Glistening Hearts

68 5 0
                                        

Baru-baru ini, Rafayel menempuh perjalanan ribuan kilometer jauhnya untuk mempersiapkan pameran seninya yang akan datang. Agar ia tidak perlu bekerja siang dan malam, Thomas memintaku untuk mengawasinya.

.

.

Pagi-pagi sekali, aku tiba dengan tenang di apartemen Rafayel menggunakan alamat yang diberikan Thomas kepadaku.

Di dalam kamar tidur, Rafayel tertidur lelap dengan bercak-bercak samar berwarna biru kehijauan di bawah matanya. Aku berlutut di samping tempat tidurnya dan menyentuh bercak-bercak itu.

'Dia pasti melukis sampai fajar lagi...'

Rafayel tiba-tiba memegang tanganku, dan dia membuka matanya dengan lesu.

"...!"

Dia terlihat kebingungan sesaat.

"Apakah aku bermimpi...?"

"....Ya. Sekarang tidur lagi."

"Ini mimpi? Keren banget."

Rafayel kembali memejamkan mata. Tepat saat aku mendesah lega, ia tiba-tiba menarikku mendekat, dan aku jatuh di atasnya.

Aku segera mencoba untuk bangun, tetapi dia mendekapku dalam pelukannya.

"Rafayel... Lepaskan..."

"Kenapa? Kamu tamu tak diundang yang menerobos masuk. Karena ini mimpi, aku bebas melakukan apa pun yang aku mau, ya?"

Kata-kata ini membuatku tertegun. Aku berhenti sejenak dari usahaku dan mendongak untuk melihat senyum di matanya.

"Selamat pagi, Miss Bodyguard."

"Kamu cuma pura-pura tidur?"

"Siapa pun akan mengira mereka sedang bermimpi jika mereka membuka mata dan melihat seseorang yang seharusnya berada ribuan mil jauhnya. Aku ingin memastikan apakah ini nyata atau tidak."

"Bagaimana kau akan-ah!"

"Tunggu. Tetaplah bersamaku seperti ini... Untuk sesaat..."

...

Konsekuensi dari tidur adalah sarapan menjadi makan siang.

"Sekarang sudah hampir siang. Kamu tidak bisa melakukan ini lagi besok."

"Melakukan apa?"

Aku mendengar suara Rafayel di belakangku. Tersipu, aku berbalik dan memelototinya.

"....Baunya enak. Kamu pesan apa?" Tanyanya sambil menyeringai

Aku menunjuk iga panggang, ikan kukus, dan udang bawang putih di atas meja.

"Nggak banyak. Cuma Rafayel Rebus, Rafayel Kukus, dan Rafayel Bawang Putih."

"Pestanya luar biasa. Aku merasa sangat dimanja. Sudahkah kau memperluas cakupan tugasmu sebagai pengawalku?"

"Hanya karena bos saya begadang sepanjang malam dan tidak makan. Kalau terjadi apa-apa sama kamu, saya bisa kehilangan pekerjaan. Makanya saya menambahkan pengawasan penuh ke daftar tugas saya."

"....Tiba-tiba aku ingat betapa sibuknya aku beberapa hari terakhir ini. Tanganku terlalu lelah untuk memegang sendok atau garpu. Kalau kamu mau memastikan aku makan, maukah kamu memberi kehormatan...? Kehormatan...? Ah..."

"...Dalam mimpimu!"

Sore harinya, aku menemani Rafayel ke galeri. Sambil ia berbincang dengan kurator, aku berjalan-jalan melihat-lihat.

"Bagaimana menurutmu?" Tanya Thomas

"Cantik sekali. Aku bisa melihat bahwa bingkai setiap karya, pencahayaan, serta dekorasinya, dibuat dengan sangat teliti." Kataku

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 06, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Rafayel's momentsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang