Bab 27

4.4K 529 17
                                        

Rani tak pernah merasa sebahagia ini bertemu dengan Ika. Dia mengibaskan rambutnya yang setengah kering sambil menggendong Melani ke halaman, mengangkat dagu sombong ke arah Ika yang menyapanya. Kerumunan ibu-ibu di kedai sudah berkurang dan hanya menyisakan tiga orang.

Namun, sesaat bibir Rani mengerucut memandang Guntur yang sibuk seperti biasanya. Apa satu detik pun pria itu tak sempat menatapnya? Setelah satu malaman yang mereka habiskan bersama, bagaimana bisa pria itu tetap bersikap biasa saja??

Guntur bersikap hangat di atas ranjang, tetapi setelah keluar kamar pria itu berubah kembali menjadi Guntur yang lama. Ilmu apa yang digunakan pria itu? Sementara sejak kepergian Guntur pagi-pagi sekali tadi, dia jadi sulit tertidur lagi karena perutnya terus saja teremas dan jantungnya berdebar mengingat malam panjang mereka.

Atau memang Rani yang terlalu banyak berharap Guntur langsung berubah setelah malam pertama mereka? Bukankah banyak pasangan yang malah melakukan KDRT setelah menikah sementara pas masih pacaran selalu sayang-sayangan?

Entahlah, Rani jadi bingung dan kesal sendiri.

Rani menyudahi lamunannya saat seorang ibu dengan kantung belanjaan di tangan mendekatinya.

Ibu tersebut, menoel-noel pipi Melani yang hari ini cantik dengan baju serba kuning. Seraya berkata, "Melani tambah buruk ya sekarang..."

Guntur serta-merta mengangkat wajahnya, dan tepat saja, dia langsung melihat bola mata Rani yang berkilat protes.

"Rani," panggil Guntur langsung membuat istrinya tersebut menoleh.

Istri? Ada suara gaduh di hati Guntur saat mengucapkan itu di kepalanya.

Sedari tadi, Guntur hanya melirik Rani sekilas, matanya seolah tak mampu menatap wanita itu lama-lama. Jika tak ingin mengirimkan sinyal ke otaknya, bahwa ada seorang istri dengan tubuh langsing semampai yang tampak begitu anggun menggendong seorang bayi, dengan senyum mengembang, rambut hitam halus, dan leher jenjang mulus yang menyedot atensi Guntur untuk dicicipi.

Wajah Guntur bertambah keras, merutuki isi otak mesumnya.

Rani mendekat dengan tampang cemberut, sementara ibu tadi sudah berjalan menuju rumahnya.

"Apa Bang?" tanya Rani ketika sudah berada di depan Guntur.

Dahi Guntur berkerut, apa yang harus dikatakannya sebagai alasan? Matanya kemudian berpendar, dan mendapati drum lele. Tangan pria itu lalu langsung merogok ke dalam drum dan mengambil seekor lele.

"Ini. Masak ini."

Air muka Rani langsung berubah histeris. "Ih... nggak ah Bang, lele itu makanannya jorok. Aku nggak suka."

Ika tiba-tiba muncul tertawa dengan tampang begitu menyebalkan menurut Rani. "Kak Rani ini gimana, kalau udah dimasak kan kumannya ilang. Bang Guntur suka lele loh."

Bahu Rani langsung tegang. Sekali lagi celetukan Ika membuat darahnya naik. Atau jangan-jangan Guntur sengaja membuat pancingan seperti ini agar Ika bisa membanggakan diri dia lebih tahu banyak tentang Guntur?!!

Rani menekan keras emosinya meski wajahnya sudah sangat memerah. "Kalau Abang mau, Abang masak aja sendiri. Aku nggak mau masakinnya," ucap Rani menahan jengkel, lalu segera memutar tubuhnya melangkah memutar masuk ke dalam rumah.

Bibir Guntur langsung menipis. Begini memang jika tidak jujur, semua masalah akan merembet ke mana-mana. Guntur mencampakkan kembali lele ke dalam drum air, dan membilas tangannya sebelum menyusul Rani ke dalam rumah.

Rani yang terduduk di kursi ruang tengah sedikit terkejut melihat Guntur yang datang menyusulnya.

"Itu—"

Jejak DustaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang