Arkhan memperhatikan jendela disampingnya yang menampakan langit kelabu, ini memang sudah sore dan mungkin juga sebentar lagi akan turun hujan.
Ia membuka ponsel hendak menghubungi si kakak kelas, namun sebelum itu yang ditunggu ternyata sudah tiba.
"Khan, sorry kalo agak lama."
"Santai aja," balas Arkha.
"Sebenernya gue gak sekedar ngajak loe nongkrong biasa aja," ucap Hesa.
"Gue juga kepikiran sih, kayanya pembahasan kita gak cukup di bahas kemarin doang," ucap Arkha.
"Tapi sebelum itu, kayanya gue perlu minta maaf dulu sama loe," ucap Hesa.
Arkha memiringkan kepalanya bingung. "Maaf?"
"Gue dapet cerita dari Joan. katanya sehari sebelum camp, loe mau dilempar Heeseung dari rooftop." ucap Hesa.
"Lupain aja, kan loe bukan Heeseung," ucap Arkha.
"Gue cuma gak nyangka dia berani lukain loe juga," ucap Hesa.
"Namanya juga setan kak, dan gue juga kan bantu loe, dia pasti kesel," ucap Arkha.
"Loe masih mau bantu gue, setelah dilukain gitu?" ucap Hesa.
"Gue bukan tipe orang yang gampang ninggalin temenya sendiri," ucap Arkha.
"Dahlah, kita lanjut aja ke pembahasanya,"
Hesa tak lanjut menjawab, ia menoleh ke jendela disampingnya lalu kembali menoleh pada pemuda dihadapanya.
"Satya, Jio sama Niki di culik pake cara yang sama, kepala mereka ditutup pake kain yang ngebuat mereka kesusahan nafas. Beda sama kalian berdua." ucap Hesa.
"Maksud loe... Joan juga dikasih obat gitu," ucap Arkha.
Hesa mengangguk. "Joan sendiri yang cerita ke gue,"
Arkha terdiam sejenak mendengar perkataan Hesa.
"Berarti ada kemungkinan mereka tau kalo Joan juga lumayan banyak tau soal teror ini."
Hesa menghela nafas lalu bersandar pada kursi. "Ini yang gue takutin juga, kalo bener kaya gitu, kita bakal kena penalty,"
"Tapi menurut gue ini emang udah tanggung, kita harus bikin rencana juga kalo ada apa2," ucap Arkha.
"Kita gak bisa buat rencana duluan, harus mereka yang gerak lebih awal," ucap Hesa.
Beberapa menit berikutnya dilalui dengan keheningan.
Arkha mengedarkan pandanganya pada seisi resto, ia salah fokus pada gantungan tas seorang perempuan yang seperti nya anak sekolahan juga.
"Dreamcather,"
Hesa reflek ikut menoleh mengikuti arah pandang si teman.
"Itu barang ritual juga ya,"
"Bukan lah njir," Hesa menatap datar si teman.
"Dreamchater cuma barang hiasan biasa, lebih umum di taro di depan kamar atau jendela soalnya beberapa orang percaya kalo hiasan itu bisa nangkal mimpi buruk," jelas Hesa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Undercover
RandomBermain petak umpet bangunan kosong? Ini ide yang cukup gila namun siapa sangka, permainan ini diwujudkan oleh sekelompok remaja. Hesa serta teman-temanya merencanakan liburan bersama di villa, tak sekedar liburan karna pada malam hari mereka bermai...
