Bagian 043

822 7 2
                                        

°°°

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

°°°

Sudah hampir satu jam Rizal yang ditemani oleh Fandy mendengarkan penjelasan dari Luki. Setelah selesai meminta keterangan dari Farez, mengenai penculikan Nadda.

Luki langsung meminta keterangan tambahan dari Rizal selaku orang tua dari Farez dan Nadda, serta menjelaskan lebih detail perkembangan kasus ini setelah dua orang buah Rama menyerahkan diri.

"Rama punya backing yang belum bisa kita lacak siapa orangnya. Polisi udah ke tempat kejadian perkara, dan seperti yang sudah dijelaskan oleh dua pelaku yang selamat. Ada empat jenazah yang terbujur kaku dengan beberapa luka tusukan ditubuh mereka. Dan seperti biasa, tidak ada satupun barang bukti atau sidik jari yang tertinggal di TKP, disana benar-benar bersih karena pelaku sangat berpengalaman." Kata Luki kembali menjelaskan.

"Pihak yang melindungi Rama, apa memiliki kemungkinan kalau dia anggota pihak berwajib?" Tanya Rizal memastikan

"Belum bisa dipastikan." Jawab Luki. "Namun dengan adanya kasus pembunuhan baru yang dilakukan Rama. Ini malah membuka peluang besar kami untuk bisa menyelesaikan kasus ini. Dan menjatuhkan hukuman berat bahkan hukuman mati untuk Rama."

"Dikasus penipuan yang dialami Farez kemarin itu, sama sekali gak ada perkembangannya Om. Apa iya kali ini bakal berhasil?" Fandy bertanya demikian karena ia sendiri bahkan sudah pusing mengurus kasus penipuan yang Farez alami, terlalu berbelit-belit namun tidak ada kejelasan.

Padahal bukti yang ia dapat pun lengkap dan jelas. Tapi kenapa pihak yang menangani kasus itu seolah tutup mata, dan bilang kalau buktinya tidak menyukupi. Bahkan ada beberapa file bukti yang hilang atau sengaja terpotong.

"Kalau kali ini kita gak salah langkah kayak sebelumnya, Om yakin kali ini pasti berhasil." Luki menoleh pada keponakannya. "Dan Om butuh kamu dalam menangani kasus ini." Lanjutnya dengan senyum tipis.

***

Wajah bingung terlihat diwajah Clara saat ia mendapati Rian yang kini duduk di salah satu kursi cafe dengan raut wajah yang sedikit suntuk.

"Yan, cafe udah mau tutup. Lo gak pergi?" Kata Clara setelah sampai didepan Rian.

Rian menatap Clara dengan senyum kecil. "Aku sebenernya kangen banget sama kamu Beb Cla... tapi pikiranku lagi penuh banget. Jadi gak ada stok kalimat buat ngerayu kamu." Balasan Rian malah membuat Clara semakin bingung. Kalau bisanya Rian berkata dengan nada jail yang menjurus pada godaan, kali ini nada suara laki-laki itu tampak benar-benar sedang tidak baik-baik saja.

"Ada apasih, lo kenapa?" Tanya Clara, lalu mendudukkan diri dihadapan Rian.

"Pikiranku lagi gak banget de, Beb Cla... masa aku mikir kalau Farez dua-in Mbak Vio." Balas Rian ragu-ragu, tapi sorot matanya terlihat kalau ia sebenarnya takut dengan apa yang baru saja ia katakan.

"Hah? Gimana-gimana?" Clara bertanya dengan wajah yang terkejut. "Lo jangan bercanda ya Yan. Jangan fitnah orang sembarangan." Lanjut Clara tak terima.

"Iya makanya kan aku bilang tadi, kayaknya ada yang salah sama pikiranku."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 29, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Love You MBAK!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang