Chapter 38

218 44 10
                                        

Setiap kali Jisoo mengingat kejadian semalam, ia akan berubah kesal. Saat ia mengingatnya, genggaman tangannya mengerat sehingga mematahkan pensil yang dipegangnya menjadi dua. Akibatnya ia menjadi lebih marah lalu membuang pensil tidak bersalah itu ke tempat sampah.

Naskah yang ia pegang di tangan lainnya pun tidak luput dari cengkramannya, membuat naskahnya menjadi lecek, lalu tidak lama kemudian akan berubah menjadi robekan tidak beraturan.

Lisa mengambil kopinya dan berjalan menuju Rose, lalu berbisik, "Dia kenapa?"

"Aku tidak tahu. Ia sudah seperti itu sepanjang pagi. Aku malah ingin bertanya padamu. Bukannya ia kemarin pergi nonton pertunjukanmu?" tanya Rose.

"Setelah penampilanku berakhir, aku berencana mencarinya, tapi ia menghubungiku dan mengatakan kalau ia terpaksa pergi duluan." Lisa dan Rose saling melihat satu sama lain. Rasa penasaran dan dahaga akan gosip terpampang jelas di wajah mereka.

Lisa mendatangi Jisoo dan mengetuk mejanya.

"Apa?" Jisoo mendongak melihat Lisa.

"Cengkram lagi yang keras. Dan kurasa kamu akan mematahkan semua pensil di kotak pensilmu." Lisa menunjuk ke tempat sampah.

Jisoo melihat ke bawah dan mulai menyadari beberapa patahan pensil yang teronggok di dalam tempat sampah. Depresi, ia akhirnya melepas kertas di tangannya. Ia perlu istirahat.

"Apa yang terjadi semalam?" tanya Lisa.

Semangat Jisoo membara saat ia mendongak melihat Lisa. Ia berpikir sejenak sebelum akhirnya berkata, "Tidak ada apa-apa. Aku hanya bertemu teman lama."

Sejarah kelamnya sebagai gadis kecil gemuk tidak boleh diketahui oleh siapa pun.

"Lalu kemana tas pembunuhmu? Kenapa kamu tidak memakainya hari ini?" Jisoo begitu bangga dengan tasnya ketika ia memperlihatkannya pada Lisa, dan Jisoo juga sudah menggunakannya selama seminggu penuh, bukan hanya satu malam.

"Oh, tas itu. Kurasa kamu benar. Tas itu sedikit berbahaya, dan karena aku selalu berada di dekat wanita hamil, aku harus berhati-hati," jelas Jisoo.

Lisa menatapnya dengan curiga, lalu menoleh melihat Rose. Namun Rose hanya mengendikkan bahunya, jelas sekali kalau ia pun tidak percaya pada jawaban Jisoo.

Ring ....

Jisoo mengambil ponselnya dan ketika ia melihat layarnya, wajahnya mengkerut. Ia lalu membawa ponselnya sambil berlari masuk ke dalam ruangan.

"Ada yang mencurigakan!" yakin Lisa.

"Sangat sangat mencurigakan!" Rose setuju sambil mengangguk.

Sementara itu, Jisoo masuk ke dalam ruangan sulih suara yang kosong dan menjawab panggilan yang ia terima dengan tidak berdaya. "Kenapa telepon?"

"Kamu tidak terdengar senang dengan teleponku." Jinyoung menaikkan alisnya sambil duduk nyaman di sofa.

"Jika ada yang ingin dikatakan, katakan saja!" Jisoo menjawab dengan tidak sabar. Memikirkan masa lalunya yang kelam, ekspresi wajahnya menjadi agak aneh.

"Bukan apa-apa. Hanya saja, aku ada di Shanghai dan aku belum pernah pergi melihat-lihat. Jadi apa kamu ada waktu untuk menjadi pemanduku?" Jinyoung tertawa.

"Tidak!" Jisoo menjawab tanpa ragu setitik pun.

"Apa kamu masih marah karena memanggilmu gemuk dulu?" simpul Jinyoung.

"Ternyata kamu pelupa. Kamu bukan hanya melakukan itu," sahut Jisoo kesal. "Kamu bilang aku itu sejenis penyakit dan membuatku percaya kalau aku harus memakan daging angsa supaya bisa sembuh."

RDCABTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang