37. Gamara

681 37 3
                                        


"Naya kok bisa sama kamu, Gam? Bukannya kamu lagi di luar kota perjalanan bisnis seminggu, ya?!" ucap Indy ikut mendudukkan pantatnya di sofa single di sebelah kiri tempat calon menantunya duduk.

"Alhamdulillah selesai lebih cepat, Tan." ujar Gama.

Indy memilih tidak bertanya lebih. "Di minum dulu, teh angetnya! Kalian pulang basah kuyup pasti kedinginan biar sedikit ngangetin badan!"

Gama meminumnya sedikit, itu benar mereka kehujanan. Selama 5 menit dalam pelukan itu, tiba-tiba Gama merasakan pelukan itu melemah, ternyata gadis itu pingsan. Gama semakin erat memeluknya dan karna hanya dirinya di pemakaman itu ia pun membuang asal payungnya dan menggendong Naya pergi dari pemakaman itu.

Ada untungnya ia menggunakan supir. Dan sampailah mereka di rumah.

"Tadi pagi Naya pamit ada kelas pagi, itu kenapa Tante kaget kok bisa pulang sama kamu dan pingsan, kehujanan lagi!" ucapnya khawatir.

"Naya pergi ke makam, hari ini nggak ada kelas pagi, Tan." jawab Gama. Oh tentu pria itu tahu jadwal gadisnya jika ia ada perjalanan bisnis seperti ini. Orang tertentu untuk selalu mengawasinya pun ada. Hanya saja Gama tidak pernah membukanya. Bertemu dengan Janu pun Gama tahu, tapi ia tidak ingin menjadi pria yang cemburu buta tanpa mencari tahu maksud mereka bertemu.

Gama tahu selama ini, tapi ia hanya menyimpan untuk dirinya saja. Jikalau Naya tahu, gadis itu pasti tidak akan menyukai apa yang di lakukannya.

"Ke makam siapa?" Indy terkejut.

"Orang tua kandungnya,"

Disini Indy semakin terkejut, setahunya Gama hanya tahu jika Naya bukan anak kandungnya. Siapa dan dimana orang tuanya belum mereka ceritakan detail.

Rupanya wanita itu melupakan dengan siapa ia bicara. Keluarga terpandang kaya raya marga Bagaskara tidak bisa di ragukan.

"Em.. Gam, apa Naya sudah cerita ke kamu soal keluarganya?" tanya Indy menatap penasaran.

"Sebelum Naya cerita, Gama sudah lebih dulu tahu Tan. Dan Gama tidak pernah mempermasalahkan apapun soal silsilah atau pun masa lalu keluarga Naya. Gama menerima Naya sepenuh hati."

"Permisi, Buk. Bibi udah ganti bajunya Non Naya. Dan udah sempet bibi kompres." ucap seorang ART.

"Oh yaudah, biarin dia istirahat dulu."

"Kamu perlu ganti baju juga, Gam. Nanti sakit loh, Tante pinjamin bajunya Papanya Naya ya?" tawar Indy.

Gama menggeleng menolak,"Nggak usah Tan. Saya pulang aja ganti di rumah, nanti saya datang jenguk keadaan Naya."

"Ah, gitu? Ya udah." Gama langsung pamit pulang.

"Sekali lagi makasih ya, Gam. Untung ada kamu!" Gama mengangguk ketika mendapat usapan kecil di bahunya.

Setelah mengantar Gama sampai depan teras rumah. Indy pun langsung menelfon Tomy dan memberi kabar soal Naya.

***

"Loh, Gama kamu kok udah pulang? Ini kenapa pakaian kamu basah sih?" tanya Ifa mendekati anaknya yang baru saja masuk.

"Ah, udah taruh situ aja. Biar Bibik yang bawa ke kemar!" titah Ifa pada seorang supir yang membawa koper.

"Nggak papa, Ma. Aku ke atas dulu," ucapnya hendak berjalan tapi Ifa menahan tangannya.

"Ehhh! Kamu ini cerita dulu, kenapa bisa basah kuyup begini?! Kamu itu kan pakai mobil masak kehujanan."

"Ketemu Naya," ucapnya langsung jalan meninggalkan Ifa yang masih bingung.

"Aku perlu telfon Indy nih, biar pasti!" sambungan telpon terhubung.

Gamara's Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang