"Mbak ragu sama aku?!" Pertanyaan yang terlontar dari mulut Farez membuat Vio tersentak, suara Farez terdengar meninggi dari sebelumnya.
Tapi setelah beberapa detik Vio memberanikan dirinya untuk mendongak dan menatap Farez.
"Sejujurnya... iya. Meli...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
°°°
Kedua kelopak mata Nadda perlahan terbuka. Dengan pandangan yang terlihat kabur saat pertama kali membuka matanya. Nadda hanya merasakan sakit yang luar biasa pada kepala dan seluruh badannya.
Bahkan bau anyir darah yang kini menghiasi pelipis, sudut bibir, bahkan dibeberapa sudut lain di badannya dapat Nadda rasakan.
Nadda teringat beberapa jam yang lalu saat ia berjalan pulang setelah membeli nasi goreng yang tidak jauh dari komplek perumahan Farez, sembari menunggu Frenzi pulang les. Ia tahu kalau sekitar perumahan itu cukup sepi untuk perempuan yang berniat keluar sendiri. Apalagi jalanan yang berada diluar komplek juga sepi, mungkin hanya beberapa kendaraan yang lewat dengan jangka waktu yang cukup jauh satu sama lainnya.
Tapi karena Nadda merasa benar-benar lapar, dan Frenzi juga pasti akan lapar saat pulang nanti. Nadda memutuskan untuk memberanikan diri, keluar sendiri guna membeli makan malam.
Namun saat ia akan mencapai pagar masuk perumahan, ada sebuah mobil hitam berkaca gelap tiba-tiba saja berhenti disampingnya dan beberapa detik setelahnya ada yang memaksanya- atau lebih tepatnya menyeretnya masuk kedalam mobil. Setelah ada yang berhasil memukul tengkuknya hingga membuatnya merasakan pusing hebat, namun ia masih dapat setengah sadar.
Namun karena pos satpam yang berjaga komplek juga kebetulan kosong, membuat Nadda sulit meminta bantuan apalagi saat dua orang ber masker hitam dengan pakaian yang juga serba hitam tertutup memukulnya tanpa belas kasih, membuat Nadda memberontak disisa-sisa kesadarannya.
Tapi bukannya bisa lepas begitu saja saat sebelah kakinya menendang salah satu kaki milik dua orang tersebut. Nadda malah dikejutkan dengan satu orang lain yang turun dari mobil dengan tatapan tajam dan bengis.
Bukan hanya perasaan terkejut saja yang kini Nadda rasakan, tapi rasa takut juga langsung menghampirinya saat melihat laki-laki yang beberapa kali membuat masalah dengannya itu turun dan menghampirinya. Tanpa basa-basi telapak tangan keras dan lebar itu menamparnya begitu keras hingga membuat wajahnya menoleh ke samping dengan tiba-tiba.
Tentu saja hal tersebut membuat kesadarannya semakin menipis, Nadda juga dapat merasakan darah mengalir dari sudut bibirnya setelah tamparan keras itu. Bukan sekali melainkan beberapa kali, hingga nyaris membuat tubuh Nadda terhuyung jatuh.
Setelahnya dengan tega laki-laki itu menyuruh dua orang yang tadi masih memegangnya untuk melemparkan tubuhnya kedalam mobil dengan begitu kasar hingga membuat pelipisnya berdarah akibat benturan dengan pintu mobil yang tertutup disisi lain. Dan saat itulah, kesadarannya benar-benar hilang.
Nadda mencoba untuk mendudukkan diri, namun setelah berhasil untuk duduk. Kedua mata Nadda terbelalak saat melihat beberapa lebam di sekitar tangan dan kakinya. Apakah tubuh bagian dalamnya juga ikut lebam? pikirnya saat melihat beberapa luka lebam yang baru ia sadari. Pantas saja seluruh tubuhnya terasa remuk, bukan hanya kepalanya yang terasa pusing dan pandangannya yang sedikit berkunang-kunang.