Bagian 042

267 8 0
                                        

°°°

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

°°°

Aroma darah segar memenuhi ruang bawah tanah yang semalam Rama gunakan untuk mengurung Nadda, empat orang anak buah yang tidak berhasil lolos kabur dari genggamannya sudah tergeletak tak bernyawa di hadapannya. Toro yang sudah ia percaya jadi tangan kanan pun tak luput dari kemarahan Rama.

Pisau yang berlumuran darah setelah aktivitas penusukan yang ia lakukan secara brutal beberapa menit yang lalu dengan cepat ia singkirkan dengan menggunakan plastik khusus untuk selanjutnya ia musnahkan.

Senyum puas menghiasi wajah Rama, jika beberapa jam yang lalu saat diinterogasi dikantor polisi wajahnya dibuat kuyu dan seolah tak tahu kesalahannya sehingga dibawa paksa pihak kepolisian itu. Kini Rama bisa kembali menunjukan wajah penuh kegilaan, apalagi saat mendapati kalau Nadda berhasil kabur darinya.

Rama berbalik dan berjalan keluar dari ruangan itu, dengan langkah yang riang. Ia akan menganggap keberhasilan Farez membawa kabur Nadda dengan memanfaatkan pihak kepolisian adalah salah satu ide yang cukup brilian. Tapi perasaan kesalnya cukup terobati setelah berhasil menghabisi nyawa orang. Mungkin selanjutnya ia akan langsung menghabisi nyawa Farez atau Rizal dengan tangannya sendiri, tanpa melibatkan orang lain.

"Ingat Farez, hidup kamu dan orang terdekatmu tidak akan bisa tenang selama saya masih didunia ini..." Kata Rama sembari menatap pelataran rumahnya yang sangat terlihat sepi itu.

"Saya akan memberikan rasa sakit dan kehancuran seperti yang diterima orang tua saya." Lanjutnya dengan kedua tangan yang terkepal, jangan lupakan senyuman penuh luka yang saat ini menghiasi wajahnya.

Di lain tempat kedua anak buah Rama yang sudah berhasil kabur, memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya di balik pohon yang berada cukup jauh lokasi rumah Rama.

Nafas keduanya hampir habis setelah berlari penuh ketakutan, dan juga menumpang pada truk yang lewat agar bisa segera melarikan diri.

"Gue gak ngira kalau itu orang bener-bener psikopat. Toro pun ikut jadi korban." Kata salah satunya.

"Kita harus pergi jauh dari kota ini. Gue gak yakin kalau dia ngelepasin kita gitu aja." Balas rekannya.

"Tapi gue punya ide lain. Kita harusnya temuin musuh si Rama, kita minta tolong ke dia dan aduin semua rencana sama perbuatan jahat dan gila yang Rama buat."

"Lo gila, yang ada kita juga ikut masuk penjara!"

"Mau kabur jauh juga kalau udah kayak gini, pasti kita bakal jadi buronan juga."

"Ya tapikan... "

"Mending kita masuk penjara, dari pada mati ditangan orang gila kayak Rama. Dosa gue masih banyak, gue gak mau mati dulu."

***

Fandy mengenggam erat tangan kanan Nadda, perempuan itu masih betah memejamkan matanya dari semalam. Pagi ini dokter dan perawat sudah mengecek keadaan Nadda.

Love You MBAK!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang