Bagian 041

317 8 0
                                        

°°°

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

°°°

Farez segera melangkahkan kakinya untuk menyusuri ruangan tersebut dengan langkah pelan dan hati-hati. Baru akan berbelok ke ruangan yang sedikit terang kedua matanya menangkap pintu yang cukup aneh karena dilapisi pintu teralis besi.

Sedikit mempertimbangkan apakah ia harus kembali berjalan atau memastikan terlebih dahulu ruangan apa yang ada dibalik pintu berlapis itu.

Namun baru saja tangannya mencapai gagang pintu, Farez dikejutkan dengan suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya.

Dengan cepat otaknya berpikir, kalau ia kembali ke dapur sepertinya itu bukan pilihan yang tepat sebab bisa saja orang tersebut menuju dapur dan mendapati bahwa sebagian gentengnya terbuka akibat ulahnya.

Jadi Farez memilih untuk mencoba membuka pintu disampingnya dengan segera, namun tetap menjaga agar suara pintu terbuka tidak timbul, Farez dibuat terkejut saat kedua pintu itu terbuka dengan mudah karena baik teralis maupun pintu kayunya tidak terkunci.

Dengan langkah cepat Farez segera masuk kedalam ruangan tersebut lalu menutup pintu teralisnya terlebih dahulu lalu pintu kayunya secara perlahan agar tidak menimbulkan suara. Lalu segera mengunci pintu dalamnya agar bisa sedikit bernafas lega.

Dan benar saja dugaannya suara langkah kaki itu mendekat dan melewati tempatnya bersembunyi. Farez menyandarkan punggungnya pada pintu lalu mencoba mengatur nafasnya, jantungnya terasa ingin copot belum lagi kalau orang tersebut memang berniat menuju ke dapur, bisa-bisa keberadaanya saat ini langsung dicari.

Ketika Farez sudah berhasil menenangkan dirinya, kedua mata Farez menangkap sebuah pintu yang berada di dinding seberangnya walapun ruangannya saat ini gelap akibat tidak ada penerangan, Farez dapat tetap dapat melihat pintu kayu yang cukup mencolok itu.

"Ada ruangan lain?" Gumam Farez. Dengan langkah pelan dan penuh kehat-hatian Farez berjalan mendekat kearah pintu itu.

Diruangannya, Rama menatap jengkel kearah luar rumah dari balik jendela, kenapa bisa sampai saat ini Farez tidak segera datang untuk menyelamatkan Nadda, yang ia sekap sedari tadi. Bukankah perempuan ini juga penting untuk dia. Tapi kenapa sampai selama ini tidak ada tanda-tanda Farez menunjukkan batang hidungnya.

Padahal sedari tadi Rama sudah sangat siap untuk mengabisi bocah bau kencur itu. Kalau ia tidak bisa menghancurkan orang tua Farez setidaknya ia behasil membalaskan dendam orang tuanya dengan cara menghancurkan Farez, dengan begitu Rama yakin kalau orang tua Farez akan ikut hancur ketika melihat anaknya ia hancurkan.

***

Fandy baru akan kembali ke mobilnya setelah berhasil membuat laporan untuk segera menyelamatkan Farez, namun langkahnya terhenti sejenak tepat didepan pintu keluar dari kantor polisi saat mendengar suara panggilan telepon dari dalam sakunya.

Setelah mengecek siapa yang menghubunginya, kedua mata Fandy langsung melebar saat nama Farez yang kini terlihat pada layar ponselnya.

Dengan cepat Fandy segera mengangkat panggilan itu.

Love You MBAK!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang