step

11 1 0
                                        

Dug Dug Dug

Bunyi pantulan bola itu membuat Hesa menghentikan sejenak langkahnya, memperhatikan si teman yang asik berlatih sendirian di lapangan.

"Joan,"

Hesa jadi teringat pada penalty yang sempat ia dan Arkha bicarakan, kira2 siapa yang akan mendapat imbasnya? Ia kah atau Joan?

Ketika asik berfikir sambil menonton itu, terasa benda yang tipis dan dingin ditempelkan ke lehernya.

"Kalo mau lukain gue, lukain aja, gak perlu ada urusan sama yang lain," ucap Hesa sembari mendekatkan tangan itu, membuat pisau semakin dekat dan sedikit melukainya.

Pemuda di belakangnya itu malah tertawa dan segera menempelkan plester pada leher Hesa.

"Well, gue minta maaf soal sebelumnya pernah lukain Arkha," ucap Heeseung.

"Tapi gue dateng kesini bukan mau ngajak loe ribut," lanjutnya.

"Terus apa tujuan loe kesini kalo bukan buat bikin keributan," Hesa masih menatap sinis si kembaran.

"Gue cuma mau ngobrol sesuatu sama loe," Heeseung berjalan duluan dan mengisyaratkan Hesa untuk mengikutinya.

Sebenarnya Hesa ragu namun bila sepertinya mereka memang harus bicara di tempat yang lain yang lebih sepi dan tak banyak orang lalu lalang.

Benar saja, Heeseung mengajaknya bicara di depan gudang kosong, Hesa semakin khawatir namun berusaha tetap tenang.

"Loe mau ngomong apa," ucap Hesa.

"Gue kecewa sama loe," ucap Heeseung tanpa basa basi.

"Loe udah lukain temen2 gue di teror kemarin, dan sekarang masih bisa ngomong kaya gitu?!" ucap Hesa.

"Itu beda persoalan, kalo temen2 loe gak luka berarti permainan kita kurang seru kan,"

Hesa mengepalkan tanganya erat, dan langsung melayangkanya pada sosok yang tengah terkekeh itu tapi tentu saja pukulannya dengan mudah ditangkap oleh si kembaran.

"Gue gak masalah kalo loe cerita semua tentang terror sama Arkha supaya kalian bisa kerja sama, diluar itu udah gak bisa gue terima lagi," ucap Heeseung sembari mendorong tangan Hesa yang tadi berhasil ditangkapnya.

"Itu ganggu loe?" ucap Hesa.

Heeseung terkekeh. "Loe udah ngelanggar hal yang udah gue tetapin,"

"Sayang banget karna itu, gue gak bisa ngasih waktu istirahat lebih lama lagi," lanjutnya.

"Gue gak peduli,"

Tak ingin lebih banyak mendengar perkataan setan si depannya ini, Hesa memilih untu segera pergi namun Heeseung menarik lengan nya.

"Gue belum beres ngobrol sama loe," ucap Heeseung.

"Loe pikir, gue dengerin omongan loe," ucap Hesa.

"Gak masalah loe mau denger atau enggak, yang penting gue udah peringatin loe," ucap Heeseung.

Hesa menatap malas si kembaran seraya melepaskan tangan Heeseung yang masih menempel di lenganya.

"Satu fakta yang perlu loe tau, Sakala itu udah mati, dan tetangga loe nyamar jadi dia," ucap Heeseung.

"Gue gak kenal Sakala," ucap Hesa.

"Loe gak bisa bohong sama gue, soalnya gue udah liat loe ngobrol sama anak itu. Sakala yang loe kenal sebenernya Kyungmin dan dia temen gue,"

Hesa sudah benar2 tak peduli dengan yang di katakan makhluk itu, bergegas pergi dan untungnya tak di kejar ataupun di tahan lagi.

"Gak mungkin banget gue percaya omongan setan," ucap nya seraya terus melangkah menuju rooftop.

UndercoverTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang