37. Hujan di Kios Bunga

270 42 2
                                        

Hujan sore itu turun begitu tiba-tiba, seperti seseorang yang tiba-tiba jatuh cinta— tanpa aba-aba, tanpa alasan jelas.

Di kios kecil bercat putih di sudut jalan Gangnam-gu, Yoon Lisa merapatkan sweaternya sambil memindahkan pot mawar kecil ke bagian dalam. Aromanya bercampur dengan bau tanah basah, membuat kios itu terasa lebih hangat.

Lisa baru saja selesai mengatur deretan bunga tulip kuning ketika suara langkah cepat mendekat. Pintu kios terbuka, dan seseorang masuk dengan napas sedikit terengah. Rambutnya basah, meneteskan air ke lantai. Hoodie abu-abu yang ia kenakan menempel di tubuhnya, dan sepasang mata besar itu menatap ke arahnya— mata yang seperti menyimpan laut musim dingin.

“Ah… maaf, aku hanya ingin berteduh sebentar,” ucapnya.

Lisa menatap pemuda itu. “Jika ingin berteduh, ya silakan. Tapi hati-hati, jangan sampai bunganya terkena air.”

Pemuda itu tersenyum, menunduk sedikit. “Lim Jungkook.”

Lisa menatap pemuda di hadapannya dengan bingung. “Hah?”

“Itu namaku,” ucapnya sambil mengulurkan tangan, seolah ia sedang memperkenalkan diri di rapat formal, bukan di kios bunga di tengah hujan.

Lisa terkekeh dan menjabat tangannya. “Yoon Lisa.”

Mereka diam beberapa detik, hanya mendengar suara hujan memukul atap seng kios. Lisa tidak tahu harus berkata apa, sementara Jungkook tampak nyaman memandang sekeliling. Matanya berhenti di seikat mawar merah di rak depan.

“Kau yang merangkai ini?” tanyanya.

“Ya. Memangnya kenapa?”

“Bagus. Rapi. Rasanya seperti… jika bunga bisa tersenyum, ini pasti bentuknya.”

Lisa hampir tertawa, tapi menahan diri. “Kau selalu berbicara seperti itu pada orang yang baru kau temui?”

Jungkook mengangkat bahu. “Aku hanya berkata yang kupikirkan. Jika itu terdengar manis, berarti aku memang manis.”

Hari itu hujan reda, tapi Jungkook tetap membeli seikat mawar merah. Katanya, untuk ibunya di rumah.

Keesokan harinya, Lisa berangkat ke sekolah seperti biasa. Ia hampir terlonjak saat melihat Jungkook duduk di bangku belakang kelasnya, mengenakan seragam yang sama.

“Eh?!”

Jungkook melambai. “Pagi, Lisa.”

“Kau… pindahan?”

“Ya. Dari Busan. Mulai hari ini, kita sekelas.”

Dan begitu saja, hari-hari Lisa berubah.

Jungkook selalu muncul di kios bunganya sepulang sekolah. Kadang membeli bunga, kadang hanya duduk dan bercerita. Lisa tahu ia menyukai sepak bola, pandai menggambar, dan punya kebiasaan memakan ramen tengah malam. Jungkook tahu Lisa suka membaca novel di sela-sela bekerja, memelihara kaktus bernama Mr. Green, dan takut petir.

Suatu sore, Jungkook datang sambil membawa kantong kertas.

“Aku bawa camilan,” ucapnya sambil mengeluarkan roti krim. “Kita makan sambil menunggu pelanggan.”

Lisa memutar bola matanya. “Kau tahu ini kios bunga bukan kafe, kan?”

“Tapi ada bunga-bunga cantik dan pemiliknya juga cantik. Sudah cukup untuk disebut kafe romantis.”

Lisa melemparkan sehelai daun ke arahnya.

Musim semi tiba, membawa festival bunga tahunan di taman kota. Lisa mendapat izin dari bibinya untuk menutup kios sehari dan membuka stand di festival.

Jungkook, tentu saja, ikut membantu.

“Tarik napas, keluarkan, senyum,” ucap Jungkook sambil memberikan brosur. “Ingat, bunga itu seperti perasaan. Harus disampaikan dengan tulus.”

Lisa menatapnya heran. “Kau itu membantu atau merayu?”

“Dua-duanya,” jawabnya santai.

Stand mereka ramai dikunjungi. Anak-anak kecil membeli bunga daisy, pasangan muda memilih mawar putih. Di sela-sela itu, Lisa menyadari sesuatu— Jungkook selalu menatapnya saat ia sibuk melayani pembeli, seolah dunia di sekitarnya menghilang.

Suatu sore di bulan Juni, hujan turun lagi. Sama seperti hari pertama mereka bertemu.

Kali ini, Lisa yang datang terlambat membuka kios. Saat tiba, ia mendapati Jungkook sudah di sana, duduk di kursi kecil, merangkai bunga.

“Kau…” Lisa hampir tak percaya.

“Sejak kapan kau bisa merangkai bunga?”

“Sejak lima belas menit yang lalu. Tidak sebagus punyamu, tapi lumayan, kan?”

Lisa menatap buket kecil di tangannya. Mawar merah di tengah, dikelilingi baby’s breath putih, diikat pita biru muda.

“Itu… untuk siapa?”

Jungkook mengangkat buket itu. “Untuk seseorang yang kukenal. Dia gadis dengan rambut hitam pendek, selalu tersenyum walau hari terasa berat, dan membuat hujan terasa hangat.”

Lisa terdiam, jantungnya berdetak lebih cepat dari bunyi rintik di atap seng.

“Aku rasa… aku kenal gadis itu,” ucapnya pelan.

“Jika begitu, tolong sampaikan padanya… aku suka dia,” ucap Jungkook, kali ini menatapnya tanpa senyum main-main.

Hujan terus turun, tapi di kios kecil itu, dunia seakan berhenti. Lisa mengambil buket dari tangannya, lalu tersenyum. “Mungkin… gadis itu juga suka padamu.”

Sejak hari itu, setiap kali hujan turun, Jungkook selalu datang ke kios bunga, membawa cerita baru, lelucon baru, dan kadang-kadang, buket bunga kecil untuk Lisa. Dan setiap kali melihatnya, Lisa merasa seperti sedang menatap musim semi yang datang lebih cepat dari seharusnya.

Karena ternyata, di antara aroma bunga dan suara hujan, cinta bisa tumbuh tanpa mereka sadari.

FIN

Catatan: Halo, rencananya aku bakal sesekali update di lapak ini kedepannya dan semoga kalian suka cp ini.

Btw, aku juga publish cerita baru lainnya, bukan tentang perkpopan tapi di jamin seruuu, yang mau baca boleh liat di profilku ya :3

LA-LA-LOVE Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang