BAGIAN 34

7.8K 167 1
                                        

MULAI INI TOLONG VOTE BAB YANG DI BACA,
DAN SEKARANG AUTHOR AKAN MULAI MEMPERBAIKI BAB DARI AWAL.
JADI MOHON DUKUNG WALAU HANYA VOTE ITU CUKUP.🙏

~Happy Reading~

*  *  *  *   *

Belaian lembut menyusuri permukaan kulit mulus itu, seolah menelusuri setiap inci dengan rasa lapar yang tak terucapkan.

Jari-jari Jack bergerak perlahan, namun tak kehilangan ketegasannya, menciptakan getaran refleks pada tubuh Helen yang terjerat dalam perangkap hasrat.

Tatapan Jack tajam, menghujam, namun di balik kilatan tajam itu tersimpan kelembutan samar, perpaduan mematikan yang mampu menenggelamkan siapa saja ke dalam palung tergelap miliknya.

Mata hijau Jack, yang tampak berkilau seperti zamrud di bawah cahaya temaram, menatap Helen seolah hendak melumatkan segala pertahanannya.

"I very wanted touch you again, Darling," bisiknya, senyum tipis yang nyaris sinis terukir di sudut bibirnya.

Dengan gerakan pelan namun penuh penguasaan, Jack menangkup dagu Helen, memaksanya menatap langsung ke dalam sorot matanya. Tatapan itu bukan sekadar tatapan. Itu adalah pernyataan, sebuah deklarasi terpendam tentang keinginannya yang nyaris meluap dari batas kendali.

"You feel that?" Ia mendekat, suaranya merendah, serak, namun begitu merasuk ke dalam.

"How big my feel to you." Kata-kata itu bagai belenggu halus, mengikat Helen tanpa ia sadari.

Sentuhan Jack tak berhenti di situ. Ia membiarkan tangannya menurun, menyusup perlahan ke dalam dress lembut yang membungkus tubuh Helen.

Dress itu, semula menjadi pelindung, kini tak ubahnya sekedar kain tipis penghalang antara keduanya. Jari-jarinya menelusup lebih dalam, hingga akhirnya menyentuh kehangatan tersembunyi di balik bra Helen.
Kelenyalan itu—begitu hidup di bawah telapak tangannya—membakar naluri terdalam Jack.

Ia ingin menguasai, ingin memahatkan namanya di setiap inci tubuh wanita ini. Bibirnya mendekat, membisikkan kata-kata yang nyaris terdengar seperti doa penuh hasrat, "You don't know... how I feel now to you." Helen menggigil.

Bukan karena dingin, bukan pula karena rasa malu, melainkan karena gemuruh tak terdefinisi yang menggema di seluruh sel tubuhnya. Hanya dengan sentuhan, Jack mampu meremukkan pertahanannya, dan Helen, meski tahu seharusnya menolak, ia justru membiarkan dirinya terhanyut lebih dalam.

Jari-jari Jack kini memilin lembut bola kenyal milik Helen, membuat wanita itu nyaris terengah dalam dekapannya. Sebuah godaan kecil yang terasa seperti siksaan manis. Helen mencoba menengadah, menatap Jack dengan sorot mata bergetar, seolah ingin berkata bahwa ini bukan tempat yang tepat. Bahwa mereka seharusnya berhenti.

Namun Jack, dengan senyum penuh keangkuhan, hanya terkekeh pelan. Ia tahu betul apa yang dilakukan. Tangannya tetap bertengger, bahkan semakin merapat, seolah menolak memberikan jarak.

"Malu, hmm?~" bisiknya genit, mendekatkan bibirnya ke telinga Helen sebelum memberikan kecupan lembut di sana.

"Biarkan aku yang mengurusmu malam ini, Darling~," janji itu meluncur penuh makna, sebelum akhirnya bibir Jack menemukan sasaran empuknya: bibir Helen.

Ia melumatnya tanpa ampun, menyedot seluruh penolakan yang sempat terlintas di benak wanita itu. Hanya ada satu kebenaran malam ini, Helen adalah milikny seutuhnya.

~

Sementara itu, di dapur yang hangat, dua wanita sibuk berbicara tentang hal yang jauh berbeda.

GAIRAH TUAN JACKCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang