut ruangan. Aroma ragi panggang itu menyusup bersama udara musim semi yang mulai turun lewat jendela, menghangatkan ruangan seperti pelukan tak kasat mata.
"Aku tak menyangka... aku akan nyaman di dapur ini," gumam Helen lebih kepada dirinya sendiri. Tangannya sibuk menata potongan tomat ceri ke piring salad, tapi pikirannya tak sepenuhnya di situ.
Madam Hazel hanya melirik sambil tetap memotong rotinya. "Tempat paling jujur memang dapur, Nyonya. Tak bisa banyak menyembunyikan rasa, seperti hidup juga."
Helen tersenyum. Ada sesuatu dalam kalimat Madam Hazel yang menusuk tepat di bagian hatinya yang selama ini ia pikir sudah begitu lemah akan apa yang telah menimpanya selama ini.
"Kadang," lanjut Madam Hazel pelan, "bukan tempat yang membuat kita tenang. Tapi orang-orang yang didalamnya yang menjadikan tempat itu rumah."
Helen tak menjawab, hanya menunduk lebih dalam. Jemarinya memencet lembut keju feta, menyebarkannya di atas salad dengan gerakan lambat, nyaris seperti menyalurkan pikirannya yang kusut ke dalam makanan.
Lalu suara langkah kaki terdengar. Pelan, pasti, dan dikenalnya dengan baik.
Jack. Pria itu telah kembali.
Tak ada suara pintu terbuka, hingga mengganggu. Hanya aroma parfum mahal khasnya Le Monde Sur Mesure yang mendahului kehadirannya. Pria itu masuk ke dapur tanpa banyak kata, langsung menghampiri meja, dan menarik kursi kayu berposelen di sisi Helen.
Dia tak langsung bicara. Hanya duduk, memerhatikan apa yang ada di atas meja. Salad. Roti. Sup yang mulai tenang dari mendidihnya. Wajah Helen yang tak berias lebih tapi malah begitu bersinar oleh cahaya senja, juga cahaya lampu kian menarik perhatian diam Jack.
"Kau yang buat semua ini hmm?" tanya Jack akhirnya. Menatap dalam wanita kesayangan nan cantiknya di sebelahnya.
Helen menoleh, tersenyum samar. "Kami bertiga. Aku, Zola, dan Madam Hazel. Mereka yang banyak bekerja, aku hanya membantu sedikit."
Zola yang diam-diam mendengar langsung pura-pura sibuk membersihkan loyang. Madam Hazel mengambil kesempatan itu untuk keluar sebentar, pura-pura mengecek oven lain di ruang belakang. Memberi kesempatan keduanya, untuk lebih memperbaiki hubungan mereka berdua.
KAMU SEDANG MEMBACA
GAIRAH TUAN JACK
RomanceWARNING ADULT STORY⚠️ Perselingkuhan sang kekasih dengan sahabat yang sudah di anggap oleh adik sendiri, membawa Helen Vristopher berakhir melakukan first night dengan pria bernama Jackson Taylor. Sang penguasa USA, dengan puluhan perusahaan fashion...
