"Siapa itu..."
Rafayel berjalan malas ke arah pintu.
"Jangan khawatir tentang membersihkan ruangan... Aku juga tidak butuh cucianku selesai..."
Suara bel bahkan tidak berhenti ketika dia di depan pintunya.
"Aku seharusnya bilang aku tidak membutuhkan apa pun untuk beberapa saat ke depan-"
Gerutuannya terhenti ketika mendapati aku di balik pintu.
"...Waktu kamu bilang kamu akan ke sini untuk sebuah misi, kamu tidak sedang membicarakan tentang Wanderers, ya."
Rafayel muncul di balik pintu tanpa alas kaki. Kemejanya tidak dikancing.
"Apakah kamu... selalu membukakan pintu untuk orang lain seperti ini?" Omelku
"Hah? Apa aku berpakaian tidak pantas?"
Aku menarik napas dalam-dalam dan dengan cepat mengancingkan kemejanya untuk menutupi dada dan perutnya yang terbuka. Kemudian, aku mendorongnya.
"Penampilan kamu. Itu. Penting!" Ujarku menekan suara tapi perhatian Rafayel tertuju pada apa yang aku bawa
"Sarapanmu enak sekali. Apakah itu untukku?"
Aku menggoyangkan kantong kertas di tanganku, aroma makanan tercium di udara.
"Maaf, ini punyaku. Bukankah kamu biasanya lupa makan saat mengerjakan sesuatu yang berhubungan dengan seni?"
"Ya, jadi ini akan jadi makanan pertamaku dalam dua hari. Kau akan membaginya, kan?"
"Kamarmu tidak digeledah pencuri, kan?"
Ruangan itu benar-benar berantakan. Lembaran kertas berserakan di mana-mana. Aku tidak dapat menemukan tempat untuk berjalan.
Ini adalah pemandangan yang sangat familiar bagiku. Kekacauan yang sama, tempat yang berbeda.
"Kalau mencuri inspirasi itu penting, berarti benar ada pencurinya." Jawabnya asal
"Saat aku mengunjungi museum beberapa hari lalu, aku pikir seseorang menyebutkan tentang penciptaan sebuah mahakarya yang selaras sempurna dengan..."
Aku siap mengomelinya tapi pria ini selalu memiliki alasan untuk menyanggah
"Bahkan anggur terbaik pun butuh waktu untuk menua."
Rafayel duduk bersila di karpet, tanpa basa-basi mengambil kantong kertasku.
"Jangan khawatir, semuanya berjalan cukup baik. Aku tinggal 1% lagi dari selesai, tetapi aku butuh momen yang menentukan."
"Momen penting apa?" Tanyaku
"Tergantung pada keberuntunganku. Seperti croissant yang lezat bisa jadi merupakan 1% yang aku butuhkan."
Rafayel menggigit croissant yang bentuknya sempurna itu, lalu meringis.
"... Mengapa rasanya aneh?"
"Ah, ini rasa keju dan tuna, makanan khas setempat. Beruntunglah kamu memilihnya."
Rafayel melemparkan kembali croissant itu ke dalam tas.
"Oke, itu jelas bukan Croissant. Croissant yang ini tidak punya jiwa."
"Croissant yang punya jiwa hanya ada di film horor. Pindahkan kakimu. Aku ingin duduk di sofa."
Saat itu juga, aku merasakan sesuatu di punggungku. Aku mengeluarkan sebuah apel yang setengah dimakan dengan noda cat biru di atasnya.
"Dari mana ini berasal? Kelihatannya seperti apel yang sedih."
"Salah. Itu melambangkan godaan, dosa asal, dan kebijaksanaan. Itu tidak boleh dimakan untuk saat ini."
KAMU SEDANG MEMBACA
Rafayel's moments
Romancesource: Love and Deepspace Terjemahan pribadi. Tidak mengambil keuntungan apapun dari terjemahan ini. Berisi myths, anecdots, etc yang berkaitan dengan Rafayel. 'MC =Keira Agatha'
